Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Pertambangan Tak Bisa Hanya Good Mining, Harus Jadikan ESG Bagian dari Keputusan Bisnis

Kompas.com, 24 Februari 2026, 12:26 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Industri pertambangan menjadi sektor strategis yang menopang perekonomian nasional, dengan kontribusi sekitar 12 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara sebesar Rp140,5 triliun pada tahun 2024. Sektor mineral dan batu bara saja bisa menyerap lebih dari 310.000 tenaga kerja secara langsung.

Sektor pertambangan juga dapat berperan penting dalam penyediaan mineral kritis untuk mendukung transisi menuju ke energi berkelanjutan.

Baca juga: Menteri LH: Emisi Energi Naik hingga 2035, Pertambangan Mutlak Berkelanjutan

Namun, sektor pertambangan masih menghadapi tantangan berat. Mulai dari emisi gas rumah kaca (GRK), dampak sosial terhadap masyarakat sekitar wilayah pertambangan, hingga pengelolaan lingkungan dan kesehatan kerja pasca tambang.

Kompleksitas tantangan itu menuntut pendekatan tidak hanya teknis belaka, melainkan pula mencakup dimensi sosial, kesehatan dan keselamatan kerja, serta tata kelola yang baik.

Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer PT Vale Indonesia Tbk, Budiawansyah mengatakan, industri pertambangan saat ini harus bergerak dari sekadar good mining, menuju ke responsible mining. Environmental, Social, and Governance (ESG) bukan lagi sekadar kewajiban administratif, tetapi fondasi dalam pengambilan keputusan bisnis.

Kata dia, sustainability telah menjadi budaya perusahaan PT Vale Indonesia selama 58 tahun operasional, dengan pendekatan jangka panjang dalam setiap perencanaan dan keputusan strategis.

“Tidak ada masa depan tanpa pertambangan, dan tidak ada pula pertambangan tanpa memikirkan masa depan,” ujar Budiawansyah dalam keterangan tertulis, Senin (23/2/2026).

PT Vale Indonesia mengadopsi sustainability melalui produksi rendah emisi, pengelolaan limbah dan air berkelanjutan, pemanfaatan lahan yang bertanggung jawab, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Siti Sumilah Rita Susilawati mengatakan, pihaknya akan terus memperkuat regulasi dan pengawasan untuk memastikan praktik pertambangan selaras dengan prinsip keberlanjutan dan ESG.

Implementasi ESG harus terintegrasi dalam sistem tata kelola dan pengawasan, bukan hanya menjadi komitmen di atas kertas. Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam memastikan pertambangan Indonesia mampu menjawab tuntutan global sekaligus menjaga kepentingan nasional.

Peran Kampus

Sementara itu, Universitas Indonesia menjadi platform strategis untuk membangun dialog antara industri, pemerintah, dan mahasiswa lintas fakultas dalam mengintegrasikan prinsip ESG secara nyata dalam pengelolaan sumber daya ekstraktif.

Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kemahasiswaan, dan Alumni Universitas Indonesia (UI), Hamdi Muluk mengatakan, topik sustainability in mining merupakan isu penting dan relevan bagi UI sebagai institusi dengan tagline 'Unggul dan Impactful'.

Baca juga: Menyoal Praktik Pertambangan Tidak Ramah Kepentingan Daerah

Sektor pertambangan, kata dia, harus dikelola secara bertanggung jawab dan menyeluruh, serta membutuhkan kontribusi aktif mahasiswa sebagai generasi intelektual yang peduli terhadap bangsa. Ia menilai, kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, industri, dan pemerintah sebagai langkah strategis untuk menghadirkan solusi berdampak jangka panjang.

Dari aspek kesehatan dan keselamatan kerja sebagai bagian integral dari ESG, Guru Besar Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM UI, Fatma Lestari menegaskan bahwa keberlanjutan industri harus berorientasi pada manusia (human-centered sustainability). Khususnya, memastikan perlindungan pekerja dan masyarakat sekitar wilayah tambang.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau