Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BRIN Kembangkan AI untuk Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Kompas.com, 12 Maret 2026, 13:41 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung pertanian presisi dan ketahanan pangan nasional.

Kepala PRSDI BRIN, Esa Prakasa menegaskan pentingnya penguatan sistem manajemen dan pemantauan fenologi padi guna menjaga stabilitas produksi di tengah tantangan perubahan penggunaan lahan dan variabilitas iklim.

"Integrasi data multi dimensi dan teknologi berbasis AI federated learning membuka peluang untuk membangun sistem pertanian yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis data," katanya dikutip dari Antara, Kamis (12/3/2026).

Baca juga: Riset Akademisi Soroti Pentingnya Sistem Pangan Lokal yang Tangguh

Esa menyebut inovasi ini tidak hanya mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

Ia menjelaskan pemantauan fenologi padi, mulai dari tahap penanaman, perkembangan vegetatif, fase reproduktif, hingga panen, merupakan komponen krusial dalam perencanaan pertanian.

Menurut Esa, selama ini metode konvensional berbasis survei lapangan memiliki keterbatasan cakupan spasial, biaya tinggi, dan tidak mampu memberikan informasi secara real-time.

Ia memaparkan perkembangan teknologi penginderaan jauh membuka peluang baru melalui analisis citra satelit optik dan radar, termasuk indeks vegetasi (NDVI) dan polarisasi radar (VV, VH), dapat dikombinasikan dengan pendekatan data multi dimensi untuk mengotomatisasi klasifikasi tahap pertumbuhan tanaman.

"Integrasi teknologi ini memungkinkan pemantauan fenologi yang lebih akurat secara spasial dan temporal, mendukung pengembangan sistem pertanian presisi," ujarnya.

Sementara itu, Federated Learning (FL) hadir sebagai paradigma pembelajaran mesin terdistribusi yang memungkinkan petani, pemerintah, dan institusi riset melatih model AI secara kolaboratif tanpa harus memusatkan atau membagikan data mentah.

Baca juga: PBB: 55 Juta Orang di Afrika Tengah dan Barat Terancam Krisis Pangan

Dengan konsep “membawa kode ke data”, FL memungkinkan pengembangan model AI yang aman dan terdesentralisasi.

"Ketika dipadukan dengan data multidimensi, seperti data citra satelit, data kondisi di lapangan, dan algoritma yang dikembangkan dengan menggunakan tool GeoAI, pendekatan ini berpotensi menghasilkan sistem pemodelan fenologi padi yang lebih adaptif, skalabel, dan partisipatif untuk berbagai wilayah pertanian di Indonesia," tutur Esa Prakasa.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau