Editor
JAKARTA, KOMPAS.com - Penguatan sistem pangan lokal yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menjaga ketahanan pangan sekaligus mencegah masalah gizi di masa depan.
Untuk itu, kalangan akademisi mendorong pengembangan sistem pangan berbasis potensi daerah yang lebih tangguh terhadap berbagai tantangan, termasuk perubahan iklim dan gangguan pasokan pangan.
Isu tersebut menjadi pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar dosen dan mahasiswa Pascasarjana Ilmu Gizi IPB bersama pemerintah daerah di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Bogor, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Tanaman Pangan Pokok Sumbang 11 Persen Deforestasi Global
Kegiatan ini merupakan bagian dari riset kolaboratif antara IPB, Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang bertujuan merumuskan model sistem pangan lokal berbasis potensi wilayah.
Ahmad Sulaeman selaku ketua tim peneliti menyatakan sistem pangan yang kuat tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan pangan, tetapi juga oleh akses masyarakat terhadap pangan, keterjangkauan harga, keamanan pangan, nilai gizi, serta keberlanjutan lingkungan.
“Pangan lokal memiliki potensi besar sebagai solusi pencegahan malnutrisi. Namun pengembangannya perlu berbasis data, melibatkan pemerintah daerah, dan mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat,” ujar dia dalam keterangan resmi.
Menurutnya, keterlibatan lintas sektor dinilai penting karena sistem pangan mencakup seluruh rantai produksi hingga konsumsi, mulai dari petani dan peternak, distribusi di pasar, hingga konsumsi di rumah tangga.
Kabupaten Bogor sendiri memiliki potensi besar di sektor pertanian, hortikultura, perikanan, dan peternakan yang dapat menjadi dasar pengembangan sistem pangan lokal yang tangguh.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih dihadapi, seperti alih fungsi lahan, fluktuasi harga pangan, distribusi yang belum merata, serta rendahnya konsumsi pangan yang beragam dan bergizi.
Baca juga: Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Dalam forum tersebut, peserta FGD juga membahas penguatan pasar lokal, pengembangan produk berbasis pangan lokal, edukasi gizi masyarakat, serta integrasi kebijakan antarinstansi.
Hasil diskusi ini akan digunakan sebagai dasar analisis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan pengembangan sistem pangan lokal berkelanjutan di Jawa Barat. Model yang dihasilkan diharapkan dapat diterapkan di daerah lain.
Para peneliti menilai penguatan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan aspek ekonomi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan masyarakat dan kesejahteraan petani.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya