JAKARTA, KOMPAS.com — Fenomena kemarau basah yang sedang terjadi membawa dampak langsung bagi petani. Di tengah musim yang seharusnya kering, hujan justru terus mengguyur lahan, membuat banyak petani merugi karena gagal tanam.
Bayu Dwi Apri Nugroho, pakar agrometeorologi dan perubahan iklim dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), menyebut fenomena ini sebagai anomali cuaca yang perlu diwaspadai.
Ia menjelaskan bahwa kemarau basah adalah musim yang secara normal masuk kemarau, namun tetap disertai hujan dengan intensitas tinggi, seperti yang terjadi sepanjang Mei hingga Juli.
“Tidak sedikit petani mengalami gagal tanam, diakibatkan perhitungan petani yang meleset,” ujar Apri, sebagaimana dikutip dari keterangan tertulis di laman UGM, Selasa (15/7/2025).
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa petani mengira curah hujan akan menurun dan mulai menanam hortikultura seperti cabai atau bawang merah, namun justru lahan terendam air akibat hujan deras yang terus berlanjut.
Baca juga: Kemarau tetapi Hujan, BMKG Minta Petani Cerdas Kelola Air
Kondisi ini bukan hanya membuat petani kesulitan menanam, tapi juga menyebabkan puso atau gagal panen karena lahan tergenang banjir.
Namun, di sisi lain, kemarau basah justru membawa berkah bagi wilayah yang selama ini kering dan bergantung pada hujan, seperti Papua dan kawasan timur Indonesia. Di daerah-daerah tersebut, peningkatan curah hujan justru mendukung kegiatan bertani yang biasanya terkendala oleh kelangkaan air.
Apri menekankan bahwa meski ada sisi positif, dampak negatif dari kemarau basah perlu diantisipasi lebih serius. Risiko bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor meningkat, dan situasi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga Oktober 2025, menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Untuk itu, ia mendorong perlunya langkah-langkah adaptif, mulai dari penyediaan informasi prakiraan cuaca yang lebih rinci hingga ke tingkat desa, hingga edukasi yang berkelanjutan kepada petani terkait anomali iklim lainnya seperti La Niña.
Baca juga: Ahli IPB: Kemarau Basah Bukan karena La Nina, tetapi Sunspot
“Prediksi awal terjadinya La Niña ini bermanfaat dalam membantu perencanaan dan pengelolaan berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, hingga sumber daya air,” jelas Apri.
Ia juga menilai perlunya sistem perlindungan bagi petani yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem, termasuk melalui edukasi yang diperkuat oleh penyuluh pertanian dan penyediaan asuransi panen.
Selain itu, kesiapan sarana dan prasarana seperti pompa air, rehabilitasi irigasi, dan benih tahan genangan harus menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian iklim.
Menurutnya, ini sudah saatnya untuk membangun sistem pertanian yang siap menghadapi cuaca tidak menentu atau La Niña.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya