KOMPAS.com - Paparan mikroplastik di Pulau Trindade, pulau terpencil di Amerika Selatan, membuat populasi penyu hijau (Chelonia mydas) terancam.
Menurut studi yang dipublikasikan Marine Pollution Bulletin, para peneliti dari Universidade Estadual Paulista (Unesp) mendeteksi batuan plastik di lokasi tersebut.
Baca juga:
Batuan plastik adalah gumpalan plastik dan sedimen alami, yang sebagian besar dihasilkan akibat aktivitas manusia seperti api unggun menggunakan sampah di pantai.
Di Brasil, batuan plastik pertama kali terdeteksi di Parcel das Tartarugas, salah satu pantai di Pulau Trindade, yang terletak 1.100 kilometer dari lepas pantai negara bagian Espírito Santo.
"Studi ini memberikan penilaian dasar lima tahun pertama tentang batuan antropogenik yang berasal dari plastik di Pulau Trindade, Samudra Atlantik Selatan, yang mengarakterisasi pembentukan, transportasi, degradasi, dan penguburannya di dalam lokasi peneluran penyu hijau," tulis para peneliti dalam studinya, dilansir dari Phys.org, Jumat (27/2/2026).
Tim peneliti menyatakan, sarang penyu hijau sangat rentan terhadap akumulasi dan plastik yang terkurbur. Hal ini meningkatkan kemungkinan plastik akan tetap berada dalam waktu lama serta membahayakan konservasi spesies penyu.
Berdasarkan analisis selama lima tahun, peneliti mengungkapkan bahwa batuan plastik yang ditemukan tahun 2019 mengalami erosi dan kehilangan sekitar 40 persen dari ukuran aslinya.
Hal itu menyebabkan terjadi penyebaran fragmen tambahan ke enam pantai di pulau tersebut.
"Salah satu syarat agar Antroposen dianggap sebagai zaman geologi baru, sesuatu yang masih diperdebatkan, adalah keberadaan material buatan manusia yang terkubur di dalam sedimen," kata penulis utama studi, Fernanda Avelar Santos.
"Karena material tersebut berada hingga 10 sentimeter di bawah permukaan di dalam sarang, ini merupakan titik akumulasi potensial untuk jutaan tahun mendatang," imbuh dia.
Dengan menggunakan peralatan spektroskopi, para peneliti menganalisis plastik dari puing yang ditemukan di Pulau Trindade guna mengidentifikasi polimer serta aditif pada sampel.
Santos mengidentifikasi plastik termasuk jenis high density polyethylene (HDPE), dan pewarna yang mengandung tembaga hingga logam.
"Ini menimbulkan kekhawatiran terkait aktivitas maritim seperti perikanan dan pelayaran, yang bertanggung jawab atas sumber polusi laut ini, yang terbesar di dunia," beber Santos.
Puing-puing tersebut juga diklasifikasikan berdasarkan bentuknya untuk menunjukkan mekanisme pengangkutan serta waktu dan jarak yang ditempuhnya.
Bentuk yang lebih bulat dikaitkan dengan daerah yang dekat dengan laut karena gelombang terus-menerus membentuk ulang material tersebut.
Sebaliknya, bentuk yang lebih bersudut dikaitkan dengan penguburan di sarang penyu, material tersebut tetap kurang lebih statis di dalam sedimen dan kurang terpengaruh oleh aksi laut.
"Ini menunjukkan bahwa plastik merupakan bagian dari siklus geologi pantai, dengan karakteristik yang sangat mirip dengan butiran pasir dan pecahan batuan," ucap dia.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya