Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim, Perusahaan Prioritaskan Ketahanan Rantai Pasok

Kompas.com, 15 Februari 2026, 13:18 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Fenomena cuaca ekstrem, dari banjir dan kekeringan hingga gelombang panas yang berkepanjangan, bisa mengganggu produksi, menghambat pengiriman, dan menaikkan biaya bagi perusahaan di seluruh dunia.

Para ahli memperingatkan bahwa risiko lingkungan di seluruh jaringan pasokan global dapat merugikan bisnis hingga 120 miliar dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 2.019,9 triliun) pada tahun 2026, dilansir dari KnowESG, Jumat (13/2/2026).

Baca juga: 

Bagi banyak organisasi, perdebatan pun kini telah bergeser dari "apakah perlu bertindak" menjadi "seberapa cepat dapat memperkuat ketahanan rantai pasok" mereka.

Perubahan iklim bisa ganggu rantai pasok

Satu peristiwa bisa berdampak besar

Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Satu peristiwa bisa berdampak besar bagi perusahaan di seluruh dunia.KOMPAS.com/ANTONIUS ADITYA MAHENDRA Perubahan iklim bisa mengancam rantai pasok. Satu peristiwa bisa berdampak besar bagi perusahaan di seluruh dunia.

Peristiwa baru-baru ini menunjukkan betapa cepatnya gangguan rantai pasok menyebar.

Pada tahun 2023, banjir besar di Slovenia menghantam pemasok otomotif utama, termasuk produsen tingkat satu (Tier-1) yang melayani produsen mobil besar Eropa.

Kerusakan tersebut memicu efek domino di seluruh industri, yang menyebabkan hilangnya produksi sekitar 150.000 kendaraan secara global.

Produsen mobil seperti Volkswagen bahkan terpaksa mengurangi operasional mereka karena kekurangan komponen.

Kasus-kasus seperti itu mengungkapkan betapa rapuhnya rantai pasokan global modern. Satu peristiwa cuaca di satu wilayah dapat menyebabkan penundaan berminggu-minggu di hilir, tarif pengiriman yang lebih tinggi, dan persediaan yang lebih ketat.

Bagi perusahaan yang beroperasi dengan margin tipis, dampak finansialnya bisa langsung dan parah.

Meskipun guncangan jangka pendek ini mahal, gambaran jangka panjangnya bahkan lebih mengkhawatirkan.

Analis memperkirakan bahwa risiko iklim yang tidak terkendali dapat menyebabkan kerugian global kumulatif sebesar 25 triliun dollar Amerika Serikat (sekitar Rp 420.820 triliun) pada pertengahan abad ini.

Sistem energi mungkin menjadi kurang andal, bahan baku mungkin lebih sulit didapatkan, dan jaringan transportasi menjadi lebih tidak stabil. Tekanan ini dapat memicu inflasi yang berkelanjutan dan membebani perdagangan global.

Ada juga biaya kemanusiaan. Hampir setengah dari populasi dunia mengalami tambahan 30 hari panas ekstrem hanya dalam satu tahun, yang memengaruhi keselamatan pekerja, hasil pertanian, dan produktivitas.

Ketika manusia tidak dapat bekerja dengan aman atau tanaman gagal panen, kelangsungan bisnis pasti berisiko.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau