Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko "Kerja Paksa"

Kompas.com, 24 Februari 2026, 15:49 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Laporan terbaru KnowTheChain, proyek Business and Human Rights Centre mengungkapkan bahwa perusahaan makanan dan minuman terbesar di dunia gagal mencegah risiko kerja paksa. Hal ini diperparah dengan krisis iklim di seluruh rantai pasok industri.

Dikutip dari laman resminya, Business and Human Rights Centre menganalisis 45 perusahaan terbesar dunia di sektor tersebut. Mereka menemukan, perusahaan hanya mencatatkan rata-rata skor 15 dari 100 dalam upaya mencegah dan menangani kerja paksa.

Angkanya turun dibandingkan penilaian tahun sebelumanya dan menjadi peringatan keras bagi pekerja, regulator, maupun investor.

“Sektor agri-pangan menopang kehidupan jutaan orang di seluruh dunia dan memainkan peran penting dalam ketahanan pangan, sehingga menjadi bagian krusial dari transisi yang adil," kata
Kepala Hak Perburuhan dalam Rantai Pasok & Strategi Investor Business and Human Rights Centre, Aine Clarke.

Baca juga: Kenapa Gen Z Makin Sulit Cari Kerja Setelah Lulus?

"Namun ketika krisis iklim memperparah risiko kerja paksa, model bisnis saat ini justru mendorong kelompok paling terpinggirkan, pekerja, petani kecil, dan petani penggarap semakin rentan," imbuh dia.

Krisis iklim menyusutkan lahan garapan, mengurangi hasil panen, dan memaksa jutaan orang berpindah tempat. Di sisi lain, Clarke menyebut pekerja paling rentan khususnya migran, perempuan dan pekerja dengan status tidak pasti menanggung dampak terberat.

"Konsentrasi kekuatan pasar, kenaikan biaya input, rantai pasok yang tidak transparan, serta ketiadaan keterlibatan dengan pemegang hak membuat perusahaan sangat tidak siap menghadapi peningkatan risiko kerja paksa akibat krisis iklim," papar dia.

Berdasarkan laporannya, tim menyampaikan hampir setengah perusahaan dianalisis mendaoatkan skor di bawah 10 dari 100. Hanya dua supermarket, yakni Australia Coles dan Woolworths yang mencetak skor di atas 50.

Menurut Clarke, beberapa perusahaan masih mendominasi peringkat teratas. Kendati demikian, kinerja terbaik sekali pun masih jauh dari cukup untuk mengatasi faktor-faktor sistemik penyebab kerja paksa dalam sistem pangan global.

Baca juga: CEO yang Pernah Alami Bencana Disebut Lebih Peduli Keselamatan Kerja

Riset ini menemukan, perjanjian di atas kertas tidak berujung pada perubahan nyata bagi pekerja meski sebagian besar korporasj memublikasikan komitmen tingkat tinggi dan kode etik pemasok mereka.

Perusahaan dinilai relatif baik dalam aspek kebijakan dan tata kelola, tetapi sangat lemah pada praktik yang berdampak langsung pada pekerja, seperti praktik pembelian yang bertanggung jawab, akses pemulihan bagi korban, kebebasan berserikat, serta pemantauan kondisi kerja di rantai pasok.

Laporan KnowTheChain menyatakan, hanya satu dari lima perusahaan yang mengungkapkan keterlibatan langsung dengan pemegang hak atau perwakilan sah mereka dalam upaya penanganan kerja paksa.

Kinerja Baik dengan Regulasi Kuat

Para analis menemukan, perusahaan yang berkantor pusat di yurisdiksi dengan regulasi kuat cenderung berkinerja lebih baik.

Wilayah Eropa, Amerika, dan Asia sendiri mulai menerapkan undang-undang uji tuntas hak asasi manusia yang bersifat wajib serta larangan impor produk hasil kerja paksa.

“Pemerintah menerapkan hukum yang mewajibkan perusahaan mencegah dan memulihkan praktik kerja paksa dalam rantai pasok mereka, bukan sekadar menyatakan komitmen. Temuan kami menunjukkan banyak perusahaan makanan dan minuman belum siap menghadapi tingkat pengawasan tersebut," ucap Isobel Archer dari Business and Human Rights Centre.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau