Asap yang dihasilkan Falcon 9 diperkirakan mengandung 30 kilogram litium. Mengingat komposisi paduan pada badan roket, seharusnya kandungan litiumnya jauh lebih besar dari aluminium.
Aluminium yang menguap bereaksi dengan oksigen atmosfer, membentuk partikel aluminium oksida. Partikel tersebut menyediakan permukaan tempat senyawa klorin dapat lebih mudah terurai.
Radikal klorin yang dilepaskan melalui proses ini bereaksi dengan dan menghancurkan molekul ozon di stratosfer.
Studi tersebut memperkirakan bahwa pembakaran pesawat ruang angkasa melepaskan 1.000 ton aluminium oksida ke atmosfer setiap tahun dan jumlahnya terus meningkat. Hal itu mengancam perluasan lubang ozon di belahan bumi selatan.
Padahal, lubang ozon telah menyusut seiring dengan penghapusan bertahap gas pendingin perusak ozon oleh berbagai negara.
Hilangnya ozon memungkinkan lebih banyak sinar ultraviolet matahari masuk ke atmosfer, yang pada gilirannya menyebabkan kanker kulit.
"Dalam hal logam, kita seperti bergerak ke paradigma baru di mana atmosfer bagian atas semakin dipengaruhi oleh polusi antropogenik daripada sumber alami. Puing-puing ruang angkasa mulai membatalkan kemajuan dalam mengatasi lubang ozon," ucap Eloise Marais dari University College London.
Partikel oksida logam bisa berfungsi sebagai inti tempat uap air dapat mengembun menjadi tetesan, membentuk awan cirrus di troposfer atas, yang cenderung memerangkap panas.
Para peneliti telah mengukur partikel dari pesawat ruang angkasa yang terbakar di awan cirrus. Jika partikel-partikel itu mendorong pembentukan awan cirrus maka dapat memperburuk pemanasan global.
Ukurannya kecil jika dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, seperti karbon dioksida (CO2).
“Ada banyak bukti ilmiah bahwa material ini dapat berdampak buruk pada atmosfer kita, dan sekarang tugas kita sebagai ilmuwan untuk mencari tahu apakah dampak tersebut terjadi dan seberapa parah dampaknya,” ujar Cziczo.
Baca juga:
Sebagai solusi, ada usulan untuk membangun satelit dari bahan, seperti kayu. Namun, solusi itu masih dapat melepaskan jelaga karbon hitam saat memasuki kembali atmosfer.
Atau, solusi lain, seperti memensiunkan semakin banyak satelit ke "orbit kuburan" di lokasi yang lebih tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya