Tak hanya SpaceX, perusahaan Blue Origin milik Jeff Bezos pun tengah mengembangkan teknologi pusat data AI di ruang angkasa.
Bezos menyatakan bahwa pusat data raksasa berdaya gigawatt di orbit dapat mengalahkan biaya pusat data di bumi dalam 10 sampai 20 tahun ke depan, dengan memanfaatkan energi surya tanpa henti serta memancarkan panas langsung ke luar angkasa.
Baca juga: UNDP: Kesenjangan Pembangunan Antarnegara Bisa Melebar akibat AI
Starcloud yang didukung Nvidia turut memberikan gambaran awal. Satelit Starcloud-1 yang diluncurkan dengan Falcon 9 bulan lalu, membawa Nvidia H100 yakni chip AI paling kuat yang pernah ditempatkan di orbit menjalankan model open source (sumber terbuka) Gemma milik Google.
Google juga mendorong gagasan pusat data berbasis ruang angkasa melalui Project Suncatcher, sebuah upaya riset untuk menghubungkan satelit bertenaga surya yang dilengkapi Tensor Processing Units (TPU) ke dalam awan AI orbital.
Perusahaan tersebut berencana meluncurkan prototipe awal bersama mitra Planet Labs sekitar 2027 mendatang.
ilustrasi google. Elon Musk berencana menempatkan pusat data AI di ruang angkasa dengan ratusan satelit bertenaga surya. Konsep ini diklaim lebih murah dan efisien.Sementara itu, China berencana menciptakan Space Cloud dengan meluncurkan pusat data AI berbasis ruang angkasa dalam lima tahun ke depan.
Kontraktor utama antariksa China, China Aerospace Science and Technology Corporation berjanji membangun infrastruktur kecerdasan digital ruang angkasa dengan kapasitas gigawatt berdasarkan rencana pengembangan lima tahunan.
Sebelumnya, dilansir dari ESG Today, Microsoft mengumumkan perjanjian baru senilai lebih dari enam miliar dollar AS (sekitar Rp 110.759 triliun) dengan penyedia layanan AI berskala besar, Nscale, dan perusahaan investasi industri, Aker.
Baca juga: UN Women Peringatkan, Kekerasan Digital Berbasis AI Ancam Perempuan
Kesepakatan ini akan memberi Microsoft daya komputasi dari proyek infrastruktur AI skala besar yang baru di Norwegia Utara, yang seluruhnya akan ditenagai oleh energi terbarukan.
Perjanjian baru berdurasi lima tahun ini juga akan menyediakan infrastruktur AI yang berkelanjutan untuk seluruh Eropa guna membantu memenuhi permintaan daya komputasi AI yang efisien, terukur, dan berkelanjutan, yang terus meningkat secara eksponensial. Kontrak senilai sekitar 6,2 miliar ini dilaksanakan secara bertahap mulai 2026.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya