KOMPAS.com - Lalu lintas kapal di laut memengaruhi perilaku satwa liar laut berukuran besar, termasuk paus, lumba-lumba, anjing laut, manatee, penyu, hiu, dan pari.
Hal itu merupakan hasil dari studi yang dilakukan Rosenstiel School of Marine, Atmospheric, and Earth Science di Amerika Serikat yang tertuang dalam "Charting the Course for Management: A Global Analysis of Effects of Vessels on Marine Megafauna" yang diterbitkan di npj Ocean Sustainability.
Penelitian tersebut menggabungkan temuan dari lebih dari 200 studi yang telah ditinjau sejawat dari seluruh dunia.
Secara total, melansir Phys, Rabu (25/2/2026) hampir 1.900 perbandingan dikumpulkan antara skenario dengan dan tanpa kehadiran kapal, sehingga memungkinkan penilaian yang akurat tentang bagaimana kapal berdampak pada satwa liar laut.
Analisis tersebut memeriksa respons yang terdokumentasi terhadap aktivitas kapal pada berbagai spesies, wilayah geografis, serta jenis reaksi perilaku dan fisiologis.
Baca juga: Tak Lepas dari Ancaman, Bahan Kimia Abadi Ditemukan di Hewan Laut
Hasilnya menunjukkan bahwa lalu lintas kapal dapat mengubah perilaku hewan, mengganggu komunikasi, dan memengaruhi fisiologi stres. Selain itu, gangguan-gangguan ini dapat memengaruhi tren populasi jangka panjang pada megafauna laut.
"Bahkan ketika kapal tidak menabrak hewan secara langsung, kehadiran mereka saja sudah dapat mengganggu aktivitas makan, pergerakan, komunikasi, dan tingkat stres. Gangguan-gangguan kecil yang berulang ini dapat terakumulasi seiring waktu dan memengaruhi populasi," kata Julia Saltzman, penulis utama studi dan seorang mahasiswa doktoral di Program Penelitian dan Konservasi Hiu di University of Miami Rosenstiel School.
Banyak spesies sangat rentan terhadap gangguan kapal karena mereka berumur panjang, berkembang biak dengan lambat, dan sangat bergantung pada perairan pesisir serta permukaan laut di mana lalu lintas kapal terkonsentrasi.
Dengan mengidentifikasi pola yang konsisten dari penelitian selama puluhan tahun, temuan ini memberikan wawasan untuk menjadi dasar kebijakan konservasi dan pengelolaan laut.
Peneliti juga menemukan adanya ketimpangan dalam cakupan penelitian antar kelompok spesies.
"Beberapa kelompok, terutama penyu, menunjukkan respons yang lebih kuat terhadap gangguan kapal, sementara kelompok lainnya, termasuk ikan besar, hiu, dan pari, relatif masih kurang diteliti meskipun sering berada di wilayah yang sama dengan aktivitas kapal," kata Emily Yeager, salah satu penulis studi dan kandidat doktor di Rosenstiel School.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Tingkatkan Risiko Penyakit Menular dari Hewan ke Manusia
Analisis tersebut menemukan bahwa spesies yang sudah terdaftar sebagai terancam atau hampir punah mungkin terkena dampak yang lebih besar oleh gangguan kapal.
Hewan dengan risiko kepunahan yang lebih tinggi sering kali menunjukkan respons perilaku atau biologis yang lebih besar atau lebih fatal, yang menunjukkan bahwa aktivitas kapal dapat memperparah ancaman konservasi yang sudah ada sebelumnya.
Catherine Macdonald, seorang profesor madya di Departemen Ilmu dan Kebijakan Lingkungan serta direktur Program Penelitian dan Konservasi Hiu di Rosenstiel School menambahkan karena aktivitas kapal dan persebaran satwa liar terus berubah-ubah melintasi ruang dan waktu, pendekatan pengelolaan yang bersifat statis tidak selalu cukup untuk melindungi spesies dari gangguan.
Strategi pengaturan yang fleksibel seperti meminta kapal melambat hanya di musim tertentu, mengatur jarak aman yang bisa berubah-ubah, dan menutup area penting hanya saat dibutuhkan menjadi cara pintar yang berdasarkan data dapat melindungi hewan laut tanpa harus menghentikan aktivitas manusia di lautan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya