Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan

Kompas.com, 18 Februari 2026, 21:48 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut badan PBB tersebut, risiko seorang perempuan yang meninggal akibat penyebab terkait kehamilan dan persalinan sebanyak lima kali lipat lebih tinggi terjadi di negara konflik dibandingkan dengan perempuan yang tinggal di negara stabil.

Baca juga: 

Pada tahun 2023, diperkirakan 160.000 perempuan meninggal terkait masalah kehamilan dan persalinan yang sebenarnya dapat dicegah di wilayah yang rentan dan terdampak konflik, dilansir dari keterangan resmi PBB, Rabu (18/2/2026).

Artinya, enam dari 10 kematian ibu di seluruh dunia terjadi di wilayah itu, padahal negara-negara tersebut hanya menyumbang sekitar satu dari 10 kelahiran hidup secara global.

Angka kematian ibu di negara yang dilanda konflik

Kesenjangan yang mencolok

Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan WHO.FREEPIK Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan WHO.

Ringkasan teknis terbaru ini menawarkan analisis mengenai alasan mengapa perempuan hamil yang tinggal di negara-negara tertentu lebih berisiko meninggal saat melahirkan.

Laporan juga mengonfirmasi apa yang telah disaksikan oleh banyak praktisi di lapangan: Krisis menciptakan kondisi ketika sistem kesehatan tidak dapat secara konsisten memberikan perawatan yang menyelamatkan nyawa.

Laporan menyebutkan pula bahwa nasib perempuan hamil di wilayah konflik jadi makin berbahaya karena gabungan berbagai masalah, seperti jenis kelamin, suku bangsa, usia, dan status mereka sebagai pengungsi.

Hal itu termuat dalam ringkasan yang disusun bersama oleh WHO serta badan-badan PBB lainnya, seperti UNDP, UNFPA, UNICEF, dan Bank Dunia.

Perbedaan risikonya sangat mencolok. Sebagai gambaran, seorang remaja perempuan berusia 15 tahun yang tinggal di wilayah perang memiliki risiko satu banding 51 untuk meninggal karena persalinan sepanjang hidupnya.

Sementara itu, bagi remaja perempuan di negara yang aman dan stabil, risikonya jauh lebih kecil yaitu hanya satu berbanding 593.

Negara yang dilanda perang mencatat rata-rata 504 kematian ibu untuk tiap 100.000 kelahiran. Di negara yang tidak stabil, tapi tidak perang, angkanya 368 kematian.

Sebaliknya, di negara-negara yang aman dan stabil, angkanya jauh lebih rendah yaitu hanya 99 kematian.

Temuan ini melengkapi laporan tahun lalu, yang menunjukkan bahwa kemajuan dunia dalam menyelamatkan nyawa ibu hamil ternyata jalan di tempat. Angka kematian ibu masih sangat tinggi di negara miskin dan daerah konflik.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
Studi Ungkap 28 Kebijakan Iklim Efektif Kurangi Emisi, Mana yang Terbaik?
LSM/Figur
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
Banyak Negara Gagal Penuhi Target Pengurangan Risiko Pestisida PBB
LSM/Figur
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
Aktivitas Fisik Jadi Upaya Adaptasi Perubahan Iklim, Ini Alasannya
LSM/Figur
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
United Tractors Dapat 2 Penghargaan pada Peringatan Bulan K3 Nasional 2026
Swasta
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
Kesepakatan Impor Migas RI-AS Dinilai Berisiko bagi Ketahanan Energi Nasional
LSM/Figur
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
Panas Ekstrem Bisa Batasi Aktivitas Manusia, Lansia Paling Terdampak
LSM/Figur
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
SOBI dan Parongpong RAW Lab, Bantu Masyarakat Ubah Sistem Pangan dan Olah Limbah
Swasta
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
65.000 liter Bahan Kimia Alkali Dituang ke Laut untuk Hadapi Pemanasan Global
Pemerintah
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau