Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan

Kompas.com, 7 Maret 2026, 10:43 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, hampir 90 persen serangga dan laba-laba di Amerika Utara tidak memiliki status konservasi.

Studi yang diterbikan di PNAS itu menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengukur, melindungi, serta mengakui nilai serangga dan laba-laba sebagai fondasi kesehatan planet, dengan lebih baik.

'Kiamat serangga', istilah yang diberikan beberapa peneliti untuk menggambarkan penurunan keanekaragaman hayati global. Sedangkan arachnida, seperti laba-laba dan kalajengking, yang kerap menimbulkan rasa takut atau jijik, sebenarnya juga berperan penting dalam menjaga fungsi ekosistem.

Baca juga: Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika

Reputasi arachnida di mata manusia mempengaruhi nasibnya yang kurang dipedulikan, berbeda dengan singa atau panda, yang memang pantas menerima perhatian konservasi internasional.

“Mereka membantu penyerbukan dan pengendalian hama secara biologis; mereka dapat berfungsi sebagai pemantau kualitas udara dan air, dan mereka telah meresap ke dalam banyak budaya di seluruh dunia. Bayangkan Aragog dalam seri buku Harry Potter, misalnya," ujar asisten profesor konservasi lingkungan di Universitas Massachusetts Amherst dan penulis senior studi tersebut, Laura Figueroa, dilansir dari Sci Tech Daily.

Serangga dan laba-laba kurang mendapatkan perhatian jika dibandingkan dengan hewan-hewan karismatik populer, seperti singa atau panda. Informasi dasar tentang serangga dan laba-laba sangat kurang, sehingga studi ini bertujuan mendapatkan gambaran keadaan mereka yang lebih jelas.

Kesenjangan Data

Figueroa dan mahasiswa pascasarjana dari Universitas Massachusetts Amherst, Wes Walsh, yang memimpin studi ini, menyusun penilaian konservasi untuk 99.312 spesies serangga dan laba-laba yang diketahui ditemukan di Amerika Utara.

Temuan dari studi mengungkapkan 88,5 persen spesies serangga dan laba-laba tidak memiliki status konservasi.

“Kita sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Hampir tidak ada yang diketahui tentang kebutuhan konservasi sebagian besar serangga dan laba-laba di Amerika Utara," tutu Figueroa.

Berbagai potensi risiko yang dihadapinya spesies serangga dan laba-laba belum pernah dievaluasi secara formal. Imbasnya, para ilmuwan dan pembuat kebijakan tidak memiliki informasi yang dibutuhkan untuk memandu upaya perlindungan.

Baca juga: Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam

Bias Dalam Upaya Perlindungan

Data tentang serangga maupun laba-laba sangat terbatas dan distribusinya tidak merata. Serangga air yang digunakan untuk mengukur kualitas air, seperti lalat capung, lalat batu, dan lalat caddis, jauh lebih sering dipelajari. Apalagi, kelompok yang lebih menarik secara visual, seperti kupu-kupu dan capung, juga menerima perhatian konservasi yang tidak proporsional.

“Arachnida, khususnya, benar-benar kurang mendapat perhatian dalam konservasi; sebagian besar negara bagian bahkan tidak melindungi satu spesies pun. Kita membutuhkan lebih banyak data dan perlindungan untuk serangga, tetapi juga untuk arachnida,” ucap Walsh.

Studi tersebut juga mengidentifikasi pola politik dan ekonomi di balik pengabaian konservasi serangga maupun laba-laba. Negara-negara yang sangat bergantung pada industri ekstraktif, seperti pertambangan, penggalian, serta ekstraksi minyak dan gas, cenderung kurang memberikan perlindungan kepada serangga atau laba-laba. Sebaliknya, negara-negara dengan sikap publik lebih berpusat pada ekologi cenderung melindungi semakin banyak spesies.

Berkaca dari Konservasi Burung

Sebagai perbandingan, Figueroa merujuk pada konservasi burung, yang jauh lebih berhasil dalam melindungi dan melestarikan spesies. Studi menunjukkan bahwa upaya konservasi terbaik diperoleh ketika koalisi dari berbagai organisasi atau lintas negara yang luas dan beragam bersatu.

Baca juga: Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA

Dalam kasus konservasi burung, para pemburu, pengamat burung, organisasi nirlaba, dan banyak kelompok lainnya bersatu untuk mencapai tujuan bersama.

“Serangga dan arachnida lebih dari sekadar objek yang menakutkan. Kita perlu menghargai mereka karena pentingnya peran ekologis mereka, dan itu dimulai dengan mengumpulkan lebih banyak data dan menganggap mereka layak untuk dilestarikan," ujar Walsh.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau