Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative

Kompas.com, 7 Maret 2026, 23:05 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG Today

KOMPAS.com - Koalisi perusahaan yang terdiri dari Amazon, Autodesk, Figma, Google, JPMorganChase, Salesforce, dan Workday mengumumkan peluncuran Superpollutant Action Initiative.

Inisiatif ini bertujuan untuk menyalurkan dana sebesar Rp 1,6 Triliun untuk mendanai solusi-solusi yang mempercepat pengurangan polutan super (superpollutants), yaitu gas-gas yang memiliki dampak pemanasan global jauh lebih kuat dibandingkan CO2.

Melansir ESG Today, Kamis (5/3/2026) berdasarkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), polutan super bertanggung jawab atas hampir separuh dari pemanasan global hingga saat ini.

Polutan super mencakup gas-gas seperti metana dari bahan bakar fosil atau pertanian, karbon hitam, atau hidrofluorokarbon (HFC) dari bahan pendingin maupun sistem HVAC.

Baca juga: Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok

Polutan super dipancarkan dari berbagai sumber termasuk produksi energi, pertanian, limbah, dan sistem pendingin.

Penghapusan elemen-elemen tersebut menjadi salah satu instrumen jangka pendek paling ampuh untuk mengatasi perubahan iklim.

Pasalnya, meski umumnya bertahan di atmosfer dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan CO2, gas-gas ini mampu memerangkap panas puluhan hingga ribuan kali lebih kuat.

"Polutan super punya peran besar dalam mengerem pemanasan global. Para ahli setuju bahwa menghapus polutan ini adalah salah satu cara paling ampuh yang bisa kita lakukan sekarang untuk hasil yang cepat. Upaya ini sangat penting untuk mendampingi cara lama kita, yaitu mengurangi CO2," ungkap Randy Spock, Kepala Kredit dan Penghapusan Karbon di Google.

"Google sangat bersemangat bisa bekerja sama dengan perusahaan lain untuk mempercepat penghapusan polutan super ini," tambahnya.

Proyek menghilangkan polutan super

Melalui inisiatif baru ini, masing-masing perusahaan akan mencari dan mendanai proyek-proyek berdampak besar yang mampu menangkap atau memusnahkan polutan super di seluruh dunia. Tujuannya adalah untuk menyalurkan dana sebesar sekitar Rp1,6 triliun hingga tahun 2030.

Inisiatif baru ini dikelola oleh Beyond Alliance, sebuah koalisi bisnis yang berfokus pada solusi iklim. Mereka akan mendukung perusahaan-perusahaan yang terlibat melalui penyediaan riset, pelaporan, berbagi pengetahuan, dan berbagai aktivitas lainnya.

Baca juga: Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim

Beyond Alliance menyatakan bahwa mereka juga bekerja sama dengan Carbon Containment Lab dan para ahli ilmiah untuk membuat roadmap yang memetakan bagaimana dan di mana modal swasta dapat disalurkan untuk memberikan dampak terbesar dalam menghapus polutan super.

“Kita berada di dekade yang menentukan bagi iklim, dan mengurangi polutan super adalah salah satu dari sedikit cara yang bisa mengubah keadaan dengan cepat," papar Luke Pritchard, Direktur Beyond Alliance.

"Inisiatif ini menunjukkan bagaimana perusahaan dapat menyalurkan modal swasta ke tempat yang paling membutuhkannya, membuka solusi yang menurunkan panas bumi, memperbaiki kualitas udara, dan memberikan hasil nyata sekarang juga, sekaligus menciptakan jalan yang jelas untuk diikuti oleh pihak lain,” tambahnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau