Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

API-IMA Minta Pemerintah Nilai Adil Agincourt

Kompas.com, 28 Januari 2026, 19:18 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Asosiasi Pertambangan Indonesia atau Indonesia Mining Association (API-IMA) mengajak seluruh pihak terkait untuk menjaga iklim investasi tambang yang berkelanjutan. Tak terkecuali, dalam penilaian terhadap PT Agincourt Resources, perusahaan pengelola tambang emas Martabe di bentang ekosistem Batang Toru, Sumatera Utara.

Ketua Umum API-IMA, Rachmat Makkasau meminta pemerintah melakukan penilaian yang adil terhadap PT Agincourt Resources

Baca juga:

Hal ini mengingat, selama ini, PT Agincourt Resources disebut telah menjalankan kegiatan operasi dengan baik dan memenuhi tata kelola lingkungan yang baik berdasarkan hasil Proper Hijau yang diterima perusahaan.

Rachmat menganggap pemerintah perlu melakukan evaluasi yang mendalam terkait izin usaha pertambangan PT Agincourt Resources. Evaluasi tersebut penting untuk memastikan keberlanjutan perusahaan tersebut. 

“Kami percaya bahwa pemerintah akan melakukan evaluasi lebih detail terkait izin usaha PT Agincourt yang disebutkan akan dicabut," ujar Rachmat dalam keterangan tertulis, Rabu (28/1/2026).

"Perusahaan-perusahaan yang beroperasi dengan baik, mengedepankan aspek-aspek Environmental, Social dan Governance (ESG), serta mematuhi peraturan yang berlaku, termasuk aspek pengelolaan lingkungan hidup - tentunya akan tetap dapat beroperasi. Ini penting untuk memastikan bahwa iklim investasi di sektor pertambangan tetap kondusif," tambah dia. 

Baca juga:

API-IMA minta pemerintah lakukan penilaian terkait Agincourt

Anggota API-IMA disebut menjalankan operasional dengan prinsip GMP dan ESG

Alat berat PT Agincourt Resources membuat jembatan darurat di Sungai Garoga. PT AR mengerahkan 10 unit alat berat untuk membuka akses jalan, helikopter untuk menyalurkan kebutuhan dasar ke wilayah sulit dijangkau, serta Tim Tanggap Darurat (ERT) guna mempercepat penanganan dan dukungan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Tapanuli Selatan.PT AR Alat berat PT Agincourt Resources membuat jembatan darurat di Sungai Garoga. PT AR mengerahkan 10 unit alat berat untuk membuka akses jalan, helikopter untuk menyalurkan kebutuhan dasar ke wilayah sulit dijangkau, serta Tim Tanggap Darurat (ERT) guna mempercepat penanganan dan dukungan bagi masyarakat terdampak banjir bandang di Tapanuli Selatan.

Rachmat menggarisbawahi salah satu persyaratan menjadi anggota API-IMA, yang PT Agincourt Resources tergabung di dalamnya.

Salah satu syarat menjadi anggota API-IMA adalah senantiasa menjalankan kegiatan operasional dengan mengedepankan prinsip-prinsip good mining practice (GMP) dan ESG.

Melalui acara Indonesia Weekend Miner 2026 pada Sabtu (24/1/2026) lalu, Rachmat mendorong anggotanya untuk terus mengkomunikasikan fakta-fakta positif dari praktik-praktik penambangan yang baik.

“Sudah banyak perusahaan yang menjalankan operasional dengan baik dan menerapkan prinsip GMP dan ESG. Kami mendorong perusahaan anggota API-IMA untuk terus mengampanyekan hal-hal positif tersebut agar pandangan masyarakat terhadap industri pertambangan menjadi lebih seimbang,” ucap Rachmat. 

Kata dia, sudah sepatutnya API-IMA dan pemerintah berkolaborasi dalam menjaga investasi pertambangan di Indonesia. Apalagi, pendapatan negara dari sektor pertambangan mineral dan batubara pada tahun 2025 mencapai Rp 138,37 triliun atau melebihi dari target yang dipatok hanya Rp 127,44 triliun.

Baca juga: PT TPL Tanggapi Pencabutan Izin PBPH oleh Presiden Prabowo

Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).KOMPAS.com/YOHANA ARTHA ULY Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria saat ditemui di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Sebelumnya, Chief Operating Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) Dony Oskaria menyampaikan, Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) akan mengambil alih tambang emas Martabe milik PT Agincourt Resources.

Perminas merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang baru dibentuk khusus untuk mengelola industri mineral dalam negeri.

"(Tambang Agincourt dipegang) Perminas. Jadi ada perusahaan mineral nasional kita yang baru kita bentuk," ujar Dony, dilaporkan oleh Kompas.com, Rabu (28/1/2026).

Perminas disebut berbeda dengan Holding BUMN Mining Industry Indonesia (MIND ID) dan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), yang sempat dikabarkan berpeluang mengambil alih tambang emas Martabe. Dony menyebut, Perminas berada langsung di bawah Danantara Indonesia.

"Berbeda, bukan (bagian MIND ID), Perminas itu PT sendiri. PT miliknya Danantara," ucapnya.

Diketahui, PT Agincourt Resources yang berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, termasuk 28 perusahaan yang dicabut izinnya oleh Presiden Prabowo Subianto.

Pencabutan izin tersebut terkait dugaan melakukan pelanggaran hingga memicu banjir bandang di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh.

Baca juga: KLH Sebut 28 Perusahaan yang Dicabut Izinnya oleh Prabowo Terbukti Langgar Aturan

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau