Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total

Kompas.com, 17 Februari 2026, 16:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kenaikan harga pangan dan menurunnya pendapatan petani memberikan tekanan yang kian besar pada sistem pangan global.

Hingga 720 juta orang menghadapi kelaparan tahun lalu dan miliaran orang lainnya kesulitan untuk menjangkau pola makan yang sehat.

Sementara itu pada 2024, diperkirakan 2,3 miliar orang mengalami ketahanan pangan tingkat sedang atau berat dan kelaparan kronis berdampak pada 96 juta orang lebih banyak dibandingkan pada 2015.

Melansir laman resmi United Nations, Senin (16/2/2026) dengan latar belakang data tersebut, para pejabat senior PBB menyerukan perlunya investasi dan inovasi mendesak untuk mentransformasi sistem pangan pertanian (agrifood) global.

Baca juga: Kerusakan Lingkungan Capai Rp 83 Triliun per Jam, PBB Desak Transformasi Sistem Pangan dan Energi

Sistem ini mencakup segalanya, mulai dari pertanian dan perikanan hingga pengolahan pangan, transportasi, pasar, dan konsumsi atau seluruh rantai yang membawa makanan dari ladang ke meja makan.

"Sistem agrifood adalah jantung dari kemajuan masyarakat kita. Sistem ini merupakan benang merah yang menghubungkan pilar lingkungan, sosial, dan ekonomi dari pembangunan berkelanjutan," ungkap Lok Bahadur Thapa, Presiden Dewan Ekonomi dan Sosial (ECOSOC).

Melibatkan kaum muda

Sistem pangan dan pertanian menopang mata pencaharian di seluruh dunia, menyediakan lapangan kerja bagi lebih dari 39 persen tenaga kerja global, serta sekitar 64 persen pekerjaan di Afrika.

Selain memberi makan penduduk, sistem ini membentuk ekonomi pedesaan, kesehatan masyarakat, perdagangan, dan keberlanjutan lingkungan.

Tak heran jika transformasi sistem agrifood ini menurut Thapa dapat menghasilkan manfaat antara 5 triliun hingga 10 triliun dolar AS di bidang kesehatan, pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Lebih lanjut, dengan proyeksi peningkatan 7 persen pemuda dunia pada 2030, partisipasi mereka akan membantu transformasi sistem agrifood bersifat inklusif, berkelanjutan, dan siap menghadapi masa depan.

Sejak KTT Sistem Pangan PBB 2021, 130 negara telah menyusun jalur nasional untuk mereformasi cara pangan ditanam, diproses, dan didistribusikan. Namun ambisi tersebut kini harus diterjemahkan menjadi hasil nyata.

Baca juga: Kenaikan CO2 dan Pemanasan Global Bisa Pengaruhi Ketahanan Pangan

“Momentum ini harus diubah menjadi implementasi dengan meningkatkan skala solusi-solusi ini, menyelaraskan pendanaan dengan prioritas nasional, dan mempercepat tindakan di mana kebutuhan paling besar sehingga kita tidak meninggalkan siapa pun,” papar Deputi Sekretaris Jenderal Amina Mohammed.

Tak hanya melibatkan generasi muda, petani perempuan sangat penting untuk ketahanan pangan, gizi, dan ketahanan ekonomi di seluruh dunia.

Sehingga menutup kesenjangan gender juga menjadi pendorong untuk hasil yang lebih baik bagi semua.

"Kita dapat menjadikan sistem pangan sebagai mesin yang ampuh untuk mempercepat kemajuan di seluruh Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang," pungkasnya Mohammed.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Tingkatkan Efisiensi Produksi, Industri Makanan Mulai Adopsi AI
Swasta
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
Konsumsi Daging Global Naik 4 Kali Lipat, Apa Dampaknya Bagi Lingkungan?
LSM/Figur
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
IPB University Promosikan Potensi Agromaritim Indonesia di Korea Selatan
Pemerintah
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
Menaikkan Pajak UMKM saat Terjadi Ketidakpastian Global Dinilai Kurang Tepat
LSM/Figur
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Studi Ungkap Hambatan Sulitnya Pensiunkan PLTU Batu Bara di Indonesia
Pemerintah
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pakar IPB University Dorong Hilirisasi Industri Lobster Nasional
Pemerintah
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Kemenhut : Gap Pendanaan Konservasi Keanekaragaman Hayati Capai 74 Persen
Pemerintah
Fitoplankton Bisa 'Kunci' Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
Fitoplankton Bisa "Kunci" Karbon di Lautan hingga Ribuan Tahun
LSM/Figur
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Kurangi Macet dan Polusi, Astra Ajak Karyawan Gunakan Transportasi Umum
Swasta
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
KLH: Kawasan Rendah Emisi Bisa Jadi Daya Tarik Wisata, Andong dan Becak Ikonnya
Pemerintah
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Kabar Baik untuk Bumi, Hutan Mangrove Dunia Mulai Pulih Kembali
Pemerintah
Program 'SNI Goes to Campus' Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Program "SNI Goes to Campus" Dorong Kesadaran Mutu Pangan Nasional
Swasta
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Google Targetkan Pasok Air Bersih Lebih Besar dari Konsumsi Pusat Data
Pemerintah
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Konsumsi Listrik AI Diprediksi Capai 945 TWh pada 2030
Pemerintah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
Ujian Berat bagi Asia Tenggara, El Nino Godzilla Perparah Dampak Konflik di Timur Tengah
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau