KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, hampir 90 persen serangga dan laba-laba di Amerika Utara tidak memiliki status konservasi.
Studi yang diterbikan di PNAS itu menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk mengukur, melindungi, serta mengakui nilai serangga dan laba-laba sebagai fondasi kesehatan planet, dengan lebih baik.
'Kiamat serangga', istilah yang diberikan beberapa peneliti untuk menggambarkan penurunan keanekaragaman hayati global. Sedangkan arachnida, seperti laba-laba dan kalajengking, yang kerap menimbulkan rasa takut atau jijik, sebenarnya juga berperan penting dalam menjaga fungsi ekosistem.
Baca juga: Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika
Reputasi arachnida di mata manusia mempengaruhi nasibnya yang kurang dipedulikan, berbeda dengan singa atau panda, yang memang pantas menerima perhatian konservasi internasional.
“Mereka membantu penyerbukan dan pengendalian hama secara biologis; mereka dapat berfungsi sebagai pemantau kualitas udara dan air, dan mereka telah meresap ke dalam banyak budaya di seluruh dunia. Bayangkan Aragog dalam seri buku Harry Potter, misalnya," ujar asisten profesor konservasi lingkungan di Universitas Massachusetts Amherst dan penulis senior studi tersebut, Laura Figueroa, dilansir dari Sci Tech Daily.
Serangga dan laba-laba kurang mendapatkan perhatian jika dibandingkan dengan hewan-hewan karismatik populer, seperti singa atau panda. Informasi dasar tentang serangga dan laba-laba sangat kurang, sehingga studi ini bertujuan mendapatkan gambaran keadaan mereka yang lebih jelas.
Figueroa dan mahasiswa pascasarjana dari Universitas Massachusetts Amherst, Wes Walsh, yang memimpin studi ini, menyusun penilaian konservasi untuk 99.312 spesies serangga dan laba-laba yang diketahui ditemukan di Amerika Utara.
Temuan dari studi mengungkapkan 88,5 persen spesies serangga dan laba-laba tidak memiliki status konservasi.
“Kita sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan mereka. Hampir tidak ada yang diketahui tentang kebutuhan konservasi sebagian besar serangga dan laba-laba di Amerika Utara," tutu Figueroa.
Berbagai potensi risiko yang dihadapinya spesies serangga dan laba-laba belum pernah dievaluasi secara formal. Imbasnya, para ilmuwan dan pembuat kebijakan tidak memiliki informasi yang dibutuhkan untuk memandu upaya perlindungan.
Baca juga: Dua Desa di Kaltim Ditetapkan Jadi Area Konservasi Pesut Mahakam
Data tentang serangga maupun laba-laba sangat terbatas dan distribusinya tidak merata. Serangga air yang digunakan untuk mengukur kualitas air, seperti lalat capung, lalat batu, dan lalat caddis, jauh lebih sering dipelajari. Apalagi, kelompok yang lebih menarik secara visual, seperti kupu-kupu dan capung, juga menerima perhatian konservasi yang tidak proporsional.
“Arachnida, khususnya, benar-benar kurang mendapat perhatian dalam konservasi; sebagian besar negara bagian bahkan tidak melindungi satu spesies pun. Kita membutuhkan lebih banyak data dan perlindungan untuk serangga, tetapi juga untuk arachnida,” ucap Walsh.
Studi tersebut juga mengidentifikasi pola politik dan ekonomi di balik pengabaian konservasi serangga maupun laba-laba. Negara-negara yang sangat bergantung pada industri ekstraktif, seperti pertambangan, penggalian, serta ekstraksi minyak dan gas, cenderung kurang memberikan perlindungan kepada serangga atau laba-laba. Sebaliknya, negara-negara dengan sikap publik lebih berpusat pada ekologi cenderung melindungi semakin banyak spesies.
Sebagai perbandingan, Figueroa merujuk pada konservasi burung, yang jauh lebih berhasil dalam melindungi dan melestarikan spesies. Studi menunjukkan bahwa upaya konservasi terbaik diperoleh ketika koalisi dari berbagai organisasi atau lintas negara yang luas dan beragam bersatu.
Baca juga: Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Dalam kasus konservasi burung, para pemburu, pengamat burung, organisasi nirlaba, dan banyak kelompok lainnya bersatu untuk mencapai tujuan bersama.
“Serangga dan arachnida lebih dari sekadar objek yang menakutkan. Kita perlu menghargai mereka karena pentingnya peran ekologis mereka, dan itu dimulai dengan mengumpulkan lebih banyak data dan menganggap mereka layak untuk dilestarikan," ujar Walsh.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya