Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana

Kompas.com, 1 Februari 2026, 08:11 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bungkil atau limbah padat hasil pengepresan biji (Calophyllum inophyllum) tanaman nyamplung dalam industri biofuel dapat diolah menjadi pakan ternak. Langkah ini bisa mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) metana (CH4) sektor peternakan.

"Nah, menariknya bungkil nyamplung ini, di riset-riset awal kami sebelumnya ternyata bisa menjadi salah satu sumber protein," kata dosen Fakultas Peternakan UGM, Dimas Hand Vidya Paradhipta dalam webinar Pemanfaatan Limbah Industri Biofuel Nyamplung Menuju Hilirisasi, Rabu (28/1/2026).

Baca juga:

Limbah nyamplung bisa jadi pakan ternak ramah lingkungan

Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.Dok. Wikimedia Commons/Shagil Kannur Ilustrasi Calophyllum inophyllum. Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.

Pakan jadi salah satu komponen biaya yang cukup tinggi, atau sekitar 70 persen, untuk peternakan unggas, sedangkan ada 40 persen bagi ruminansia dari total produksi. Kualitas pakan berdampak terhadap kinerja peternakan, antara lain susu dan daging.

Peternak di Indonesia disebut jarang memberikan konsentrat atau pakan tambahan yang kaya nutrisi. Opsi konsentrat dengan sumber protein di Indonesia tidak terlalu banyak sehingga perlu adanya pakan alternatif baru bagi peternak dan industri.

Mencari pakan yang secara natural mengandung metabolit sekunder menjadi tren di sektor peternakan saat ini, yang mana banyak ditemukan dari hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Kadar metabolit sekunder berlebihan pada ternak justru akan menjadi toksik, menyebabkan penurunan performa dan keracuranan. Kadar metabolit sekunder pada ternak harus proporsional juga berdampak terhadap penurunan emisi gas metana.

Dengan menekan emisi metana melalui pakan dari olahan bungkil nyamplung, sektor peternakan di Indonesia dapat menjadi ramah lingkungan, selaras dengan tren di Eropa. Peternakan termasuk salah satu sektor yang menyumbang emisi metana terbesar.

Dimas menuturkan, bungkil nyamplung ternyata juga punya kandungan senyawa metabolit sekunder.

"Jadi,tidak hanya di minyaknya, tapi di limbahnya pun masih mengandung beberapa senyawa metabolit sekunder, seperti tanin, saponin, fenol, dan flavonoid," kata Dimas.

Baca juga:

Tingkatkan kualitas daging, tekan metana

Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.KOMPAS.com/Nur Rohmi Aida Limbah biofuel nyamplung bisa diolah jadi pakan ternak kaya protein. Riset UGM menunjukkan pakan ini mampu menekan emisi metana.

Dimas menyampaikan, pengembangan pakan dari olahan bungkil nyamplung yang natural tanpa aditif dapat menurunkan emisi gas metana pada sektor peternakan.

Ketika dibandingkan dengan pakan alternatif lain dari bungkil kelapa sawit, kopra, daun lamtoro, dan malapari, nyamplung menghasilkan emisi gas metana terendah.

Berdasarkan hasil uji in vivo pada domba, pakan dari olahan bungkil nyamplung dapat meningkatkan persentase karkas dan lemak marbling pada daging.

Pakan dari olahan bungkil nyamplung juga meningkatkan kandungan asam lemak tak jenuh dalam daging, yang dapat meningkatkan kualitas dan potensi manfaat kesehatan daging.

"Ini mampu menurunkan emisi gas metana karena mereka bisa memodifikasi fermentasi yang ada di dalam ruminansia. Nah, inilah yang menyebabkan kita kok kayak prospek ini untuk kemudian dikembangkan menjadi salah satu pakan alternatif," tutur Dimas.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau