KOMPAS.com - Koalisi perusahaan yang terdiri dari Amazon, Autodesk, Figma, Google, JPMorganChase, Salesforce, dan Workday mengumumkan peluncuran Superpollutant Action Initiative.
Inisiatif ini bertujuan untuk menyalurkan dana sebesar Rp 1,6 Triliun untuk mendanai solusi-solusi yang mempercepat pengurangan polutan super (superpollutants), yaitu gas-gas yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibandingkan CO2.
Melansir ESG Today, Kamis (5/3/2026) berdasarkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), polutan super bertanggung jawab atas hampir separuh dari pemanasan global hingga saat ini.
Polutan super mencakup gas-gas seperti metana dari bahan bakar fosil atau pertanian, karbon hitam, atau hidrofluorokarbon (HFC) dari bahan pendingin maupun sistem HVAC.
Baca juga: Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok
Polutan super dipancarkan dari berbagai sumber termasuk produksi energi, pertanian, limbah, dan sistem pendingin.
Penghapusan elemen-elemen tersebut menjadi salah satu instrumen jangka pendek paling ampuh untuk mengatasi perubahan iklim.
Pasalnya, meski umumnya bertahan di atmosfer dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan CO2, gas-gas ini mampu memerangkap panas puluhan hingga ribuan kali lebih kuat.
"Polutan super punya peran besar dalam mengerem pemanasan global. Para ahli setuju bahwa menghapus polutan ini adalah salah satu cara paling ampuh yang bisa kita lakukan sekarang untuk hasil yang cepat. Upaya ini sangat penting untuk mendampingi cara lama kita, yaitu mengurangi CO2," ungkap Randy Spock, Kepala Kredit dan Penghapusan Karbon di Google.
"Google sangat bersemangat bisa bekerja sama dengan perusahaan lain untuk mempercepat penghapusan polutan super ini," tambahnya.
Melalui inisiatif baru ini, masing-masing perusahaan akan mencari dan mendanai proyek-proyek berdampak besar yang mampu menangkap atau memusnahkan polutan super di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk menyalurkan dana sebesar sekitar Rp1,6 triliun hingga tahun 2030.
Inisiatif baru ini dikelola oleh Beyond Alliance, sebuah koalisi bisnis yang berfokus pada solusi iklim. Mereka akan mendukung perusahaan-perusahaan yang terlibat melalui penyediaan riset, pelaporan, berbagi pengetahuan, dan berbagai aktivitas lainnya.
Baca juga: Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Beyond Alliance menyatakan bahwa mereka juga bekerja sama dengan Carbon Containment Lab dan para ahli ilmiah untuk membuat roadmap yang memetakan bagaimana dan di mana modal swasta dapat disalurkan untuk memberikan dampak terbesar dalam menghapus polutan super.
“Kita berada di dekade yang menentukan bagi iklim, dan mengurangi polutan super adalah salah satu dari sedikit cara yang bisa mengubah keadaan dengan cepat," papar Luke Pritchard, Direktur Beyond Alliance.
"Inisiatif ini menunjukkan bagaimana perusahaan dapat menyalurkan modal swasta ke tempat yang paling membutuhkannya, membuka solusi yang menurunkan panas bumi, memperbaiki kualitas udara, dan memberikan hasil nyata sekarang juga, sekaligus menciptakan jalan yang jelas untuk diikuti oleh pihak lain,” tambahnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya