KOMPAS.com - Polusi yang disebabkan sampah antariksa diprediksi semakin meningkat. Jenis polusi tersebut akan merusak lapisan ozon di atmosfer bumi dan membentuk awan yang menyebabkan pemanasan global.
Sebagai contoh, roket SpaceX, yang terbakar setelah kembali ke atmosfer, melepaskan gumpalan logam yang menguap di atas Eropa.
Baca juga:
Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.Bagian atas roket Falcon 9, yang dirancang untuk mendarat di Samudera Pasifik untuk digunakan kembali, kehilangan kendali akibat kegagalan mesin. Bagian atas roket Falcon 9 jatuh dari orbit di atas Atlantik utara pada Februari 2025.
Setelah mendengar kabar itu, Robin Wing di Institut Fisika Atmosfer Leibniz di Jerman dan rekan-rekannya segera menyalakan lidar, instrumen untuk penginderaan atmosfer.
Sekitar 20 jam kemudian, alat tersebut mendeteksi lonjakan kadar litium 10 kali lipat di lapisan atmosfer bagian atas saat gumpalan logam yang menguap melayang di atasnya. Adapun litium termasuk komponen kunci badan roket.
Berdasarkan permodelan, gumpalan asap ini telah bergeser sejauh 1.600 kilometer dari area Falcon 9.
Studi terbaru yang diterbitkan dalam Communications Earth & Environment ini untuk pertama kalinya melacak polusi di ketinggian akibat pergi dan baliknya pesawat ruang angkasa yang dapat digunakan kembali.
"Partikel logam kecil tersebut bisa jadi mengkatalisis perusakan ozon, menciptakan awan di stratosfer dan mesosfer, memengaruhi cara sinar matahari merambat melalui atmosfer," ujar Wing, dilansir dari NewScientist, Senin (2/3/2026).
Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.Namun, isu tersebut masih kurang diteliti. Kekhawatiran terhadap jenis polusi ini semakin menguat seiring dengan melonjaknya peluncuran roket komersial.
Hal itu ditambah dengan perluasan konstelasi satelit raksasa oleh perusahaan-perusahaan, seperti Starlink milik SpaceX dan Leo milik Amazon.
Sekitar 14.500 satelit sudah berada di orbit. Bulan lalu, SpaceX mengajukan permohonan meluncurkan satu juta satelit lagi.
CEO SpaceX, Elon Musk meluncurkan satelit untuk menciptakan pusat data orbital dalam mendukung AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan).
Satelit biasanya dibiarkan jatuh dan terbakar habis pada akhir masa pakainya demi menghindari siklus tabrakan tak terkendali, yang mana bisa menghasilkan semakin banyak puing antariksa.
Jumlah sampah antariksa berpotensi naik hingga 50 kali lipat dalam dekade berikutnya dan melebihi 40 persen dari massa meteoroid yang saat ini dibawa ke atmosfer.
"Ada kesalahpahaman bahwa puing-puing luar angkasa terbakar di atmosfer dan menghilang. Mari kita sedikit menahan diri, dan mari kita benar-benar melakukan analisis menyeluruh tentang efek apa yang mungkin ditimbulkan oleh material ini," tutur Daniel Cziczo dari Universitas Purdue, Indiana, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Baca juga:
Sampah antariksa dan roket SpaceX melepaskan litium serta aluminium oksida yang bisa merusak ozon dan memperparah pemanasan global.Asap yang dihasilkan Falcon 9 diperkirakan mengandung 30 kilogram litium. Mengingat komposisi paduan pada badan roket, seharusnya kandungan litiumnya jauh lebih besar dari aluminium.
Aluminium yang menguap bereaksi dengan oksigen atmosfer, membentuk partikel aluminium oksida. Partikel tersebut menyediakan permukaan tempat senyawa klorin dapat lebih mudah terurai.
Radikal klorin yang dilepaskan melalui proses ini bereaksi dengan dan menghancurkan molekul ozon di stratosfer.
Studi tersebut memperkirakan bahwa pembakaran pesawat ruang angkasa melepaskan 1.000 ton aluminium oksida ke atmosfer setiap tahun dan jumlahnya terus meningkat. Hal itu mengancam perluasan lubang ozon di belahan bumi selatan.
Padahal, lubang ozon telah menyusut seiring dengan penghapusan bertahap gas pendingin perusak ozon oleh berbagai negara.
Hilangnya ozon memungkinkan lebih banyak sinar ultraviolet matahari masuk ke atmosfer, yang pada gilirannya menyebabkan kanker kulit.
"Dalam hal logam, kita seperti bergerak ke paradigma baru di mana atmosfer bagian atas semakin dipengaruhi oleh polusi antropogenik daripada sumber alami. Puing-puing ruang angkasa mulai membatalkan kemajuan dalam mengatasi lubang ozon," ucap Eloise Marais dari University College London.
Partikel oksida logam bisa berfungsi sebagai inti tempat uap air dapat mengembun menjadi tetesan, membentuk awan cirrus di troposfer atas, yang cenderung memerangkap panas.
Para peneliti telah mengukur partikel dari pesawat ruang angkasa yang terbakar di awan cirrus. Jika partikel-partikel itu mendorong pembentukan awan cirrus maka dapat memperburuk pemanasan global.
Ukurannya kecil jika dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, seperti karbon dioksida (CO2).
“Ada banyak bukti ilmiah bahwa material ini dapat berdampak buruk pada atmosfer kita, dan sekarang tugas kita sebagai ilmuwan untuk mencari tahu apakah dampak tersebut terjadi dan seberapa parah dampaknya,” ujar Cziczo.
Baca juga:
Sebagai solusi, ada usulan untuk membangun satelit dari bahan, seperti kayu. Namun, solusi itu masih dapat melepaskan jelaga karbon hitam saat memasuki kembali atmosfer.
Atau, solusi lain, seperti memensiunkan semakin banyak satelit ke "orbit kuburan" di lokasi yang lebih tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya