Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya

Kompas.com, 9 Maret 2026, 18:13 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat seiring meningkatnya kebutuhan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK).

Apalagi, banyak negara sudah menetapkan target dekarbonisasi mereka untuk mengatasi krisis iklim, dengan fokus menurunkan emisi GRK di bawah dua derajat celsius berdasarkan Perjanjian Paris.

Baca juga:

Bahkan, Uni Eropa (UE) sudah mengenakan tarif atau pajak karbon terhadap barang impor tertentu berdasarkan emisi yang dihasilkan selama produksi melaui kebijakan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM).

UE ingin mencapai target net zero emission (NZE) lebih awal dari Indonesia. Oleh karena itu, kebutuhan atas instrumen untuk mengurangi emisi GRK, seperti pasar karbon, masih akan tetap ada. Saat ini, pasar karbon di Indonesia sedang memasuki tahap "pematangan", perlu didorong agar lebih kredibel.

"Jadi itu sebenarnya bukan tentang naik turun harga kalau menurut keyakinan saya ya, tetapi lebih ke transformasi menuju pasar karbon yang lebih berkualitas dan berintegritas. Mungkin kita dalam jangka waktu panjang, kalau integritas pasar bisa dijaga, pasar karbon akan menjadi instrumen penting nantinya potensi baik untuk menjadi transisi ekonomi rendah karbon," kata Carbon & Sustainability Consultant Vice Chair - ACEXI, Regina Inderadi dalam Forum Outlook Pasar Karbon Indonesia 2026, Jumat (6/3/2026).

Tren pasar karbon diprediksi menguat

Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?

Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat. Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?Dok. Freepik/freestockcenter Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat. Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?

Pasar karbon dipengaruhi semakin ketatnya peraturan produksi dan sampai sejauh mana pemerintah mengintegrasikan kredit karbon ke dalam kebijakan iklim nasional.

Dengan demikian, arah gerak pasar karbon ke depannya akan tergantung intervensi pemerintah dan peraturan dari lembaga sertifikasi.

Terdapat empat skenario kemungkinan arah gerak pasar karbon ke depannya. Pertama, market fragmantion, yang mana pasar karbon terfragmentasi atau terpecah, dengan lembaga sertifikasi membuat aturan sangat ketat.

Kredit karbon yang dulunya laku, seperti proyek konversi energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT), sudah mulai tidak bernilai bagus.

Di sisi lain, pemerintah negara-negara disebut memilih "diam", dengan tidak mewajibkan perusahaan membeli kredit. Pemerintah negara-negara juga tidak memberikan insentif dan membiarkan pasar karbon berjalan dengan sendirinya.

Sejumlah perusahaan-perusahaan raksasa berbasis di Silicon Valey, Amerika Serikat, atau Singapura kemungkinan mau membeli karbon kredit paling bagus.

Akan tetapi, perusahan-perusahaan menengah dan kecil dengan uang terbatas tentunya memilih "mundur" dari pasar karbon.

"Maksudnya, ngapain (beli kredit karbon), enggak ada yang menyuruh dan harganya mahal pula. Rata-rata mundur dan pasar mengecil, volume transaksi turun, menyisakan yang premium. Ibaratnya, seperti pasar barang mewah sekarang, eksklusif," tutur Strategic Partnership and Marketing Manager Pertamina NRE, M. Taufik.

Baca juga:

Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat. Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?Freepik/wirestock Tren pasar karbon ke depan diprediksi semakin menguat. Apa saja skenario arah gerak pasar karbon ke depannya?

Kedua, carbon diplomacy, yang mana pemerintah negara-negara dunia selatan (Global South) kompak tidak "mengotori" bumi, dengan tidak menebang pohon atau menghasilkan emisi GRK dari berbagai kegiatan ekonomi lainnya.

Dengan kondisi demikian, Global South menuntut negara-negara dunia utara (Global North) memberikan kompensasi atas layanan melindungi lingkungan.

Skema perdagangan karbon antarnegara di bawah payung Artikel 6 Perjanjian Paris untuk mengurangi emisi GRK secara global.

"Di sini yang beli itu bukan perusahaan swasta lagi, tetapi lebih ke pemerintah melalui perjanjian bilateral. Misalnya, Norway (Norwegia)membeli 10 juta ton (karbon dioksida atau CO2) dari Indonesia, syaratnya harus berkualitas tinggi, enggak boleh main-main dan pakai standar internasional yang ketat," tutur Taufik.

Kata dia, proyek perdagangan karbon dengan teknologi canggih atau mencakup reboisasi hutan berskala besar yang terbukti secara ilmiah cukup laku di pasar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau