KOMPAS.com - Mengurangi camilan dan minuman bergizi rendah dapat menyeimbangkan protein secara signifikan, sekaligus meminimalisasi dampak lingkungan dan meningkatkan kualitas diet, menurut studi terbaru.
Hampir 20 persen dari total pengeluaran makanan di Finlandia dialokasikan untuk berbagai produk opsional tersebut, di antaranya, permen, kue manis, makanan penutup, camilan gurih, dan minuman kemasan berperisa.
Baca juga:
Produk makanan atau minuman tersebut mewakili sekitar seperlima dari total pengeluaran makanan di semua kelompok.
Kendati sering dianggap sebagai konsumsi tambahan, pembelian produk makanan atau minuman ini berkontribusi terhadap lebih dari seperlima dari dampak iklim rata-rata.
Produk makanan atau minuman itu juga berkontribusi pada penggunaan lahan, serta eutrofikasi air tawar dan laut.
Baca juga:
Studi menemukan, kurangi camilan dan minuman rendah gizi dapat menekan jejak karbon, penggunaan lahan, serta meningkatkan kualitas diet.Para peneliti dari Institut Sumber Daya Alam Finlandia dan Universitas Helsinki, Universitas Tampere, menganalisis pembelian bahan makanan dari hampir 30.000 anggota koperasi ritel S Group Finlandia yang setuju untuk berpartisipasi.
Pola serupa teramati dalam berbagai studi di negara-negara lain, termasuk Australia dan Swedia.
Temuan dari studi-studi itu menunjukkan bahwa banyak produk makanan atau minuman rendah gizi sebenarnya memiliki dampak lingkungan yang relatif rendah per kilogramnya.
Namun, secara keseluruhan, beban lingkungannya menjadi signifikan karena produk-produk makanan atau minuman itu dibeli cukup sering dan dalam jumlah besar.
“Diskusi tentang pengurangan jejak karbon juga harus mencakup makanan opsional di samping makanan yang berasal dari hewan. Mengurangi makanan opsional juga akan meningkatkan kualitas nutrisi dari pembelian karena makanan tersebut menyumbang hampir 20 persen dari kandungan energi dan 60 persen dari gula tambahan,” ujar Peneliti Universitas Jelena Meinilä dari Universitas Helsinki, dilansir dari SciTechDaily, Selasa (3/3/2026).
Studi tersebut juga meneliti pengeluaran untuk sumber protein produk makanan atau minuman opsional itu dalam kerangka energi yang dihasilkan dari mengonsumsinya.
Studi tersebut menemukan, biaya per 2.500 kilokalori (kkal) dari protein hampir identik di seluruh kelompok, meski komposisi sumbernya sangat bervariasi.
Rumah tangga yang lebih menyukai daging merah menghabiskan 1,6 euro atau setara Rp 31.514 per 2.500 kkal untuk protein, dengan 46 persen dari jumlah tersebut dialokasikan untuk daging merah.
Sebaliknya, rumah tangga yang lebih menyukai protein nabati menghabiskan 1,5 euro atau setara Rp 29.533 per 2.500 kkal, dan hanya satu persen dari anggaran protein mereka dialokasikan untuk daging merah.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya