Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Musim Kemarau di Indonesia, Ahli Ingatkan Peternak Siapkan Stok Pakan

Kompas.com, 17 Maret 2026, 09:34 WIB
Azwa Safrina,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Musim kemarau di Indonesia bisa berdampak pada sektor peternakan, khususnya terkait sumber pakan utama bagi ternak. 

Adapun musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi lebih awal yakni pada April 2026, menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). 

Baca juga:

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan, puncak musim kemarau 2026 diperkirakan terjadi pada bulan Agustus. Kekeringan diprediksi meluas secara signifikan di sebagian wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, Nusa Tenggara, dan Maluku.

Musim kemarau di Indonesia berdampak pada peternakan

Kuncinya ada pada manajemen pakan ternak

Kekeringan bisa berdampak pada sektor pertanian dan sektor peternakan nasional. Keduanya menjadi sektor penopang ketahanan pangan Indonesia.

Di ranah peternakan, kekeringan berkepanjangan bisa menyebabkan kelangkaan tanaman hijau segar (biasanya rumput), sumber pakan utama bagi ternak ruminansia.

Padahal ketersediaan hijauan segar sangat menentukan produktivitas ternak, baik dari segi pertumbuhan maupun produksi susu dan daging.

Dosen Peternakan Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR, Bodhi Agustono menjelaskan bahwa ketersediaan hijauan segar untuk ternak, seperti sapi, kambing, domba, dan ruminansia lainnya akan sangat terbatas.

“Peternak konvensional yang selama ini mengandalkan hijauan segar harus mulai beralih ke sistem semi intensif atau intensif. Kuncinya ada pada manajemen pakan,” ujar Bodhi, Senin (16/3/2026).

Baca juga:

Dua metode pengawetan pakan ternak

Metode umum, tapi belum luas diterapkan di Indonesia

Menghadapi prediksi musim kemarau di Indonesia yang ekstrem, peternak diminta mulai menabung pakan. Simak penjelasan ahli berikut ini.PIXABAY/ALEXAS_FOTOS Menghadapi prediksi musim kemarau di Indonesia yang ekstrem, peternak diminta mulai menabung pakan. Simak penjelasan ahli berikut ini.

Menurut Bodhi, salah satu strategi yang bisa dilakukan adalah mulai menyimpan stok pakan sejak musim hujan.

”Hijauan yang melimpah saat musim penghujan dapat diawetkan sehingga tetap tersedia ketika kemarau panjang tiba,” tutur dia.

Dengan cara ini, peternak tidak lagi kebingungan mencari pakan saat rumput mengering.

Ada dua metode utama pengawetan hijauan yang disarankan yaitu silase dan hay (hein).

Silase adalah metode pengawetan hijauan segar melalui proses fermentasi anaerob. Tumbuhan yang bisa digunakan oleh peternak, antara lain rumput gajah, jagung, atau tanaman berdaun hijau dengan kadar air tinggi.

Proses ini menghasilkan pakan dengan kandungan nutrisi yang relatif stabil dan bisa disimpan dalam kurun waktu lama.

Sementara itu, hay (hein) adalah metode pengeringan hijauan hingga kadar airnya rendah. Rumput lapangan atau leguminosa, salah satunya alfalfa, biasanya dijadikan bahan utama.

Dengan kadar air yang rendah, hijauan tersebut bisa disimpan berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan.

Meski metode hay dan silase sudah lama dikenal di dunia peternakan modern, Bodhi menilai masih banyak peternak di Indonesia yang belum memahami atau menerapkannya.

“Tantangan terbesar adalah minimnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam membuat silase atau hay. Padahal metode ini bisa menjadi solusi nyata menghadapi kemarau panjang,” jelas Bodhi.

Ia juga menyoroti langkah antisipasi yang bisa dilakukan pemerintah, terutama di daerah yang berpotensi mengalami kekeringan ekstrim.

”Adanya peringatan dini BMKG menjadi alarm bagi pemerintah dan dinas terkait untuk mengantisipasi kekeringan, terutama dalam hal suplai air bersih. Tidak hanya untuk ternak melainkan juga masyarakat yang terdampak langsung,” pungkas dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau