Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Antariksa Bikin Lapisan Ozon Bumi Berlubang

Kompas.com, 2 Maret 2026, 17:09 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Bahaya lapisan ozon yang berlubang

Asap yang dihasilkan Falcon 9 diperkirakan mengandung 30 kilogram litium. Mengingat komposisi paduan pada badan roket, seharusnya kandungan litiumnya jauh lebih besar dari aluminium.

Aluminium yang menguap bereaksi dengan oksigen atmosfer, membentuk partikel aluminium oksida. Partikel tersebut menyediakan permukaan tempat senyawa klorin dapat lebih mudah terurai.

Radikal klorin yang dilepaskan melalui proses ini bereaksi dengan dan menghancurkan molekul ozon di stratosfer.

Studi tersebut memperkirakan bahwa pembakaran pesawat ruang angkasa melepaskan 1.000 ton aluminium oksida ke atmosfer setiap tahun dan jumlahnya terus meningkat. Hal itu mengancam perluasan lubang ozon di belahan bumi selatan.

Padahal, lubang ozon telah menyusut seiring dengan penghapusan bertahap gas pendingin perusak ozon oleh berbagai negara.

Hilangnya ozon memungkinkan lebih banyak sinar ultraviolet matahari masuk ke atmosfer, yang pada gilirannya menyebabkan kanker kulit.

"Dalam hal logam, kita seperti bergerak ke paradigma baru di mana atmosfer bagian atas semakin dipengaruhi oleh polusi antropogenik daripada sumber alami. Puing-puing ruang angkasa mulai membatalkan kemajuan dalam mengatasi lubang ozon," ucap Eloise Marais dari University College London.

Partikel oksida logam bisa berfungsi sebagai inti tempat uap air dapat mengembun menjadi tetesan, membentuk awan cirrus di troposfer atas, yang cenderung memerangkap panas.

Para peneliti telah mengukur partikel dari pesawat ruang angkasa yang terbakar di awan cirrus. Jika partikel-partikel itu mendorong pembentukan awan cirrus maka dapat memperburuk pemanasan global.

Ukurannya kecil jika dibandingkan dengan emisi gas rumah kaca (GRK) penyebab pemanasan global, seperti karbon dioksida (CO2).

“Ada banyak bukti ilmiah bahwa material ini dapat berdampak buruk pada atmosfer kita, dan sekarang tugas kita sebagai ilmuwan untuk mencari tahu apakah dampak tersebut terjadi dan seberapa parah dampaknya,” ujar Cziczo.

Baca juga:

Sebagai solusi, ada usulan untuk membangun satelit dari bahan, seperti kayu. Namun, solusi itu masih dapat melepaskan jelaga karbon hitam saat memasuki kembali atmosfer.

Atau, solusi lain, seperti memensiunkan semakin banyak satelit ke "orbit kuburan" di lokasi yang lebih tinggi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau