Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Fenomena Gletser yang Mencair Tarik Banyak Wisatawan, Mengapa Begitu?

Kompas.com, 10 Februari 2026, 21:05 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Fenomena mencair dan menghilangnya gletser di seluruh dunia justru makin menarik wisatawan dibandingkan sebelumnya.

Studi baru yang disusun bersama oleh antropolog Rice University, Cymene Howe pun meneliti mengapa fenomena ini bisa terjadi.

Diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, makalah ini menyebut hal tersebut terjadi karena bukan hanya karena keindahannya, di era perubahan iklim, gletser tak sekedar bongkahan es yang bagus di foto tapi juga simbol kerapuhan bumi.

Studi ini mengungkapkan gletser kini memainkan banyak peran sekaligus, sebagai lanskap yang rapuh, mesin ekonomi, dan titik fokus kesadaran iklim, yang juga seringkali menciptakan ketegangan antara konservasi, mata pencaharian, dan tanggung jawab lingkungan.

"Hilangnya gletser secara global adalah alasan bagi kita untuk berduka sekaligus menghargai dan merayakan keberadaan gletser selagi masih ada. Tapi kita tidak boleh hanya melihat pencairan es sebagai fenomena alam biasa melainkan sebagai akibat langsung dari aktivitas manusia," ujar Howe.

Baca juga: Ilmuwan Simpan Es Gletser Kuno di Antartika, Jadi Arsip Es Pertama di Dunia

Tarik lebih banyak wisatawan

Melansir Phys, Senin (9/2/2026) secara global, gletser yang paling banyak dikunjungi di dunia kini menarik lebih dari 14 juta wisatawan setiap tahunnya, catat para penulis.

Meskipun pariwisata telah lama menjadi bagian dari lanskap gletser, perubahan iklim telah mengubah lingkungan es tersebut menjadi simbol kehilangan dan menjadi destinasi yang para peneliti sebut sebagai 'wisata kesempatan terakhir' (last-chance tourism), di mana pengunjung bergegas untuk melihat gletser sebelum mereka menghilang.

Lonjakan tersebut membawa beban emosional. Pengunjung sering kali merasakan sensasi duka ekologis saat mereka menyaksikan es yang menyusut, lanskap yang berubah, serta pengikisan warisan budaya dan lingkungan yang terikat pada gletser tersebut.

Studi tersebut menyoroti bagaimana respons emosional ini telah melahirkan ritual baru dan bentuk keterlibatan lainnya, mulai dari pusat informasi pengunjung yang edukatif hingga upacara publik untuk meratapi gletser yang telah hilang.

Dalam beberapa kasus, gletser bahkan telah menjadi titik kumpul bagi aktivisme iklim dan perubahan kebijakan, berfungsi sebagai bukti nyata dan kasatmata dari pemanasan global.

Di saat yang sama peneliti memperingatkan bahwa banyak strategi adaptasi yang didorong oleh pariwisata justru bisa merusak lingkungan lebih jauh.

Misalnya saja seperti menutupi gletser dengan kain pelindung, memperluas infrastruktur, atau meningkatkan akses helikopter mungkin dapat mempertahankan akses pengunjung untuk sementara, namun di sisi lain justru meningkatkan emisi karbon, degradasi lingkungan, atau ketimpangan ekonomi.

"Kita selalu berharap bisa memperbaiki masalah lingkungan dengan mudah, namun sering kali hal itu memerlukan perubahan sistemik dan infrastruktur yang besar. Pariwisata gletser yang memfasilitasi akses ke lokasi-lokasi megah ini justru sering kali menjadi bagian dari masalah ekonomi bahan bakar fosil yang mempercepat kematian gletser tersebut," ujar Howe.

Baca juga: Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?

Mengelola pariwisata gletser

Di banyak wilayah, keuntungan dari pariwisata gletser mengalir ke operator luar, sementara masyarakat di sekitarnya menghadapi risiko yang semakin besar terkait dengan kelangkaan air, bencana alam, dan ekonomi pariwisata yang tidak stabil.

Para penulis peneliti pun menyerukan akan adanya lebih banyak penelitian dan kebijakan yang lebih bijaksana tentang bagaimana pariwisata gletser dikelola di dunia yang memanas.

Itu termasuk memusatkan perhatian pada komunitas lokal, mengatasi masalah keadilan lingkungan, dan memikirkan kembali model pariwisata yang bergantung pada lanskap yang menghilang.

Gletser menyediakan air bagi kita, dan mereka adalah habitat bagi makhluk biasa dan luar biasa. Dan kehancuran mereka bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Masih ada kesempatan untuk menghentikan "kematian" gletser tersebut.

Akhirnya, studi menunjukkan bahwa tantangannya bukan hanya bagaimana kita menyaksikan kehilangannya, tetapi bagaimana memastikan bahwa rasa duka, kesadaran, dan pariwisata tidak mempercepat kekuatan yang justru menyebabkan kepunahan gletser tersebut.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau