Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kabul Terancam Jadi Ibu Kota Modern Pertama yang Kehabisan Air

Kompas.com, 26 Juli 2025, 19:30 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan baru dari LSM kemanusiaan Mercy Corps menemukan kota Kabul di Afghanistan berisiko menjadi ibu kota modern pertama yang kehabisan air.

Kabul mengalami kekeringan akibat kombinasi berbagai faktor, termasuk perubahan iklim, pengelolaan sumber daya air yang buruk, urbanisasi yang pesat, dan populasi yang membengkak hingga sekitar 5 hingga 6 juta jiwa.

Krisis air ini bahkan telah mencapai titik kritis. Sumber air tanah (akuifer) terkuras lebih cepat daripada pengisiannya. Selain itu, ada masalah lain terkait air, yaitu harganya yang tidak terjangkau, kontaminasi, dan infrastruktur yang buruk.

Masyarakat di sana pun mengaku tidak ada sumur berkualitas baik yang tersedia dan tidak tahu bagaimana keluarga mereka akan bertahan hidup jika keadaan semakin buruk.

Masalah air Kabul sudah lama ada, tapi jadi makin parah setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021 karena bantuan dana kemanusiaan untuk Afghanistan menurun drastis.

Baca juga: Investasi Pompa Air Rp 1,7 Triliun untuk Pangan: Solusi atau Ancaman Baru?

"Tanpa perubahan besar-besaran pada dinamika pengelolaan air Kabul, kota ini menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam dekade mendatang, dan kemungkinan besar jauh lebih cepat," tulis perwakilan Mercy Corps dalam kesimpulan laporan tersebut, dikutip dari Live Science, Kamis (24/7/2025).

Laporan baru ini mengacu pada studi sebelumnya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menemukan bahwa air tanah Kabul berisiko habis pada tahun 2030.

Menurut laporan tersebut sekitar separuh dari sumur bor di Provinsi Kabul sudah kering. Saat ini, setiap tahun, pengambilan air melebihi pengisian alami sekitar 1,5 miliar kaki kubik (44 juta meter kubik).

Mohammed Mahmoud kepala eksekutif LSM Climate and Water Initiative dan penanggung jawab kebijakan iklim dan air Timur Tengah di U.N. University's Institute of Water, Environment, and Health, menggambarkan temuan laporan tersebut sebagai "sangat mengkhawatirkan".

Dia juga menyatakan keprihatinannya terhadap penurunan tajam permukaan air tanah di Kabul dan semakin banyaknya penduduk yang terpaksa mengeluarkan sebagian besar pendapatan mereka hanya untuk mendapatkan air.

Mercy Corps melaporkan bahwa permukaan air tanah (akuifer) di Kabul telah turun sekitar 30 m dalam satu dekade terakhir. Beberapa rumah tangga bahkan menghabiskan hingga 30 persen dari pendapatan mereka hanya untuk air.

"Ini bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan darurat kesehatan masyarakat, krisis mata pencaharian, dan pemicu yang mengancam potensi pengungsian manusia dalam skala besar," ujar Mahmoud.

Kelangkaan air merupakan masalah global yang memengaruhi berbagai wilayah. Sumber daya air telah terkuras dalam beberapa dekade terakhir, dengan faktor lingkungan seperti perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan keparahan kekeringan, sementara faktor manusia seperti pertumbuhan penduduk meningkatkan permintaan air.

Sebuah studi tahun 2016 yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menemukan bahwa antara tahun 1900-an dan 2000-an, jumlah orang yang menghadapi kelangkaan air meningkat dari 240 juta menjadi 3,8 miliar, atau dari 14 persen menjadi 58 persen dari populasi global.

Wilayah yang berisiko tinggi mengalami kelangkaan air antara lain Afrika Utara, Timur Tengah, dan Asia Selatan.

Baca juga: Clean Air Asia Hitung dan Petakan Beban Emisi Jabodetabek, Hasil Rilis Agustus

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau