KOMPAS.com - Mikroplastik ditemukan pada 42 sampel air ketuban para ibu yang melahirkan di Gresik, Jawa Timur. Menurut tim peneliti dari Ecoton dan Universitas Airlangga, konsentrasi mikroplastik dua sampai 18 partikel per mililiter.
Mikroplastik tersebut umumnya berasal dari polietilen (PE), yang menjadi bahan baku untuk kantong plastik, kemasan makanan, dan botol minuman, dilansir dari laman resmi Ecoton dan Kompas.id, Jumat (27/2/2026).
Namun, apakah mikroplastik mampu menembus ke dalam berbagai bagian tubuh manusia masih menimbulkan pertanyaan.
Baca juga:
Mikroplastik terdeteksi dalam air ketuban ibu melahirkan di Gresik, Jawa Timur. Simak penjelasan pakar tentang perbedaan mikroplastik dan nanoplastik.Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil atau kurang dari lima milimeter (mm).
Pakar pencemaran dan ekotoksikologi IPB University, Etty Riani menuturkan, mikroplastik dengan ukuran sebagaimana definisinya mustahil masuk ke dalam air ketuban.
Partikel plastik yang dapat melewati lambung dan dinding usus setidaknya berukuran lebih kecil dari 0,15 milimeter.
"Ketika kita makan, (partikel plastik) yang dikonsumsi dan bisa melewati lambung itu ukurannya enggak bisa sembarangan," ujar Etty kepada Kompas.com, Jumat (27/2/2026).
Diketahui, nanoplastik berukuran jauh lebih kecil daripada mikroplastik atau berkisar satu hingga 1000 nanometer. Perlu diperhatikan bahwa satu milimeter setara dengan satu juta nanometer.
Menurut Etty, nanoplastik berukuran kurang dari 100 nanometer masih mampu menembus dinding usus, kemudian masuk ke dalam darah melalui membrannya.
Namun, ia melanjutkan, nanoplastik berukuran kurang dari 100 nanometer tidak mungkin bisa menembus dinding usus dan masuk ke dalam darah.
Jalur lain, partikel plastik berukuran 500 nanometer bisa masuk melalui sel imun yang ada di dalam usus. Atau, partikel plastik berukuran kurang dari 100 nanometer juga dapat masuk melalui sirkulasi dalam usus.
Selain itu, usus dapat pula menyerap partikel plastik berukuran sekitar 100-200 nanometer melalui proses endositosis.
"Karena usus itu tidak bisa dilalui kalau ukurannya segitu (mikroplastik), (itu) keluar melalui feses. Kalau melalui udara bisa, tapi ukurannya harus kecil sekali. Udara itu kan ada particulate matter (PM). Ada PM2.5, ada PM1.0. Itu harus PM1.0 yang bisa," tutur Etty.
PM1.0 adalah partikel polutan di udara yang berukuran sangat halus, kurang dari satu mikron atau seperseribu milimeter.
Nanoplastik memang diduga bisa masuk ke dalam otak dan air ketuban.
Ukuran partikel plastik yang mampu masuk ke otak maupun air ketuban harus sangat kecil, mengingat setiap makanan atau minuman dicerna terlebih dahulu oleh usus dan untuk bisa diserap ke dalam darah dengan bentuk glukosa.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya