KOMPAS.com - Perubahan pada arus laut Gulf Stream di Samudra Atlantik dapat menjadi sinyal peringatan dini kemungkinan runtuhnya Sirkulasi Balik Meridional Atlantik (Atlantic Meridional Overturning Circulation/AMOC), salah satu sistem arus laut terpenting di dunia.
AMOC merupakan sistem sirkulasi besar yang berfungsi seperti sabuk konveyor, memindahkan panas dari wilayah tropis menuju Atlantik Utara.
Gulf Stream sendiri merupakan bagian dari sistem tersebut yang mengalir di sepanjang pantai timur Amerika Serikat sebelum bergerak ke arah Eropa.
Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Serangga di Daerah Tropis Sulit Beradaptasi
Para ilmuwan memperingatkan bahwa keruntuhan AMOC dapat memicu perubahan iklim yang drastis, terutama di Eropa, yang berpotensi mengalami penurunan suhu secara signifikan.
Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Institut Penelitian Kelautan dan Atmosfer di Universitas Utrecht, Belanda. Hasil studi tersebut dipublikasikan dalam jurnal Communications Earth & Environment.
Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan menggunakan simulasi laut beresolusi tinggi untuk memodelkan bagaimana AMOC dapat melemah dan akhirnya runtuh.
Dalam model tersebut, peneliti secara bertahap menambahkan air tawar ke Atlantik Utara untuk mensimulasikan pencairan lapisan es.
Penambahan air tawar ini menurunkan kadar garam di laut, yang kemudian memperlambat sirkulasi laut hingga akhirnya menghentikan arus konveyor AMOC.
Saat sirkulasi melemah, model menunjukkan bahwa Gulf Stream mencapai titik kritis dan tiba-tiba bergeser sekitar 219 kilometer ke utara hanya dalam waktu dua tahun.
Perubahan drastis ini terjadi sekitar 25 tahun sebelum AMOC runtuh dalam simulasi, sehingga dinilai berpotensi menjadi sinyal peringatan dini di dunia nyata.
Para peneliti kemudian membandingkan hasil simulasi tersebut dengan data satelit selama 30 tahun terakhir serta catatan pengamatan laut dalam sejak 1965.
Hasilnya menunjukkan beberapa tanda yang sejalan dengan model tersebut. Salah satunya adalah pergeseran Gulf Stream ke arah utara dari wilayah dekat Cape Hatteras di Carolina Utara, Amerika Serikat.
Baca juga: Kurangnya Data Karbon Laut Bisa Hambat Mitigasi Perubahan Iklim
Pergerakan ini juga menyebabkan perairan di wilayah tersebut menghangat lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Selain itu, Arus Batas Barat Dalam atau Deep Western Boundary Current, yang mengalir di bawah Gulf Stream, juga terdeteksi melemah baik dalam data pengamatan maupun dalam simulasi.
Para peneliti menilai temuan tersebut memberikan bukti tidak langsung bahwa AMOC saat ini sedang mengalami pelemahan.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa keruntuhan AMOC masih dapat dihindari. Namun hasil penelitian menunjukkan sistem sirkulasi laut tersebut kemungkinan mendekati titik kritis lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya