Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Gletser di Bumi Bisa Mencair akibat Pemanasan Global?

Kompas.com, 2 Januari 2026, 19:57 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di antara gletser yang ada di dunia, peneliti menemukan, Pegunungan Alpen di Eropa dapat bisa mencapai kehilangan gletser tertinggi antara tahun 2033 hingga 2041.

Pada tingkat global, tingkat maksimum hilangnya gletser diperkirakan terjadi sekitar 10 tahun kemudian, serta dapat meningkat dari sekitar 2.000 menjadi sebanyak 4.000 gletser yang menghilang setiap tahunnya.

Baca juga: 

Besarnya pemanasan global akan menentukan apakah periode ini menjadi momen ketika lebih banyak gletser yang lenyap dibandingkan waktu-waktu lainnya.

Temuan tersebut merupakan hasil studi sebuah tim peneliti internasional dari ETH Zurich, Institut Federal Swiss untuk Penelitian Hutan, Salju, dan Lanskap (WSL), dan Vrije Universiteit Brussel.

Dalam studi ini, mereka menghitung untuk pertama kalinya berapa banyak gletser di seluruh planet yang menghilang setiap tahun, berapa banyak kemungkinan yang akan bertahan hingga akhir abad ini, serta berapa lama gletser dapat diharapkan untuk bertahan.

“Untuk pertama kalinya, kami telah menetapkan tahun-tahun kapan setiap gletser di bumi akan menghilang,” kata penulis utama studi tersebut, Lander Van Tricht, dikutip dari SciTechDaily, Jumat (2/1/2026).

Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.Dok. Freepik/wirestock Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.

Sebelumnya, sebagian besar studi berfokus pada berapa banyak total massa es dan luas permukaan yang hilang. Sebaliknya, tim yang dipimpin ETH Zurich berkonsentrasi pada jumlah gletser yang menghilang, di mana letaknya, dan waktu menghilangnya.

Studi yang kemudian dipublikasikan di Nature Climate Change ini menunjukkan bahwa wilayah dengan banyak gletser kecil di ketinggian yang relatif rendah atau dekat dengan khatulistiwa sangat berisiko.

Kelompok ini termasuk di Alpen, Kaukasus, Pegunungan Rocky, dan sebagian Andes dan pegunungan Afrika yang terletak di lintang rendah.

“Di wilayah ini, lebih dari setengah dari semua gletser diperkirakan akan menghilang dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan,” kata Van Tricht. 

Baca juga:

Studi ungkap kapan gletser bisa hilang

Adakah gletser yang berhasil diselamatkan?

Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.UNSPLASH/RICH MANALANG Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.

Lantas, berapa banyak gletser yang dapat diselamatkan dalam berbagai skenario pemanasan global?

Kecepatan penyusutan gletser sangat terkait dengan tingkat pemanasan global. Untuk mengeksplorasi hal ini, para peneliti menggunakan tiga model gletser global mutakhir dan menguji beberapa skenario iklim masa depan yang berbeda.

Untuk Pegunungan Alpen, mereka menemukan bahwa jika pemanasan dibatasi hingga 1,5 derajat celsius, 12 persen gletser kemungkinan masih akan ada pada tahun 2100.

Kendati demikian, jika pemanasan naik dua derajat celsius maka persentasenya turun menjadi sekitar delapan persen atau tersisa 270 gletser. 

Selanjutnya, pada kenaikan suhu empat derajat celsius, hanya sekitar satu persen atau 20 gletser yang diproyeksikan akan tetap ada.

Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.Ram samudrala via WIKIMEDIA COMMONS Pegunungan Andes di Amerika Selatan. Studi mengungkap Pegunungan Alpen berpotensi mengalami kehilangan gletser tertinggi di dunia akibat pemanasan global.

Sementara itu, di wilayah pegunungan utama lainnya, salah satunya di Pegunungan Rocky, sekitar 4.400 gletser masih akan tersisa 25 persen dari sekitar 18.000 gletser saat ini dalam skenario suhu 1,5 derajat celsius.

Namun, pada kenaikan suhu empat derajat celsius, hanya sekitar 101 gletser yang akan tersisa atau kehilangan sebesar 99 persen.

Di Andes dan Asia Tengah, sekitar 43 persen gletser akan bertahan pada kenaikan suhu 1,5 derajat celsius.

Namun, dalam skenario kenaikan suhu empat derajat celsius, gambaran berubah secara drastis. Di Andes bakal hanya sekitar 950 gletser yang tersisa, hilang sebesar 94 persen. Sementara itu, di Asia Tengah, sekitar 2.500 gletser akan tersisa, menurun hingga 96 persen.

Baca juga: Pencairan Gletser Ubah Lanskap Dunia, Ini Temuan Baru Ilmuwan

Secara keseluruhan, proyeksi menunjukkan dengan pemanasan global empat derajat celsius, hanya sekitar 18.000 gletser yang akan bertahan di seluruh dunia.

Sementara itu, dengan kenaikan suhu 1,5 derajat celsius, sebanyak 100.000 gletser di dunia akan bertahan.

Studi ini juga memperjelas bahwa jumlah gletser menurun di mana-mana dan tidak ada yang wilayah yang tidak terdampak terhadap penurunan jumlah gletser.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau