Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Beri Ternak dengan Rumput Laut Bisa Kurangi Emisi Metana Hampir 40 Persen

Kompas.com, 4 Desember 2024, 14:17 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Rumput laut sekali lagi menunjukkan harapan untuk membuat peternakan sapi menjadi lebih berkelanjutan.

Sebuah studi yang dilakukan peneliti University of California Davis, di California menemukan bahwa pemberian suplemen rumput laut dalam bentuk pelet pada ternak sapi yang digembalakan dapat mengurangi emisi metana hingga hampir 40 persen.

Pemberian rumput laut ini disebut peneliti juga tidak akan memengaruhi kesehatan atau berat badan mereka.

Baca juga:

Studi tersebut dipublikasikan pada tanggal 2 Desember di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Studi juga merupakan penelitian pertama yang menguji rumput laut pada ternak sapi yang digembalakan di dunia.

Metana dari Ternak

Dikutip dari Phys, Rabu (4/12/2024) ternak menyumbang 14,5 persen dari emisi gas rumah kaca global dengan porsi terbesar berasal dari metana yang dilepaskan hewan saat mereka bersendawa.

Ternak yang digembalakan menghasilkan lebih banyak metana daripada sapi perah karena mereka memakan lebih banyak serat dari rumput.

"Sapi hanya menghabiskan sekitar 3 bulan di tempat penggemukan dan menghabiskan sebagian besar hidupnya mencari makan di padang rumput dan menghasilkan metana," kata Ermias Kebreab, penulis studi ini.

"Kita perlu membuat tambahan pakan lain yang lebih mudah diakses dan membuat peternakan sapi lebih berkelanjutan sekaligus memenuhi permintaan global akan daging," katanya lagi.

Dalam studi ini peneliti membagi peneliti membagi 24 sapi potong (campuran ras Angus dan Wagyu) menjadi dua kelompok.

Satu kelompok menerima suplemen rumput laut, dan kelompok lainnya tidak. Para peneliti melakukan percobaan selama 10 minggu di sebuah peternakan di Dillon, Montana.

Peneliti menemukan, ternak yang merumput dan memakan suplemen rumput laut menghasilkan pengurangan emisi hampir 40 persen.

Baca juga:

"Metode ini membuka jalan untuk membuat suplemen rumput laut tersedia dengan mudah bagi hewan yang sedang merumput," kata Kebreab.

Kebreab menambahkan peternakan pastoral yang mencakup sistem penggembalaan besar, mendukung jutaan orang di seluruh dunia.

Namun peternakan itu sering kali di daerah yang rentan terhadap perubahan iklim. Ini mengapa studi mencoba menemukan solusi untuk membuat penggembalaan ternak lebih baik bagi lingkungan dan berperan dalam memerangi perubahan iklim.

Profesor UC Davis dan Cooperative Extension Specialist Alison Van Eenennaam, mengatakan pendekatan tersebut merupakan yang paling menjanjikan untuk memenuhi permintaan daging global sekaligus membatasi emisi gas rumah kaca.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau