KOMPAS.com - Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Menurut badan PBB tersebut, risiko seorang perempuan yang meninggal akibat penyebab terkait kehamilan dan persalinan sebanyak lima kali lipat lebih tinggi terjadi di negara konflik dibandingkan dengan perempuan yang tinggal di negara stabil.
Baca juga:
Pada tahun 2023, diperkirakan 160.000 perempuan meninggal terkait masalah kehamilan dan persalinan yang sebenarnya dapat dicegah di wilayah yang rentan dan terdampak konflik, dilansir dari keterangan resmi PBB, Rabu (18/2/2026).
Artinya, enam dari 10 kematian ibu di seluruh dunia terjadi di wilayah itu, padahal negara-negara tersebut hanya menyumbang sekitar satu dari 10 kelahiran hidup secara global.
Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan WHO.Ringkasan teknis terbaru ini menawarkan analisis mengenai alasan mengapa perempuan hamil yang tinggal di negara-negara tertentu lebih berisiko meninggal saat melahirkan.
Laporan juga mengonfirmasi apa yang telah disaksikan oleh banyak praktisi di lapangan: Krisis menciptakan kondisi ketika sistem kesehatan tidak dapat secara konsisten memberikan perawatan yang menyelamatkan nyawa.
Laporan menyebutkan pula bahwa nasib perempuan hamil di wilayah konflik jadi makin berbahaya karena gabungan berbagai masalah, seperti jenis kelamin, suku bangsa, usia, dan status mereka sebagai pengungsi.
Hal itu termuat dalam ringkasan yang disusun bersama oleh WHO serta badan-badan PBB lainnya, seperti UNDP, UNFPA, UNICEF, dan Bank Dunia.
Perbedaan risikonya sangat mencolok. Sebagai gambaran, seorang remaja perempuan berusia 15 tahun yang tinggal di wilayah perang memiliki risiko satu banding 51 untuk meninggal karena persalinan sepanjang hidupnya.
Sementara itu, bagi remaja perempuan di negara yang aman dan stabil, risikonya jauh lebih kecil yaitu hanya satu berbanding 593.
Negara yang dilanda perang mencatat rata-rata 504 kematian ibu untuk tiap 100.000 kelahiran. Di negara yang tidak stabil, tapi tidak perang, angkanya 368 kematian.
Sebaliknya, di negara-negara yang aman dan stabil, angkanya jauh lebih rendah yaitu hanya 99 kematian.
Temuan ini melengkapi laporan tahun lalu, yang menunjukkan bahwa kemajuan dunia dalam menyelamatkan nyawa ibu hamil ternyata jalan di tempat. Angka kematian ibu masih sangat tinggi di negara miskin dan daerah konflik.
Baca juga:
Hampir dua pertiga dari seluruh kematian ibu di dunia terjadi di negara-negara yang dilanda konflik atau rentan, menurut laporan WHO.Laporan ini juga memberikan contoh tentang bagaimana tim medis di garis depan berjuang keras menjaga layanan kesehatan ibu di tengah kekacauan.
Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa, meskipun sistem kesehatan sedang tertekan hebat, cara-cara tertentu dan baru masih bisa menyelamatkan nyawa para ibu.
Misalnya, masyarakat mulai menyesuaikan layanan kesehatan dengan adat setempat, para petugas medis berjuang memulihkan layanan yang terhenti, rumah sakit mengatur ulang cara kerja mereka di bawah ancaman keamanan, dan sistem koordinasi pun terus dikembangkan agar perawatan pasien tidak terputus.
Lebih lanjut, laporan menekankan pentingnya berinvestasi pada layanan kesehatan dasar agar perawatan ibu hamil tetap berjalan meskipun sedang terjadi krisis atau bencana.
Hal itu termasuk memperkuat pengumpulan data di daerah yang sulit dijangkau supaya tidak ada satu pun kematian ibu yang terabaikan, atau tidak tercatat serta membangun sistem kesehatan yang tangguh yang mampu bertahan dan cepat menyesuaikan diri saat menghadapi situasi darurat atau guncangan.
Jika semua upaya ini digabungkan, dunia bisa lebih cepat mengurangi kematian ibu yang seharusnya bisa dicegah, bahkan di tempat-tempat yang paling berbahaya sekali pun.
Dengan menghubungkan data kematian ibu dan tingkat kerawanan suatu wilayah, WHO kini punya alat yang lebih akurat untuk mengetahui daerah mana yang paling butuh bantuan perbaikan sistem kesehatan segera.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya