KOMPAS.com - Peluang kerja baru yang berkelanjutan disebut akan banyak tercipta dari upaya menangani masalah sampah di Indonesia.
Indonesia menghasilkan 70 juta ton sampah per tahun, dengan hampir 60 persen di antaranya terbuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA), baik legal maupun ilegal, tanpa dikelola.
"Kalau kita serius mengatasi permasalahan sampah, di sini akan muncul banyak sekali green jobs (pekerjaan hijau) yang sangat dibutuhkan," ujar Founder Greeneration Indonesia & CEO Waste4Change, Mohamad Bijaksana Junerosano dalam webinar Green Jobs; Tantangan Transformasi dan Strategi Implementasi, Sabtu (14/3/2026).
Baca juga:
Foto udara Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang Bekasi, Jawa Barat, Kamis (12/2/2026). Peluang green jobs disebut akan banyak tercipta dari upaya menangani masalah sampah di Indonesia. Apa saja jenis pekerjaannya?Salah satu "syarat" green jobs adalah keselarasan dengan lingkungan. Menurut Sano, sebenarnya pekerjaan ini cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.
Isu lingkungan senantiasa beradaptasi dengan situasi terkini. Semakin kuat dorongan untuk beradaptasi, semakin membuka lebih banyak green jobs.
Apalagi, dalam konteks tujuan pembangunan berkelanjutan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 12, mengamanatkan pola produksi dan konsumsi yang bertangung jawab.
"Karena kita tidak lepas dengan sampah sehari-hari, suatu yang mustahil (kalau) kita tidak menghasilkan sampah," tutur Sano.
Untuk mengurangi beban TPA, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah sebenarnya sudah memerintahkan transisi dari ekonomi linier dengan pola kumpul-angkut-buang, menjadi ekonomi sirkular.
Transisi ke ekonomi sirkular perlu disertai dengan pemulihan sumber daya berbasis data, pemenuhan permintaan kebutuhan keterampilan hybrid, serta mengintegrasi pekerja formal-informal.
Baca juga:
Peluang green jobs disebut akan banyak tercipta dari upaya menangani masalah sampah di Indonesia. Apa saja jenis pekerjaannya?Terdapat beberapa green jobs baru sektor persampahan. Pertama, auditor waste yang menganalisis komposisi sampah dan mengidentifikasi peluang pengurangan. Pekerjaan ini memastikan sampah setiap orang dikelola secara bertanggung jawab.
Auditor waste semakin marak dicari sekarang karena banyak perusahaan membutuhkan data, mengingat pentingnya untuk mengetahui sampah yang dihasilkan berada di mana.
Kedua, circular economy consultant (konsultan ekonomi sirkular) yang merancang strategi bisnis berkelanjutan dan model ekonomi sirkular.
Pekerjaan ini banyak dicari perusahaan yang ingin bertransisi ke model bisnis ekonomi sirkular. Dengan demikian, perusahaan-perusahaan konglomerasi dengan banyak perseroan terbatas (PT) akan mencoba bertransisi ke model bisnis sirkular ekonomi.
Sampah dari berbagai PT akan dimanfaatkan anak usaha lainnya, yang memang menerapkan model bisnis sirkular ekonomi.
Pekerjaan selanjutnya adalah material recovery specialist yang mengelola pemulihan bahan berharga dari aliran sampah.
Menurut Sano, material recovery specialist semakin banyak dibutuhkan karena sampah sudah diperlakukan sebagai bahan baku.
Apalagi, saat ini Indonesia banyak berinvestasi di fasilitas Waste to Energy (WtE atau Pengelolaan Sampah jadi Energi Listrik), yang dinilai akan membuka banyak pekerjaan baru.
"Jadi, kalau mereka butuh ratusan di satu pabrik, itu berarti kalau bangun 33 udah jelas ada 3.300 waste to energy sector yang dibutuhkan," ucap Sano.
Pekerjaan keempat adalah sustainability analyst yang mengukur dampak lingkungan dan key performance indicator (KPI) keberlanjutan perusahaan.
Selanjutnya ada pekerjaan behavior change specialist yang mendorong perubahan perilaku produsen dan konsumen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya