JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengakui, pihaknya belum dapat mengungkapkan pemeriksaan laboratorium sampel air Sungai Cisadane, Tangerang, Banten.
Sungai ini tercemar pestisida imbas kebakaran gudang pabrik PT Biotek Saranatama, Kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD Serpong, Blok K3 Nomor 37, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan pada Senin (9/2/2026).
"Cisadane kemarin, sampai hari ini laboratorium dari IPB belum keluar. Lab IPB ini menjelaskan tentang konsentrasi pestisida yang ada," kata Hanif di Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).
Dia menjelaskan, hasil pengujian laboratorium diperlukan untuk mengetahui konsentrasi pestisida di air sungai. Data tersebut nantinya menjadi dasar perhitungan kerugian lingkungan yang harus dibayar oleh perusahaan.
Baca juga: Tisu Basah Lepaskan Mikroplastik ke Sungai, Bahaya untuk Lingkungan
Menurut Hanif, perhitungan kerugian lingkungan dilakukan secara ilmiah dengan metode tertentu yang mengacu pada konsentrasi pencemar yang ditemukan lalu dikalikan tarif kerugian lingkungan.
"Setiap yang kami lakukan semuanya ada dasar saintifiknya. Sehingga perhitungannya tidak bisa dikurangi," tutur dia.
Kini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) masih memantau kemungkinan adanya endapan pestisida di dasar sungai.
Pengambilan sampel lanjutan dijadwalkan dilakukan pada awal bulan depan di enam titik lokasi yang sama untuk memastikan kondisi sedimentasi pencemar.
Baca juga: Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam
Selain itu, petugas bakal menmantau endapan secara berkala setiap bulannya agar bisa melihat apakah masih terdapat residu pestisida yang tertahan di sedimen sungai. Hanif lantas meminta masyarakat sekitar untun tidak mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane.
"Kalau saran saya lebih baik cari ikan di tempat lain," ucap Hanif.
Sebelumnya, KLH telah menuangkan 10.000 liter ecoenzym (eco enzyme) ke aliran Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, Minggu (8/3/2026). Hanif menyampaikan, senyawa organofosfat yang masuk ke sungai bersifat toksik bagi biota perairan, memicu kematian ikan massal sepanjang 41 kilometer hingga Teluk Naga.
Sejauh ini, KLH telah mengamankan sisa bahan kimia dari pabrik, memasang garis pengawasan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), dan menggugat pabrik secara pidana dan perdata.
Kemudian, KLH juga menyiapkan bioremediasi atau metode pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan organisme bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) jika kandungan pestisida di sungai masih tinggi.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, 2,5 ton pestisida tumpah ke Sungai Cisadane dengan luasan area pencemaran mencapai radius 22,5 kilometer.
Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, Ignasius D A Sutapa, menjelaskan, Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta menopang ekosistem perairan di wilayah padat penduduk dan industri.
“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” kata Ignasius, Jumat (13/2/2026).
Ia menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai.
Jika pestisida memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, konsentrasinya bisa bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai yang memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ikut terdampak.
Konsentrasi pestisida yang tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya