Penulis
KOMPAS.com - Tim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan spesies tanaman baru anggota keluarga aroid atau talas-talasan, endemik Sumatera Utara. Namanya Homalomena lingua-felis.
"Nama lingua-felis berasal dari bahasa Latin lingua dan feles yang berarti lidah dan kucing, merujuk pada tekstur unik permukaan daunnya," kata Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad Rifqi Hariri, dilansir dari Antara, Selasa (10/3/2026).
Baca juga:
Para peneliti membandingkan tanaman ini dengan spesies Homalomena pexa. Meski terlihat mirip, keduanya memiliki perbedaan baik dari sisi bentuk fisik (morfologi) maupun dari sisi genetiknya.
Dalam penemuan ini, BRIN bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), IPB University, Universitas Lampung, Botani Tropika Indonesia, dan Jungle Farm Nursery.
Para peneliti menemukan spesies ini di wilayah Tapanuli, tepatnya di wilayah Batang Toru.
Rifqi menjelaskan, permukaan atas daunnya dipenuhi rambut lebat sehingga menciptakan tekstur yang sangat mirip dengan lidah kucing saat disentuh.
Selain itu, ada ciri fisik lain yang mencolok. Tangkai daunnya cenderung lebih pendek, permukaan bawah daun dan tangkainya juga terlihat berbintil. Bahkan, struktur bunga jantannya memiliki bentuk menyerupai kerucut.
Untuk memastikan ini adalah spesies baru, tim melakukan perjalanan jauh. Ekspedisi lapangan dilakukan pada Januari 2024 lalu untuk mencari sampel di habitat aslinya. Tanaman ini ternyata suka tumbuh di dinding batu sekitar air terjun.
Tim mengambil sampel dan membawanya ke laboratorium. Mereka melakukan analisis DNA untuk melihat hubungan kekerabatannya.
Hasilnya memperkuat posisi Homalomena lingua-felis sebagai spesies baru bagi ilmu pengetahuan.
Temuan ini sudah resmi dipublikasikan secara internasional, tepatnya jurnal PhytoKeys Volume 271. Judul artikel ilmiahnya adalah "A new densely-haired aroid species of Homalomena (Araceae) from North Sumatra, Indonesia".
Kamu juga bisa mengaksesnya lewat tautan https://doi.org/10.3897/phytokeys.271.172410.
Baca juga:
Meskipun baru ditemukan, tanaman ini menghadapi tantangan besar. Berdasarkan kriteria IUCN (International Union for Conservation of Nature), spesies ini diusulkan berstatus rentan atau vulnerable. Sebarannya sangat terbatas dan sempit.
Ada beberapa ancaman yang menghantui keberadaannya, salah satunya risiko kebakaran hutan di habitat aslinya.
Tidak hanya itu, bentuknya yang estetik menyebabkan pengambilan secara ilegal. Banyak orang mungkin tergoda menjadikannya tanaman hias tanpa izin.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya