Skenario ketiga adalah voluntary revival, atau pemerintah negara-negara di dunia hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempedulikan lingkungan.
Imbasnya, pemerintah negara-negara di dunia tidak menyusun regulasi yang ketat untuk melindungi lingkungan dan membiarkan perusahaan-perusahaan menghasilkan emisi GRK dalam jumlah besar tanpa memungut pajak karbon sama sekali.
Perusahaan-perusahaan membeli kredit karbon bukan dipaksa, melainkan justru sebagai strategi pencitraan kepada konsumennya.
Mereka menggarisbawahi bahwa perusahaannya sudah "menebus" (offset) emisi GRK dengan menanam pohon melalui pembelian kredit karbon.
Permintaan kredit karbon akan mengalami kenaikan drastris, bahkan melebihi pasokan yang ada, mengingat perusahaan-perusahaan dengan konsumen besar berebut produk ini.
"Kalau kata anak sekarang mah yang keren, bagus community development-nya, ada aspek kebudayaannya. Jadi karena tingginya permintaan kredit untuk yang bagus, pasar itu menjadi langka. Otomatis harganya naik, tetapi enggak 'gila'," ucapnya.
Baca juga:
Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat. Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?
Keempat, domestic carbon pricing, atau pemerintah negara-negara sangat aktif menerbitkan regulasi, dengan setiap ton emisi GRK yang dihasilkan pelaku usaha harus dibayar pajak karbon.
Perusahaan-perusahaan dengan emisi GRK tinggi, seperti industri semen, pembangkit listik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara, dan pabrik pupuk, berisiko mendapatkan denda terbesar.
Biasanya, pemerintah sudah memberi jalan keluar dan jika emisi GRK yang dihasilkan tetap di atas ambang batas, perusahaan-perusahaan diarahkan untuk membeli karbon kredit untuk 'menutupi' kelebihannya. Kondisi itu disebut compliance market atau pasar berbasis kepatuhan.
Namun, tingginya permintaan karbon kredit tidak selaras dengan kenaikan harganya. Sebab, perusahaan-perusahaan mempertimbangkan opsi berdasarkan harga termurah yang harus dibayarkan.
Misalnya, perusahaan-perusahaan cenderung memutuskan mengganti bahan bakar fosil ke EBT saat biayanya lebih murah daripada membeli karbon kredit.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya