Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Tekan Program Makan Sekolah, Peneliti Stanford Soroti Dampaknya bagi Anak

Kompas.com, 24 Februari 2026, 14:39 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem dan pergeseran musim tanam kian memberi tekanan pada program makan sekolah di berbagai negara. Padahal, program ini menjadi sumber gizi utama bagi hampir setengah miliar anak di seluruh dunia.

Profesor ilmu sistem bumi dan ilmu sosial lingkungan di Stanford Doerr School of Sustainability, Jennifer Burney, meneliti bagaimana perubahan iklim memengaruhi stabilitas pangan sekaligus kesehatan dan kesejahteraan anak-anak.

Menurut Burney, makanan sekolah bukan sekadar soal mengenyangkan perut.

Baca juga: Perempuan Tani dan Tantangan Produktivitas Pangan

“Makanan sekolah adalah cara yang sangat menarik untuk melakukan dua hal sekaligus — membangun fondasi yang kuat bagi individu dan masyarakat yang sehat, serta menciptakan sistem pangan yang ramah dan tangguh terhadap iklim,” ujar Burney, dikutip dari laman resmi Stanford.

Produksi Turun, Harga Naik

Burney menjelaskan, perubahan pola curah hujan, suhu ekstrem, dan musim kemarau yang lebih panjang telah merusak lahan pertanian dan menurunkan hasil panen.

“Kita menghasilkan lebih sedikit daripada yang seharusnya bisa kita hasilkan jika tidak ada krisis iklim,” katanya.

Di sisi lain, sistem pangan global justru menjadi salah satu kontributor utama emisi gas rumah kaca (GRK). Aktivitas seperti pembukaan lahan, pemupukan, peternakan, distribusi, hingga pengemasan menyumbang emisi dalam jumlah besar.

Secara keseluruhan, sekitar sepertiga emisi GRK tahunan dari aktivitas manusia berkaitan dengan sektor pangan. Alih fungsi hutan dan padang rumput menjadi lahan pertanian atau penggembalaan menyumbang lebih dari setengah emisi tersebut.

“Kita terjebak dalam lingkaran umpan balik yang buruk,” ujar Burney.

Ketika hasil panen menurun, respons yang sering diambil adalah memperluas lahan pertanian atau meningkatkan intensitas produksi. Namun langkah ini justru berpotensi menghasilkan lebih banyak emisi dan memperparah kerawanan pangan.

Anak-Anak Paling Rentan

Di tengah tekanan tersebut, program makan sekolah menjadi benteng penting bagi ketahanan gizi anak-anak.

Anak-anak sangat rentan terhadap kelaparan dan kekurangan gizi. Dampak malnutrisi dapat muncul dalam waktu singkat dan bertahan seumur hidup. Selain itu, anak-anak belum memiliki kekuatan ekonomi maupun politik untuk menjamin akses pangan mereka.

Program makan sekolah juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Di Amerika Serikat, misalnya, pemerintah federal menginvestasikan sekitar 18 miliar dollar AS per tahun untuk program makan siang sekolah. Program tersebut diperkirakan menghasilkan lebih dari 40 miliar dollar AS per tahun dalam bentuk manfaat kesehatan dan ekonomi.

Baca juga: Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total

Keluarga penerima manfaat menanggung biaya perawatan kesehatan yang lebih rendah. Anak-anak juga menunjukkan hasil pendidikan dan ekonomi jangka panjang yang lebih baik berkat peningkatan asupan gizi.

Peluang untuk Perbaikan

Meski krisis iklim telah mengganggu hasil panen, menaikkan harga pangan, dan menekan rantai pasok, Burney melihat peluang untuk memperkuat program makan sekolah.

Menurutnya, pemerintah di berbagai negara umumnya fokus pada logistik dan memastikan sebanyak mungkin anak mendapat makanan dengan anggaran terbatas. Namun ada peluang yang sering terlewat.

Jika pemerintah memprioritaskan makanan yang tidak hanya bergizi tetapi juga ramah iklim, program makan sekolah dapat menjadi instrumen untuk membentuk ulang sistem pertanian dan rantai pasok yang lebih berkelanjutan.

“Kita tahu bahwa makanan sekolah bisa jauh lebih baik, baik untuk anak-anak maupun untuk planet ini,” ujar Burney.

Ia menilai, program makan sekolah dapat menjadi alat strategis untuk melindungi generasi muda sekaligus mendorong transformasi sistem pangan yang lebih tangguh menghadapi krisis iklim.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau