Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia

Kompas.com, 9 Maret 2026, 20:09 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Padang lamun termasuk ekosistem pesisir yang sering luput dari perhatian. Secara global, luasan padang lamun diperkirakan mencapai sekitar 300.000 sampai 600.000 kilometer persegi. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mempunyai luasan padang lamun sekitar 660.000 hektar.

Menurut Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Asep Hidayat, Indonesia merupakan salah satu pusat keanekaragaman padang lamun dunia.

Baca juga:

Padang lamun mengemban berbagai macam fungsi ekologis, salah satunya kemampuan meredam daya gelombang dan mengurangi abrasi. Padang lamun juga menstabilkan sedimen dan menjaga kejernihan air perairan.

"Ini saya kira bagus sekali ini, apalagi ada polutan dan lain-lain, ini menjadi penstabil ya, bukan hanya saya kira sedimen tapi polutan juga bisa diabsorbsi oleh lamun ini. Juga menjadi habitat penting biota laut, termasuk ikan, vertebrata, dan spesies-spesies lain yang bernilai ekonomi," ujar Asep dalam webinar menjaga dalam Senyap: Padang Lamun, Sang Pelindung Pesisir dan Pengendali Iklim Global, Senin (2/3/2026).

Apa manfaat padang lamun di Indonesia?

Diperkirakan bisa simpan hingga ratusan juta karbon

Ilustrasi lamun dugong (Thalassia hemprichii). Sebagai pelindung alam pesisir, padang lamun memiliki beragam manfaat, termasuk untuk lingkungan. Simak selengkapnya.Dok. Wikimedia Commons/Ghofar Ismail Putra Ilustrasi lamun dugong (Thalassia hemprichii). Sebagai pelindung alam pesisir, padang lamun memiliki beragam manfaat, termasuk untuk lingkungan. Simak selengkapnya.

Selain dari sisi ekologis, padang lamun bisa berkontribusi sangat besar terhadap perekonomian jika mengkuantifikasi dan memperdagangkannya sebagai penyerap karbon biru yang efisien.

Secara global, padang lamun diperkirakan menyimpan sekitar 10-12 persen cadangan karbon laut dangkal.

Padang lamun memiliki kemampuan menyimpan karbon organik di dalam sedimen dasar laut dengan jangka waktu sangat lama, yang memosisikannya sebagai ekosistem penting untuk mitigasi krisis iklim. Area ini menyimpan hingga 83.000 metrik ton karbon per kilometer persegi di dalam sedimennya.

"Ini baru dalam sedimennya, apalagi dalam mungkin nanti dalam lamunnya itu sendiri mungkin kecil ya, tapi ini menjadi potensi," tutur Asep.

Padang lamun di Indonesia diperkirakan dapat menyimpan puluhan hingga ratusan juta karbon, menjadikannya aset penting bagi strategi mitigasi krisis iklim nasional sekaligus sumber ekonomi ke depannya.

Baca juga:

Tantangan padang lamun di Indonesia

Ilustrasi lamun dugong. Sebagai pelindung alam pesisir, padang lamun memiliki beragam manfaat, termasuk untuk lingkungan. Simak selengkapnya.Dok. Wikimedia Commons/Mudasir Zainuddin Ilustrasi lamun dugong. Sebagai pelindung alam pesisir, padang lamun memiliki beragam manfaat, termasuk untuk lingkungan. Simak selengkapnya.

Eksistensi padang lamun di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang serius. Di antaranya, tekanan pembangunan di pesisir, sedimentasi, alih fungsi lahan di kawasan hulu, pencemaran, aktivitas penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, serta degradasi padang lamun akibat krisis iklim.

Asep menuturkan, BRIN berencana memperkuat riset, pemetaan, dan monitoring padang lamun dengan alat yang beresolusi tinggi.

Nantinya, ekosistem padang lamun di Indonesia akan dikategorikan dalam kondisi yang sehat, dan mengalami kerusakan sedang atau berat.

"Karena memang padang lamun ini di bawah perairan yang kadang-kadang bisa terdeteksi oleh citra ataupun tidak terdeteksi. Nah ini bagaimana cara menyelesaikannya nanti ke depan dengan berbagai macam skala untuk mengetahui dinamika luasan, kondisi kesehatan ekosistem," ucapnya.

Selain itu, BRIN akan mengkaji padang lamun sebagai karbon biru yang lebih terstandar. BRIN akan mencari standar metode baru yang lebih efektif dan akurat dalam pengukuran stok maupun laju akumulasi karbon.

"Ya tahun ini kita akan segera meluncurkan ya berbagai macam program riset yang berkaitan berkaitan dengan karbon asesmen ini," ujar Asep.

BRIN juga akan meneliti konektivitas antara ekosistem pesisir. Mulai dari lamun, mangrove, sampai terumbu karang, untuk mendukung pengelolaan berbasis lanskap.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau