Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pohon di Kota Serap Lebih Banyak CO2 Dibanding Emisi Kendaraan

Kompas.com, 5 Maret 2026, 09:11 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Pohon di perkotaan menyerap karbon dioksida (CO2) lebih banyak dibandingkan emisi yang dikeluarkan kendaraan selama musim panas, menurut studi terbaru peneliti Technical University of Munich (TUM), Jerman.

Dalam studi yang dipublikasikan di Earth’s Future, tim peneliti mengembangkan model fluks CO2 biogenik beresolusi tinggi untuk menghitung penyerapan gas tersebut.

Baca juga:

“Studi saat ini menunjukkan bahwa lanskap vegetasi perkotaan sangat heterogen. Analisis beresolusi tinggi kami mengungkap area mana yang benar-benar berdampak pada iklim,” ujar profesor di TUM School of Computation, Information and Technology, Jia Chen dilansir dari Phys.org, Rabu (4/3/2026).

Pohon di perkotaan serap CO2 lebih banyak 

Vegetasi mampu mengimbangi emisi CO2 tahunan dari aktivitas manusia

Pohon di perkotaan bisa menyerap CO2 melebihi emisi kendaraan saat musim panas. Namun, tidak semua ruang hijau berdampak sama.Dok. Freepik/evening_tao Pohon di perkotaan bisa menyerap CO2 melebihi emisi kendaraan saat musim panas. Namun, tidak semua ruang hijau berdampak sama.

Chen menyebut, selama beberapa hari pada musim panas, daya serap karbon dapat menutupi total emisi dari kendaraan di Munich, Jerman, bahkan terkadang melebihinya.

Namun, tidak semua jenis vegetasi memberikan dampak yang sama. Sebab, respirasi tanah melebihi proses fotosintesis, area berumput justru melepaskan lebih banyak CO2 dibandingkan yang diserap sehingga secara tahunan dikategorikan sebagai sumber karbon.

Jia dan timnya mengukur biosfer di lapangan pada taman-taman kota dari April 2024 hingga Februari 2025 untuk memvalidasi hasil model mereka.

Para peneliti di TUM mengembangkan model yang memetakan aliran CO2 di wilayah perkotaan dengan resolusi 10 meter.

"Kami mengembangkan sebuah kerangka kerja untuk memetakan pertukaran CO2 vegetasi di Munich dan Zurich. Kerangka ini menghasilkan estimasi dari jam ke jam dengan resolusi tinggi hingga 10 meter, sehingga mampu menangkap dampak ruang hijau kecil, seperti pohon jalanan individual dan hamparan rumput," jelas dia.

Baca juga: Tinggal Dekat Pohon Bagus untuk Kesehatan Jantung, Ini Alasannya

Pohon di perkotaan bisa menyerap CO2 melebihi emisi kendaraan saat musim panas. Namun, tidak semua ruang hijau berdampak sama. Pohon di perkotaan bisa menyerap CO2 melebihi emisi kendaraan saat musim panas. Namun, tidak semua ruang hijau berdampak sama.

Para peneliti menyatakan, pendekatan beresolusi tinggi ini divalidasi lebih lanjut melalui pengukuran lapangan di taman-taman kota, serta pengukuran menara di wilayah pedesaan.

Hasilnya menunjukkan, vegetasi di Munich mampu mengimbangi sekitar 2,0–2,8 persen emisi CO2 tahunan yang berasal dari aktivitas manusia.

Area yang ditutupi pepohonan menjadi penyerap utama karbon, sedangkan padang rumput cenderung berperan sebagai sumber kecil yang justru melepaskan karbon dioksida.

Menariknya, pada hari-hari tertentu pada musim panas, penyerapan CO2 oleh ruang terbuka hijau sementara waktu melampaui total emisi dari manusia di Munich.

Ke depannya, metode yang diterapkan di Munich dan Zurich, Swiss, akan diaplikasikan ke kota-kota lain.

“Tentu saja, hasil ini harus dilihat dalam konteks yang menyeluruh. Ruang hijau menawarkan keuntungan tambahan dibandingkan permukaan tertutup. Di antaranya, menurunkan suhu kota di musim panas, berfungsi sebagai area resapan, dan meningkatkan kualitas hidup," beber Jia.

Baca juga: Bagai Pedang Bermata Dua, Permintaan AC Naik Meski Perburuk Krisis Iklim

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau