Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harimau Mangsa Ternak di Aceh Tenggara, Tim Gabungan Intensifkan Patroli

Kompas.com, 11 Juni 2025, 08:15 WIB
Yunanto Wiji Utomo

Editor

KOMPAS.com - Tim Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan mitra meningkatkan patroli mencegah gangguan atau interaksi negatif Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kabupaten Aceh Tenggara.

Kepala Bidang Teknis Konservasi BBTNGL Andrinaldi Adnan di Banda Aceh, Selasa, mengatakan patroli dilakukan menyusul adanya gangguan satwa dilindungi tersebut terhadap ternak masyarakat di Desa Gulo, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara.

"Tim BBTNGL bersama BKSDA Aceh dan mitra terus berpatroli untuk memastikan harimau yang dilaporkan memangsa ternak warga tidak kembali, serta memastikan satwa dilindungi tersebut kembali ke habitatnya," kata Andrinaldi Adnan.

Sebelumnya, kata dia, petugas Resor Pulo Gadung Taman Nasional Gunung Leuser menerima laporan masyarakat ada ternak sapi dimangsa Harimau Sumatera di perkebunan karet Desa Gulo, Kecamatan Darul Hasanah, Kabupaten Aceh Tenggara, pada Selasa (7/6/2025).

Ia mengatakan lokasi ternak sapi dimangsa harimau tersebut berada di luar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Lokasi kejadian berjarak sekitar dua kilometer dari pemukiman penduduk.

Baca juga: Apakah Melindungi Harimau di Hutan Bisa Atasi Perubahan Iklim?

Selanjutnya, kata Andrinaldi, BBTNGL berkoordinasi dengan BKSDA Aceh selaku pihak berwenang dalam penanganan interaksi negatif satwa liar dengan manusia menindaklanjuti laporan tersebut.

Tim BBTNGL dan BKSDA Aceh bersama mitra kerja turun ke lokasi kejadian. Di lokasi kejadian, tim menemukan sisa bagian tubuh sapi yang diduga menjadi mangsa harimau. Tim juga mengobservasi sekitar lokasi guna melacak keberadaan satwa dilindungi tersebut.

"Selain patroli, tim juga mengedukasi masyarakat dalam mencegah interaksi negatif Harimau Sumatera, termasuk memfasilitasi masyarakat terutama pemilik ternak membuat kandang anti-harimau," katanya seperti dikutip Antara, Selasa (10/6/2025).

Andrinaldi mengimbau masyarakat yang berada di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser tidak melepasliarkan hewan ternak mereka tanpa pengawasan. Hal tersebut untuk mencegah interaksi negatif satwa liar tersebut.

"Kami juga mengharapkan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Leuser untuk bersama-sama menjaga kelestarian satwa liar, khususnya Harimau Sumatera, sebagai titipan anak cucu kita," kata Andrinaldi Adnan.

Berdasarkan daftar kelangkaan satwa dikeluarkan lembaga konservasi dunia International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN), Harimau Sumatera merupakan satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera dan berstatus spesies terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Baca juga: Palem Raja Ampat Sudah Critically Endangered, Kini Tambang Datang Menghantam

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Robot AI Diperkirakan Bisa Lebihi Jumlah Pekerja Manusia
Robot AI Diperkirakan Bisa Lebihi Jumlah Pekerja Manusia
LSM/Figur
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Nasib Dugong dan Penyu Makin Suram
Dampak Konflik AS-Israel Vs Iran, Nasib Dugong dan Penyu Makin Suram
LSM/Figur
Budi Daya Maggot, Kualitas Pakan Berdampak pada Emisi CO2 dan Produksi Protein
Budi Daya Maggot, Kualitas Pakan Berdampak pada Emisi CO2 dan Produksi Protein
LSM/Figur
Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal
Daya Rusak Spesies Invasif Ternyata Jauh Melampaui Kepunahan Lokal
LSM/Figur
Garis Putih di Belakang Pesawat Bisa Picu Pemanasan Global, Ini Cara Menguranginya
Garis Putih di Belakang Pesawat Bisa Picu Pemanasan Global, Ini Cara Menguranginya
LSM/Figur
Pekerja Makin Minat Microshifting dan Tinggalkan Jam Kerja 9-to-5
Pekerja Makin Minat Microshifting dan Tinggalkan Jam Kerja 9-to-5
LSM/Figur
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Musim Kemarau Bikin Kering Daratan, tapi Jadi Berkah di Lautan
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
Produktivitas Pekerja Turun Saat Cemas Tak Bisa Beli Makan untuk Bertahan Hidup
LSM/Figur
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
Nanoplastik Berisiko Bikin Sayuran Ini Terkontaminasi Logam Beracun
LSM/Figur
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
Masa Depan Roti Ramah Lingkungan Tergantung Rasa dan Harga
LSM/Figur
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau