Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB: 55 Juta Orang di Afrika Tengah dan Barat Terancam Krisis Pangan

Kompas.com, 24 Januari 2026, 16:04 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program Pangan Dunia (WFP), PBB memperingatkan sekitar 55 juta orang di Afrika Tengah dan Barat diperkirakan akan mengalami kelaparan tingkat krisis tahun ini seiring dengan pemotongan bantuan kemanusiaan dari AS dan negara-negara lain.

Empat negara yaitu Nigeria, Chad, Kamerun, dan Niger menyumbang 77 persen dari kerawanan pangan tersebut, dengan sekitar 15.000 orang di Nigeria saat ini terancam kelaparan hebat untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade.

Melansir Independent, Jumat (23/1/2026) konflik merupakan faktor risiko utama di negara-negara ini, termasuk dengan kelompok Boko Haram.

Dampak krisis iklim yang semakin meningkat juga turut memperburuk situasi kemanusiaan, dengan peristiwa cuaca ekstrem yang berulang termasuk banjir dan kekeringan yang menghancurkan aktivitas pertanian yang menyerap sekitar 60 persen tenaga kerja di Afrika Barat dan Tengah.

Baca juga: Laut Kunci Atasi Krisis Pangan Dunia, tapi Indonesia Tak Serius Menjaga

Pada tahun 2025, sebagai contoh, hujan deras dan banjir parah berdampak pada lebih dari 841.000 orang di seluruh wilayah tersebut.

Wilayah yang paling parah terdampak adalah Nigeria di mana sebanyak 334.000 orang terdampak dan Niger dengan 305.000 orang menanggung imbas krisis iklim.

Pemotongan bantuan luar negeri

Sektor kemanusiaan pun pada akhirnya sebagian besar juga dibiarkan tak berdaya sebagai akibat dari pemotongan bantuan luar negeri oleh negara-negara kaya.

Pada tahun 2025 WFP hanya menerima 41 persen dari 2 miliar dolar AS yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan di Afrika Barat dan Tengah sementara badan tersebut menyatakan bahwa mereka sangat membutuhkan sekitar 453 juta dolar AS dalam enam bulan ke depan untuk terus memberikan bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa di seluruh wilayah tersebut.

“Sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menghentikan bantuan pangan,” kata David Stevenson, Direktur Negara WFP untuk Nigeria.

“Hal ini akan menyebabkan konsekuensi kemanusiaan, keamanan, dan ekonomi yang dahsyat bagi orang-orang yang paling rentan yang terpaksa meninggalkan rumah mereka untuk mencari makanan dan tempat berlindung," terang Stevenson.

Baca juga: Kelaparan Global Bisa Diatasi dengan Kurang dari 1 Persen Anggaran Militer

Solusi kemanusiaan masih mungkin dilakukan dan merupakan salah satu kekuatan penstabil terakhir yang mencegah pengungsian massal dan dampak regional.

Lebih lanjut, WFP Nigeria baru-baru ini mengumumkan tanpa pendanaan, lembaga tersebut hanya akan mampu menjangkau 72.000 orang pada bulan Februari. Itu merupakan penurunan drastis karena sebelumnya, pada 2025, lembaga ini membantu 1,3 juta orang selama musim paceklik.

Namun, tekanan terhadap layanan WFP sama sekali tidak terbatas pada Nigeria saja, badan tersebut juga memangkas jumlah orang yang direncanakan akan dibantu di negara tetangga, Kamerun, sekitar 60 persen tahun ini.

Secara lebih luas, WFP memperkirakan hanya akan mampu menjangkau sekitar setengah dari 110 juta orang yang mengalami kerawanan pangan yang awalnya direncanakan untuk dibantu pada tahun 2026, akibat pemotongan bantuan dari negara-negara kaya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau