KOMPAS.com -Tinjauan terbaru tentang manfaat kesehatan bambu menunjukkan bahwa tanaman ini layak disebut sebagai superfood.
Sebuah tim peneliti internasional menganalisis berbagai studi terdahulu yang melibatkan campuran uji coba pada manusia dan studi laboratorium untuk menimbang efek-efek yang terkait dengan mengonsumsi tunas bambu yang sering disebut rebung serta produk turunan bambu lainnya.
Menurut peneliti, terdapat banyak manfaat mengonsumsi bambu seperti misalnya peningkatan kesehatan metabolisme dan pencernaan, berkurangnya peradangan dan toksisitas sel, serta penurunan risiko sejumlah penyakit.
"Temuan dari tinjauan sistematis kami, yang mencakup 16 studi, menunjukkan bahwa jika dipersiapkan dengan tepat, konsumsi bambu mungkin memiliki banyak manfaat kesehatan bagi manusia," tulis para peneliti.
Baca juga: Krisis Nutrisi akibat Iklim: Tanaman Makin Berkalori, Kita Makin Rentan
Melansir Science Alert, Rabu (28/1/2026) sudah diketahui sebelumnya bahwa bambu tinggi akan protein dan serat, rendah lemak, serta kaya akan berbagai nutrisi dan vitamin. Namun, ini adalah pertama kalinya semua data ilmiah yang tersedia mengenai bambu dalam pola makan dianalisis secara kolektif.
Salah satu manfaat potensial yang bisa didapatkan dengan menambahkan sedikit rebung ke dalam tumisan adalah peningkatan kontrol glikemik atau pengaturan gula darah, yang dapat menurunkan risiko diabetes atau membantu mengelolanya.
Dalam studi lain yang ditinjau, bambu terbukti memiliki efek meningkatkan probiotik, yang berarti meningkatkan kadar bakteri hidup yang sehat di usus.
Meski disebut superfood, tinjauan para peneliti juga mengakui bahwa terdapat kandungan sianida alami yang berpotensi beracun di dalam bambu. Itu mengapa bambu perlu diolah terlebih dahulu agar racunnya hilang sebelum dikonsumsi.
Peneliti juga menemukan bahwa di beberapa wilayah, tanaman bambu dapat menyerap logam berat seperti timbal dari tanah atau air yang tercemar.
Beberapa studi juga menunjukkan adanya senyawa tertentu salam bambu yang jika dikonsumsi berlebihan atau tidak diolah dengan benar, dapat menghambat penyerapan yodium oleh tubuh. Hal ini bisa menyebabkan kelenjar tiroid membengkak.
"Bambu sudah umum dikonsumsi di beberapa bagian Asia, dan memiliki potensi besar untuk menjadi tambahan yang sehat dan berkelanjutan untuk makanan di seluruh dunia tetapi harus disiapkan dengan benar," kata Lee Smith, seorang profesor kesehatan masyarakat di Universitas Anglia Ruskin di Inggris.
"Berbagai manfaat kesehatan yang kami identifikasi, termasuk potensinya untuk mengatasi tantangan kesehatan modern seperti diabetes dan penyakit jantung, kemungkinan besar disebabkan oleh kandungan nutrisi bambu dan ekstraknya, di mana bambu kaya akan protein, asam amino, karbohidrat, mineral, dan vitamin," terannya lagi.
Baca juga: Tanaman Ternyata Tak Banyak Menyerap Karbon Dioksida, Mengapa?
Tinjauan ini memperkuat potensi bambu, dengan manfaat kesehatan yang sangat banyak dan beragam. Di saat yang sama, jelas bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan mengenai dampak bambu terhadap tubuh kita.
Banyak studi dalam tinjauan ini berukuran relatif kecil atau terbatas pada eksperimen di laboratorium, bukan pada manusia secara langsung.
Studi ini pun diharapkan bisa mendorong penelitian lebih lanjut. Dengan penyelidikan yang lebih besar dan lebih mendalam, kita akan bisa mengetahui seberapa tinggi potensi maksimal dari bambu sebagai sebuah superfood.
"Tinjauan kami menunjukkan janji yang jelas dari bambu sebagai calon superfood, namun masih terdapat celah dalam pengetahuan kami. Perlu uji coba tambahan pada manusia yang berkualitas tinggi sebelum kami dapat memberikan rekomendasi yang pasti," kata Smith.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya