Laporan ini juga memberikan contoh tentang bagaimana tim medis di garis depan berjuang keras menjaga layanan kesehatan ibu di tengah kekacauan.
Contoh-contoh tersebut membuktikan bahwa, meskipun sistem kesehatan sedang tertekan hebat, cara-cara tertentu dan baru masih bisa menyelamatkan nyawa para ibu.
Misalnya, masyarakat mulai menyesuaikan layanan kesehatan dengan adat setempat, para petugas medis berjuang memulihkan layanan yang terhenti, rumah sakit mengatur ulang cara kerja mereka di bawah ancaman keamanan, dan sistem koordinasi pun terus dikembangkan agar perawatan pasien tidak terputus.
Lebih lanjut, laporan menekankan pentingnya berinvestasi pada layanan kesehatan dasar agar perawatan ibu hamil tetap berjalan meskipun sedang terjadi krisis atau bencana.
Hal itu termasuk memperkuat pengumpulan data di daerah yang sulit dijangkau supaya tidak ada satu pun kematian ibu yang terabaikan, atau tidak tercatat serta membangun sistem kesehatan yang tangguh yang mampu bertahan dan cepat menyesuaikan diri saat menghadapi situasi darurat atau guncangan.
Jika semua upaya ini digabungkan, dunia bisa lebih cepat mengurangi kematian ibu yang seharusnya bisa dicegah, bahkan di tempat-tempat yang paling berbahaya sekali pun.
Dengan menghubungkan data kematian ibu dan tingkat kerawanan suatu wilayah, WHO kini punya alat yang lebih akurat untuk mengetahui daerah mana yang paling butuh bantuan perbaikan sistem kesehatan segera.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya