KOMPAS.com — Musim Mas menegaskan komitmennya memperkuat pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender sebagai bagian dari upaya membangun industri kelapa sawit yang inklusif dan berkelanjutan.
Bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Nasional yang jatuh pada 9 Maret 2026, perusahaan kelapa sawit terintegrasi yang beroperasi di 14 negara itu menyatakan bahwa peran perempuan tidak hanya penting dalam mendorong keberlanjutan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi bisnis jangka panjang.
Oleh karena itu, kesetaraan gender diposisikan bukan semata sebagai tanggung jawab moral, melainkan fondasi dalam memperkuat operasional perusahaan dan komunitas di sekitar wilayah kerja.
Komitmen tersebut dijalankan melalui sejumlah inisiatif, mulai dari penguatan Komite Gender di lingkungan operasional hingga Women Smallholders Program (WSP) di tingkat komunitas.
Baca juga: IPB University dan Musim Mas Renovasi Ruang Publik
Komitmen Musim Mas untuk menempatkan gender equity dan women empowerment sebagai salah satu strategi prioritas perusahaan, kini juga diperkuat dalam Sustainability Roadmap Musim Mas 2026–2030.
General Manager Sustainability Musim Mas Vivi Anita mengatakan, program pemberdayaan perempuan tidak sekadar menjadi bentuk praktik bisnis yang bertanggung jawab, tetapi juga investasi terhadap sumber daya manusia SDM.
Tujuannya, kata Vivi, untuk meningkatkan ketahanan operasional perusahaan dan juga mendorong kedaulatan dan kemandirian perempuan.
“Upaya ini merupakan tahapan penting dalam menuju kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” ujar saat pemaparan Program Pemberdayaan Wanita pada webinar bertajuk “Strengthening Business Resilience through Sustainability” seperti dikutip rilis pers yang diterima Kompas.com, Jumat (6/3/2026).
Musim Mas memperkuat peran Komite Gender di operasionalnya melalui program kolaborasi dengan DIWA untuk mendorong perlindungan, mendukung partisipasi, dan kontribusi strategis perempuan. Upaya ini tidak hanya mendorong perubahan untuk membenahi sistem, tetapi juga membentuk pola pikir dan budaya kerja yang lebih inklusif.Di lingkungan operasional, Musim Mas mengandalkan Komite Gender sebagai salah satu instrumen utama untuk menciptakan tempat kerja yang aman, bermartabat, dan inklusif bagi pekerja perempuan.
Komite itu dibentuk sejak 2008 dan berperan dalam memperkuat perlindungan terhadap perempuan. Komite ini turut mendukung partisipasi serta kontribusi strategis perempuan di seluruh unit operasional perusahaan.
Untuk memperkuat pelaksanaannya, Musim Mas juga bekerja sama dengan Dignity in Work For All (DIWA), organisasi nirlaba global yang berfokus pada pemenuhan hak dan martabat pekerja.
Baca juga: Musim Mas Salurkan Bantuan untuk Ribuan Keluarga Korban Banjir di Sumatera
Kolaborasi itu mencakup sejumlah kegiatan, seperti penilaian, diskusi kelompok terarah bersama pekerja, serta pelatihan bagi anggota Komite Gender dan pekerja, baik di kebun maupun pabrik.
Melalui pendekatan tersebut, perusahaan mendorong perubahan yang tidak hanya menyentuh aspek struktural, tetapi juga pola pikir dan budaya kerja sehari-hari. Inisiatif ini juga membuka ruang aman bagi pekerja perempuan untuk menyampaikan aspirasi dan pengalaman mereka.
Pada saat yang sama, program itu juga memperkuat mekanisme penanganan isu sensitif, seperti diskriminasi, kekerasan berbasis gender, dan pelecehan seksual, dengan pendekatan yang berpusat pada penyintas.
Musim Mas bekerja sama dengan organisasi nirlaba global yang berfokus pada pemenuhan hak dan martabat pekerja, Dignity in Work For All (DIWA) untuk menyelenggarakan sejumlah kegiatan, seperti penilaian, diskusi kelompok terarah bersama pekerja, serta pelatihan bagi anggota Komite Gender dan pekerja, baik di kebun maupun pabrik.Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman mengenai kesetaraan gender, memperkuat kepemimpinan perempuan, serta mendorong keterlibatan laki-laki sebagai pendukung aktif dalam perubahan sosial.
Bagi Musim Mas, pemberdayaan perempuan bukan sekadar program tersendiri, melainkan bagian integral dari strategi keberlanjutan perusahaan.
Melalui Komite Gender, perusahaan berupaya mendorong akses dan kesempatan yang setara bagi perempuan di berbagai peran dan jenjang kepemimpinan serta mengakui peran ganda perempuan sebagai pekerja dan anggota keluarga.
Tidak hanya di tingkat operasional, Musim Mas juga memperluas upaya pemberdayaan perempuan ke tingkat komunitas melalui WSP.
Program itu ditujukan bagi pekebun perempuan dan istri pekebun dengan fokus pada penguatan kapasitas sosial dan ekonomi. Dengan begitu, mereka dapat berkontribusi lebih besar dalam keluarga, usaha perkebunan, dan komunitas.
Baca juga: Musim Mas Dukung Percepatan ISPO untuk Pekebun Swadaya
WSP dirancang untuk menjawab tantangan yang dihadapi perempuan di kawasan perkebunan melalui pelatihan nutrisi dan kesehatan keluarga, literasi keuangan, serta pengembangan peluang bisnis.
Pada 2023, tahap pertama program itu dijalankan di tiga kabupaten di Riau melalui kolaborasi dengan akademisi dari Universitas Sumatera Utara (USU) dan lembaga keuangan nasional.
Hasil implementasi awal menunjukkan sejumlah capaian. Lebih dari 500 perempuan mengikuti pelatihan nutrisi dan kesehatan keluarga yang disertai pemantauan perubahan perilaku kesehatan.
Sementara itu, sebanyak 574 perempuan mengikuti pelatihan literasi keuangan untuk memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga.
Program itu juga melahirkan tiga kelompok bisnis perempuan yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan usaha sembako.
Saat ini, ketiga kelompok tersebut telah menjalankan usaha untuk memenuhi kebutuhan sembako masyarakat dan warung sekitar dengan aset rata-rata mencapai Rp 80 juta per kelompok.
Dosen Agribisnis USU Prof Ir Diana Chalil, MSi, PhD yang turut terlibat dalam pendampingan WSP menilai bahwa inisiatif itu merupakan langkah strategis.
Ia menjelaskan, pekebun rakyat umumnya dikelola sebagai usaha keluarga dengan perempuan memegang peran penting, baik sebagai tenaga kerja maupun pengelola keuangan rumah tangga.
“Oleh karena itu, upaya meningkatkan kinerja dan keberlanjutan perkebunan sawit rakyat perlu secara aktif melibatkan dan memberdayakan perempuan,” katanya.
Salah satu implementasi Women Smallholders Program adalah terbentuknya tiga kelompok bisnis perempuan yang mendapatkan pelatihan dan pendampingan usaha sembako yang berlokasi di tiga kabupaten di Riau.Musim Mas akan terus memperkuat kapasitas Komite Gender, mengintegrasikan pembelajaran dari program yang berjalan ke dalam sistem manajemen perusahaan, serta memperluas jangkauan Women Smallholders Program ke berbagai wilayah.
Melalui pendekatan yang kolaboratif dan berkelanjutan, perusahaan menegaskan komitmennya untuk memastikan perempuan tidak hanya terlindungi, tetapi juga memiliki ruang untuk tumbuh.
Perempuan juga diharapkan dapat didengar pendapatnya, diakui kontribusinya, dan mengambil peran sebagai agen perubahan dalam mendorong industri kelapa sawit yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya