Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Operasi Modifikasi Cuaca Bikin Cuaca Tidak Stabil? BMKG Beri Penjelasan

Kompas.com, 29 Januari 2026, 09:37 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membantah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyebabkan cuaca saat ini menjadi tidak stabil. Hal tersebut disampaikan, merespons beredarnya informasi di media sosial terkait OMC memiliki risiko memicu ketidakstabilan cuaca. 

Selain itu, OMC dinilai membentuk cold poll atau kolam dingin, serta memindahkan atau menumpuk air di wilayah tertentu sehingga mengakibatkan banjir besar dan memberikan rasa aman palsu.

Baca juga: 

"BMKG menegaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca yang dilakukan di Indonesia merupakan upaya mitigasi bencana yang terukur dan berbasis sains. Langkah ini diambil sebagai respons paralel terhadap penurunan daya dukung lingkungan dan meningkatnya ancaman perubahan iklim," tulis BMKG dalam laman resminya, Kamis (29/1/2026).

Operasi Modifikasi Cuaca BMKG bikin cuaca tak stabil?

Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan terukur dan berbasis sains

Menurut BMKG, kolam dingin adalah fenomena meteorologi yang sangat alami. Fenomena ini terjadi ketika air hujan menguap di bawah awan badai, mendinginkan udara, lalu menciptakan massa udara padat yang jatuh ke permukaan.

"Seyogianya, setiap kali terjadi hujan secara alami tanpa campur tangan manusia cold pool pasti terbentuk secara alami. Sehingga mengaitkan fenomena ini sebagai efek samping yang berbahaya dari OMC adalah kekeliruan sains," tambah BMKG.

OMC dengan teknik penyemaian awan tidak menumbuhkan awan baru, melainkan hanya bekerja pada awan yang sudah ada sebelumnya.

Apabila OMC berhasil mempercepat turunnya hujan maka akan membentuk kolam dingin yang identik secara fisik maupun kimiawi dengan yang berasal dari hujan alami.

Baca juga:

Operasi Modifikasi Cuaca pindahkan hujan ke daerah lain?

Menurut BMKG, Operasi Modifikasi Cuaca sama sekali tidak menyebabkan ketidakstabilan cuaca saat ini. OMC disebut bertujuan mencegah banjir.Pexels/Nguyên ?oàn Menurut BMKG, Operasi Modifikasi Cuaca sama sekali tidak menyebabkan ketidakstabilan cuaca saat ini. OMC disebut bertujuan mencegah banjir.

Sementara itu, teknologi yang ada saat ini pun belum mampu menciptakan massa udara dingin dalam skala besar.

"Melalui modifikasi cuaca, manusia hanya memicu proses alami pada awan yang sudah jenuh seperti yang dilakukan melalui modifikasi cuaca di Indonesia, alih-alih membangun sistem pendingin atmosfer raksasa," jelas BMKG.

BMKG turut menanggapi narasi yang tersebar soal OMC hanya memindahkan hujan ke wilayah tetangga dan berpotensi menyebabkan banjir di lokasi tersebut. 

BMKG menggunakan dua metode utama untuk melindungi wilayah strategis. Pertama, jumping process method atau tim OMC mendeteksi suplai awan dari laut seperti Laut Jawa atau Samudera Hindia menggunakan radar, kemudian menyemainya sebelum mencapai daratan agar hujan jatuh di perairan.

Kedua, competition method yakni awan yang tumbuh langsung di atas daratan. Penyemaian dilakukan sejak dini untuk mengganggu pertumbuhan awan, bukan menghilangkan agar tak menjadi awan cumulonimbus yang masif.

"Sehingga OMC dilakukan bukan untuk memindahkan hujan ke pemukiman lain.
Meskipun demikian, BMKG menyepakati bahwa kemampuan lingkungan dalam merespons air hujan yang jatuh menjadi faktor penting terjadi atau tidak terjadinya banjir," tulis BMKG.

Fakta hilangnya sekitar 800 situ di Jabodetabek sejak 1930-an, lanjut dia, menjadi faktor utama kurangnya daerah resapan dan berpotensi menjadi pemicu banjir.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
Tanaman Bisa Berhenti Tumbuh Sementara agar Tetap Hidup Saat Cuaca Ekstrem
LSM/Figur
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau