KOMPAS.com - Arus laut Australia Timur menguat dan mendorong air yang lebih hangat lebih jauh ke selatan. Spesies laut yang dulunya sebagian besar terbatas di Queensland, termasuk penyu tempayan yang terancam punah, kini muncul jauh lebih selatan di New South Wales.
Spesies-spesies laut memilih bermigrasi di tempat-tempat yang jarang tercatat sebelumnya.
Perubahan tersebut menuntut strategi konservasi yang baru. Dengan menggunakan pelacak satelit dan teknik penandaan baru, mereka mengikuti pergerakan penyu yang telah direhabilitasi dan penyu liar secara real time. Tujuannya, mengantisipasi ke mana penyu akan bergerak selanjutnya dan koridor migrasi baru mana yang mungkin perlu dilindungi di tahun-tahun mendatang.
Baca juga: Mikroplastik Ancam Populasi Penyu Hijau di Pulau Terpencil
Penyu tempayan yang ditemukan di seluruh dunia, dapat hidup hingga 80 tahun, mencapai panjang 1,2 meter dan berat hingga 180 kg (28 stone). Ciri khasnya, kepala berbentuk kotak, cangkang berwarna coklat kemerahan, dan rahang yang kuat.
Pola migrasi penyu tempayan kompleks, sering menghabiskan waktu puluhan tahun di laut lepas, sebelum kembali ke pantai tempat kelahiran mereka untuk bertelur.
Pergeseran penyu tempayan ke selatan menimbulkan kekhawatiran konservasi yang mendesak.
“Ini bukan tentang di mana penyu hidup sekarang, tetapi tentang di mana penyu akan hidup di masa depan," ujar seorang petugas konservasi yang bekerja pada proyek penandaan penyu di Kebun Binatang Taronga di Sydney, Australia, Phoebe Meagher, dilansir dari The Guardian, Jumat (6/3/2026).
Sebagai penanda krisis iklim, penyu sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Suhu pasir menentukan jenis kelamin tukik atau anak penyu yang baru menetas.
Pasir yang lebih dingin menghasilkan jantan. Sedangkan pasir yang lebih panas menghasilkan betina. Saat penyu bermigrasi ke selatan, ketidaksesuaian antara suhu laut dan pasir dapat mengubah rasio jenis kelamin atau mengurangi tingkat kelangsungan hidup.
Arus yang semakin kuat juga dapat mengubah kesesuaian habitat, meningkatkan risiko penyakit, serta mendorong penyu lebih dekat ke manusia. Itu memperparah ketidakpastian bagi spesies yang sudah terancam punah ini.
Seorang petugas veteriner di Kebun Binatang Taronga, Kimberly Vinette Herrin, menyaksikan betapa berisikonya kedekatan habitat penyu tempayan dengan manusia. Penyu tempayan berisiko terjerat yang menyebabkan siripnya diamputasi atau berpotensi tertancap kail. Perubahan pola migrasi juga berisiko membuat penyu terpapar patogen yang tidak dikenal.
“Kami melihat dampak yang jauh lebih besar dari manusia, seperti tali pancing, tabrakan perahu, menelan plastik," ucapnya.
Sebelumnya, studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Animals ini menunjukkan bahwa krisis iklim memengaruhi reproduksi penyu laut melalui berbagai jalur yang saling berinteraksi.
Selama 17 tahun, para peneliti dari Queen Mary University of London dan LSM Associação Projeto Biodiversidade mempelajari penyu tempayan yang bersarang di Cabo Verde, gugusan pulau terletak di lepas pantai barat Afrika.
Mereka melaporkan bahwa bahwa pemanasan laut memicu peneluran lebih awal pada salah satu populasi penyu tempayan terpenting itu. Di sisi lain, penurunan produktivitas laut mengurangi frekuensi reproduksi penyu tempayan betina dan jumlah telur yang dihasilkan.
"Penyu laut menyesuaikan waktu perkembangbiakan mereka dengan suhu yang lebih hangat, yang menunjukkan kemampuan fleksibilitas yang luar biasa. Namun pada saat yang sama, bagian Samudra Atlantik yang mereka andalkan untuk makanan menjadi kurang produktif—dan itu secara perlahan mengikis hasil reproduksi mereka," ujar penulis utama studi tersebut di Queen Mary University of London, Fitra Nugraha, dilansir dari Phys.
Studi mengungkapkan suhu permukaan laut yang lebih hangat menyebabkan penyu tiba dan bertelur lebih awal. Suhu yang lebih tinggi juga memperpendek interval antara peneluran berturut-turut, kemungkinan karena kehangatan mempercepat perkembangan telur.
Baca juga: 93 Butir Telur Penyu Diselamatkan BKSDA Maluku Demi Penetasan Aman
Cerita berubah usai penyu-penyu itu meninggalkan pantai. Karena produktivitas laut menurun di sepanjang tempat makannya di Afrika Barat, penyu betina sekarang mengambil jeda yang lebih lama di antara musim kawin. Yaitu, interval bertelur kembali telah meningkat dari sekitar 2 tahun, menjadi 4 tahun. Ketika kembali, penyu-penyu itu bertelur lebih sedikit. Bahkan, jumlah telur per sarang juga semakin sedikit.
"Dari pantai, semuanya tampak sebagai keberhasilan konservasi—lebih banyak sarang, peneluran lebih awal, banyak aktivitas. Tetapi ketika Anda mengikuti penyu individu selama bertahun-tahun, gambaran yang lebih kompleks muncul. Penyu-penyu tersebut bekerja lebih keras untuk hasil yang lebih sedikit," tutur salah satu penulis utama dan koordinator ilmiah di Associação Projeto Biodiversidade, Kirsten Fairweather.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya