Memasuki musim kemarau, BMKG bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menurunkan hujan dan membasahi lahan gambut agar lebih jenuh air sebelum periode kering mencapai puncaknya.
Kepala BNPB, Suharyanto menyatakan bahwa penanganan karhutla tahun ini difokuskan di enam provinsi prioritas sebagaimana Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2020 yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
"Penanganan dilakukan secara berlapis, mulai dari pencegahan dini oleh pemerintah daerah dan Satgas Darat, hingga dukungan helikopter water bombing apabila kondisi kebakaran semakin meluas," tutur Suharyanto.
Sementara itu, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, melaporkan bahwa luas karhutla pada 2025 seluas 359.619 hektar. Angkanya turun dari 376.805 hektar pada 2024.
Dia berpandangan, berkurangnya karhutla merupakan hasil kerja sama lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, TNI/Polri, serta partisipasi Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan berbagai komunitas lokal.
“Peran BMKG sangat vital dalam menyediakan data prediksi cuaca dan memberikan informasi kepada BNPB untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca yang alhamdulillah berjalan efektif. Begitu juga dengan pasukan darat, baik itu TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, dan elemen lainnya yang bergerak secara sinergis,” terang Raja Juli.
Baca juga: Kemarau Basah, Karhutla 2025 Minimal Harus Serendah 2022
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya