Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi

Kompas.com, 7 Maret 2026, 11:32 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Arus laut Australia Timur menguat dan mendorong air yang lebih hangat lebih jauh ke selatan. Spesies laut yang dulunya sebagian besar terbatas di Queensland, termasuk penyu tempayan yang terancam punah, kini muncul jauh lebih selatan di New South Wales.

Spesies-spesies laut memilih bermigrasi di tempat-tempat yang jarang tercatat sebelumnya.

Perubahan tersebut menuntut strategi konservasi yang baru. Dengan menggunakan pelacak satelit dan teknik penandaan baru, mereka mengikuti pergerakan penyu yang telah direhabilitasi dan penyu liar secara real time. Tujuannya, mengantisipasi ke mana penyu akan bergerak selanjutnya dan koridor migrasi baru mana yang mungkin perlu dilindungi di tahun-tahun mendatang.

Baca juga: Mikroplastik Ancam Populasi Penyu Hijau di Pulau Terpencil

Penyu tempayan yang ditemukan di seluruh dunia, dapat hidup hingga 80 tahun, mencapai panjang 1,2 meter dan berat hingga 180 kg (28 stone). Ciri khasnya, kepala berbentuk kotak, cangkang berwarna coklat kemerahan, dan rahang yang kuat.

Pola migrasi penyu tempayan kompleks, sering menghabiskan waktu puluhan tahun di laut lepas, sebelum kembali ke pantai tempat kelahiran mereka untuk bertelur.

Pergeseran penyu tempayan ke selatan menimbulkan kekhawatiran konservasi yang mendesak.

“Ini bukan tentang di mana penyu hidup sekarang, tetapi tentang di mana penyu akan hidup di masa depan," ujar seorang petugas konservasi yang bekerja pada proyek penandaan penyu di Kebun Binatang Taronga di Sydney, Australia, Phoebe Meagher, dilansir dari The Guardian, Jumat (6/3/2026).

Temperatur Tentukan Jenis Kelamin Penyu

Sebagai penanda krisis iklim, penyu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Suhu pasir menentukan jenis kelamin tukik atau anak penyu yang baru menetas.

Pasir yang lebih dingin menghasilkan jantan. Sedangkan pasir yang lebih panas menghasilkan betina. Saat penyu bermigrasi ke selatan, ketidaksesuaian antara suhu laut dan pasir dapat mengubah rasio jenis kelamin atau mengurangi tingkat kelangsungan hidup.

Arus yang semakin kuat juga dapat mengubah kesesuaian habitat, meningkatkan risiko penyakit, serta mendorong penyu lebih dekat ke manusia. Itu memperparah ketidakpastian bagi spesies yang sudah terancam punah ini.

Seorang petugas veteriner di Kebun Binatang Taronga, Kimberly Vinette Herrin, menyaksikan betapa berisikonya kedekatan habitat penyu tempayan dengan manusia. Penyu tempayan berisiko terjerat yang menyebabkan siripnya diamputasi atau berpotensi tertancap kail. Perubahan pola migrasi juga berisiko membuat penyu terpapar patogen yang tidak dikenal.

Baca juga: Nasib Penyu Belimbing di Jalur Migrasi Mentawai, Sempat Diselamatkan dari Jaring Nelayan Malah Dikonsumsi Warga

“Kami melihat dampak yang jauh lebih besar dari manusia, seperti tali pancing, tabrakan perahu, menelan plastik," ucapnya.

Krisis Iklim

Sebelumnya, studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Animals ini menunjukkan bahwa krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu laut melalui berbagai jalur yang saling berinteraksi.

Selama 17 tahun, para peneliti dari Queen Mary University of London dan LSM Associação Projeto Biodiversidade mempelajari penyu tempayan yang bersarang di Cabo Verde, gugusan pulau terletak di lepas pantai barat Afrika.

Mereka melaporkan bahwa bahwa pemanasan laut memicu peneluran lebih awal pada salah satu populasi penyu tempayan terpenting itu. Di sisi lain, penurunan produktivitas laut mengurangi frekuensi reproduksi penyu tempayan betina dan jumlah telur yang dihasilkan.

"Penyu laut menyesuaikan waktu perkembangbiakan mereka dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kemampuan fleksibilitas yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, bagian Samudra Atlantik yang mereka andalkan untuk makanan menjadi kurang produktif—dan itu secara perlahan mengikis hasil reproduksi mereka," ujar penulis utama studi tersebut di Queen Mary University of London, Fitra Nugraha, dilansir dari Phys.

Bertelur lebih sedikit

Studi mengungkapkan suhu permukaan laut yang lebih hangat menyebabkan penyu tiba dan bertelur lebih awal. Suhu yang lebih tinggi juga memperpendek interval antara peneluran berturut-turut, kemungkinan karena kehangatan mempercepat perkembangan telur.

Baca juga: 93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman

Cerita berubah usai penyu-penyu itu meninggalkan pantai. Karena produktivitas laut menurun di sepanjang tempat makannya di Afrika Barat, penyu betina sekarang mengambil jeda yang lebih lama di antara musim kawin. Yaitu, interval bertelur kembali telah meningkat dari sekitar 2 tahun, menjadi 4 tahun. Ketika kembali, penyu-penyu itu bertelur lebih sedikit. Bahkan, jumlah telur per sarang juga semakin sedikit.

"Dari pantai, semuanya tampak sebagai keberhasilan konservasi—lebih banyak sarang, peneluran lebih awal, banyak aktivitas. Tetapi ketika Anda mengikuti penyu individu selama bertahun-tahun, gambaran yang lebih kompleks muncul. Penyu-penyu tersebut bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit," tutur salah satu penulis utama dan koordinator ilmiah di Associação Projeto Biodiversidade, Kirsten Fairweather.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau