Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Arus Teluk di Atlantik Jadi Peringatan Dini Bagi Eropa

Kompas.com, 10 Maret 2026, 10:45 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perubahan pada arus laut Gulf Stream di Samudra Atlantik dapat menjadi sinyal peringatan dini kemungkinan runtuhnya Sirkulasi Balik Meridional Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation/AMOC), salah satu sistem arus laut terpenting di dunia.

AMOC merupakan sistem sirkulasi besar yang berfungsi seperti sabuk konveyor, memindahkan panas dari wilayah tropis menuju Atlantik Utara.

Gulf Stream sendiri merupakan bagian dari sistem tersebut yang mengalir di sepanjang pantai timur Amerika Serikat sebelum bergerak ke arah Eropa.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi

Para ilmuwan memperingatkan bahwa keruntuhan AMOC dapat memicu perubahan iklim yang drastis, terutama di Eropa, yang berpotensi mengalami penurunan suhu secara signifikan.

Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Penelitian Kelautan dan Atmosfer di Universitas Utrecht, Belanda. Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment.

Simulasi Keruntuhan Arus Laut

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggunakan simulasi laut beresolusi tinggi untuk memodelkan bagaimana AMOC dapat melemah dan akhirnya runtuh.

Dalam model tersebut, peneliti secara bertahap menambahkan air tawar ke Atlantik Utara untuk mensimulasikan pencairan lapisan es.

Penambahan air tawar ini menurunkan kadar garam di laut, yang kemudian memperlambat sirkulasi laut hingga akhirnya menghentikan arus konveyor AMOC.

Saat sirkulasi melemah, model menunjukkan bahwa Gulf Stream mencapai titik kritis dan tiba-tiba bergeser sekitar 219 kilometer ke utara hanya dalam waktu dua tahun.

Perubahan drastis ini terjadi sekitar 25 tahun sebelum AMOC runtuh dalam simulasi, sehingga dinilai berpotensi menjadi sinyal peringatan dini di dunia nyata.

Tanda Peringatan Mulai Terlihat

Para peneliti kemudian membandingkan hasil simulasi tersebut dengan data satelit selama 30 tahun terakhir serta catatan pengamatan laut dalam sejak 1965.

Hasilnya menunjukkan beberapa tanda yang sejalan dengan model tersebut. Salah satunya adalah pergeseran Gulf Stream ke arah utara dari wilayah dekat Cape Hatteras di Carolina Utara, Amerika Serikat.

Baca juga: Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim

Pergerakan ini juga menyebabkan perairan di wilayah tersebut menghangat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, Arus Batas Barat Dalam atau Deep Western Boundary Current, yang mengalir di bawah Gulf Stream, juga terdeteksi melemah baik dalam data pengamatan maupun dalam simulasi.

Para peneliti menilai temuan tersebut memberikan bukti tidak langsung bahwa AMOC saat ini sedang mengalami pelemahan.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa keruntuhan AMOC masih dapat dihindari. Namun hasil penelitian menunjukkan sistem sirkulasi laut tersebut kemungkinan mendekati titik kritis lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
Peringati Kemenangan Lawan Nazi, Rusia Tanam Mangrove di Jakarta
LSM/Figur
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau