Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ecoton Temukan Mikroplastik pada Air Hujan dari 4 Wilayah di Jawa Timur

Kompas.com, 25 Desember 2025, 21:01 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Lembaga Studi Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) bersama siswa MTsN 16 Jombang, mengidentifikasi air hujan mengandung mikroplastik pada sampel yang diambil dari empat lokasi di Jawa Timur. Wilayah itu antara lain Kabupaten Tembelang, Kecamatan Plandaan, Kecamatan Ngoro, dan Kabupaten Jombang.

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti mengatakan jenis mikroplastik yang paling dominan berupa serat, fragmen, filamen, dan busa.

“Salah satu sumber terbesar mikroplastik dalam air hujan adalah pembakaran sampah plastik, suatu kegiatan yang masih umum dilakukan di empat kecamatan Kabupaten Jombang,” ungkap Rafika dalam keterangannya ditulis Kamis (25/12/2025).

Baca juga: Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan

Menurut dia, 30 peserta yang terlibat dalam studi menyatakan bahwa praktik pengelolaan sampah di desa mereka masih mengandalkan pembakaran terbuka. Para peserta lantas mengumpulkan sampel air hujan dari Desa Karang Mojo, Kabupaten Plandaan; Perumahan Tambak Rejo, Kabupaten Jombang; Desa Tembelang, Kabupaten Tembelang; dan Desa Genuk Watu, Kabupaten Ngoro.

Rafika menyatakan, fragmen berasal dari pecahan plastik keras. Sedangkan film dan busa bersumber dari kantong plastik, kemasan sekali pakai, maupun styrofoam.

“Komposisi ini menunjukkan bahwa sumber mikroplastik terkait erat dengan aktivitas manusia sehari-hari,” ucap dia.

Berdasarkan analisis, tingkat kontaminasi mikroplastik tertinggi tercatat di Genuk Watu, Ngoro, dengan 70 partikel per liter air hujan. Lalu disusul Perumahan Tambakrejo dengan 46 partikel per liter, Karangmojo dengan 41 partikel per liter, dan Kabupaten Tembelang dengan 28 partikel per liter.

Baca juga: Mikroplastik Cemari Pakan Ternak, Bisa Masuk ke Produk Susu dan Daging

Perbedaan tingkat kontaminasi itu, kata Rafika, dipengaruhi kepadatan penduduk, aktivitas industri, lalu lintas kendaraan, arah serta kecepatan angin.

Mikroplastik adalah fragmen atau partikel plastik yang berukuran lebih kecil dari 5 milimeter hingga 1/1000 milimeter, setara dengan sehelai rambut manusia yang terbagi menjadi tujuh helai.

Lantaran ukurannya yang sangat kecil, partikel-partikel ini dapat tetap melayang di udara dalam waktu lama sebelum akhirnya terendap melalui air hujan.

Mikroplastik di Udara

Dalam riset yang berbeda, Rafika juha menemukan mikroplastik pada sampel air hujan di Semarang. Studi menunjukkan, Semarang menduduki posisi keempat sebagai kota dengan kontaminasi mikroplastik di udara paling tinggi.

Penelitian yang dilakukan di 18 kota/kabupaten di Indonesia itu menunjukkan hubungan erat antara cemaran mikroplastik di udara dengan kebiasaan membakar sampah yang akhirnya mencemari hujan.

Rafika mencatat, komposisi mikroplastik di udara didominasi poliolefin yang berasal dari pecahan kantong plastik dan kemasan, polyamide dan PTFE dari serat pakaian, komponen otomotif, serta pelapis tahan panas.

"Polyester dan polyisobutylene yang umumnya berasal dari tekstil dan material ban, juga ditemukan di dalam sampel. Menunjukkan beragamnya sumber polusi mikroplastik di udara," ujar dia.

Pembakaran sampah plastik menyumbang 55 persen mikroplastik ke udara. Sementara aktivitas transportasi berkontribusi 33,3 persen.

“Korelasi ini menunjukkan bahwa profil polimer di udara sangat mencerminkan pola aktivitas manusia di kota mulai dari sistem pengelolaan sampah yang buruk, tingginya aktivitas transportasi, hingga beban tekstil rumah tangga,” kata Rafika.

Menurut riset Greenpeace Indonesia dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), sampel mikroplastik ditemukan di dalam urine, darah, dan feses manusia. Studi pada Januari 2023-Desember 2024, menemukan mikroplastik di 95 persen sampel dari 67 partisipan.

Jenis plastik Polyethylene Terephthalate atau PET dari kemasan plastik sekali pakai menjadi jenis mikroplastik yang paling banyak mengontaminasi tubuh partisipan dengan total 204 partikel terdeteksi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau