KOMPAS.com - Investasi transisi energi global mencapai rekor 2,3 triliun dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 38.713,6 triliun) pada tahun 2025, meningkat delapan persen dibandingkan tahun sebelumnya, berdasarkan laporan Tren Investasi Transisi Energi tahunan BloombergNEF.
Transportasi listrik menjadi tujuan investasi terbesar dengan menarik dana sebesar 893 miliar dollar AS (sekitar Rp 15.030 triliun), dilansir dari Edie, Senin (23/2/2026).
Baca juga:
Tujuan tersebut diikuti oleh energi terbarukan sebesar 690 miliar dollar AS (sekitar Rp 11.613,3 triliun) dan infrastruktur jaringan listrik sebesar 483 miliar dollar AS (sekitar Rp 8.129,8 triliun).
Meskipun total investasi transisi energi mencapai rekor tertinggi, pertumbuhan tahunannya mengalami perlambatan tajam selama empat tahun terakhir, turun dari 27 persen pada tahun 2021 menjadi hanya delapan persen pada tahun 2025.
BloombergNEF menyatakan bahwa investasi energi terbarukan turun 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar disebabkan oleh perubahan regulasi di China yang memicu ketidakpastian di pasar energi terbesar dunia tersebut.
Sebaliknya, sebagian besar sub-sektor transisi energi lainnya mencatatkan kenaikan, kecuali sektor hidrogen yang hanya menarik 7,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 122.873 triliun) dan nuklir yang menarik 36 miliar dollar AS (sekitar Rp 605 triliun).
Baca juga:
Investasi transisi energi global mencapai Rp 38 triliun pada 2025. Transportasi listrik dan energi terbarukan jadi sektor diminati.Laporan tersebut menemukan bahwa investasi pasokan energi bersih melampaui investasi pasokan bahan bakar fosil selama dua tahun berturut-turut.
Pasokan energi bersih yang mencakup energi terbarukan, nuklir, hidrogen, penangkapan karbon, penyimpanan energi, dan jaringan listrik melampaui pengeluaran untuk pasokan bahan bakar fosil sebesar 102 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.716,5 triliun) pada tahun 2025.
Investasi pasokan bahan bakar fosil juga turun untuk pertama kalinya sejak tahun 2020, berkurang sebesar sembilan miliar dollar AS (sekitar Rp 151.461 triliun). Penurunan ini terutama didorong oleh lebih rendahnya pengeluaran untuk sektor hulu minyak dan gas serta pembangkit listrik tenaga fosil.
"Tahun lalu telah membuktikan bahwa meskipun ada hambatan dari kebijakan dan perdagangan, transisi energi global tetap tangguh dan memberikan banyak peluang bagi para investor," kata Albert Cheung, Wakil CEO BloombergNEF.
"Banyak negara berupaya memperkuat keamanan energi dan membangun rantai pasokan domestik, investasi energi bersih akan terus meningkat, terutama yang berkaitan dengan pembangunan pusat data global," tambah dia.
Investasi transisi energi global mencapai Rp 38 triliun pada 2025. Transportasi listrik dan energi terbarukan jadi sektor diminati.Sementara itu, investasi rantai pasokan energi bersih naik enam persen menjadi 127 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.136,3 triliun). Angka ini mencerminkan pengeluaran untuk pabrik panel surya, baterai, alat elektrolisis, dan peralatan angin, serta investasi pada pertambangan dan fasilitas pengolahan logam baterai.
Pertumbuhan ini dipimpin oleh manufaktur dan bahan baku baterai, meskipun BloombergNEF memperingatkan bahwa kelebihan kapasitas terus membebani semua sektor rantai pasok energi bersih.
Dengan demikian, meskipun investasi secara keseluruhan masih naik, tekanan penurunan harga produk teknologi bersih diperkirakan akan terus berlanjut.
BloombergNEF menyatakan bahwa dominasi China dalam manufaktur teknologi bersih mulai berkurang secara bertahap seiring Amerika Serikat, Uni Eropa, dan India memperluas rantai pasokan domestik mereka, meskipun China diperkirakan akan tetap menjadi investor terbesar selama bertahun-tahun ke depan.
Lembaga tersebut juga memperingatkan adanya risiko bahwa investasi manufaktur energi angin tertinggal dari apa yang dibutuhkan untuk mencapai target emisi nol bersih, sedangkan pasokan logam baterai masa depan bisa menjadi langka jika penambahan proyek baru melambat.
Baca juga: AI Bisa Bantu Transisi Energi Negara Berkembang
Asia-Pasifik tetap menjadi wilayah terbesar untuk investasi transisi energi, mencakup 47 persen dari total global pada tahun 2025.
China memimpin pengeluaran secara keseluruhan sebesar 800 miliar dollar AS (sekitar Rp 15.459 triliun), meskipun negara tersebut mencatat penurunan pertama dalam investasi energi terbarukan sejak tahun 2013.
Sementara itu, investasi di India naik 15 persen menjadi 68 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.143,3 triliun).
Eropa memberikan kontribusi terbesar terhadap pertumbuhan global, dengan investasi Uni Eropa melonjak 18 persen hingga mencapai 455 miliar dollar AS (sekitar Rp 7.650 triliun), meskipun terdapat hambatan kebijakan dan biaya.
Investasi Amerika Serikat meningkat 3,5 persen menjadi 378 miliar dollar AS (sekitar Rp 6.358 triliun), meskipun pemerintahan Trump bergerak untuk memperlambat aspek-aspek agenda transisi energi dengan menarik pendanaan subsidi dan memblokir beberapa proyek energi angin.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya