Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KLH Belum Ungkap Pemeriksaan Air Sungai Cisadane Tercemar Pestisida

Kompas.com, 17 Maret 2026, 10:08 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengakui, pihaknya belum dapat mengungkapkan pemeriksaan laboratorium sampel air Sungai Cisadane, Tangerang, Banten.

Sungai ini tercemar pestisida imbas kebakaran gudang pabrik PT Biotek Saranatama, Kawasan Pergudangan Taman Tekno BSD Serpong, Blok K3 Nomor 37, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan pada Senin (9/2/2026). 

"Cisadane kemarin, sampai hari ini laboratorium dari IPB belum keluar. Lab IPB ini menjelaskan tentang konsentrasi pestisida yang ada," kata Hanif di Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).

Dia menjelaskan, hasil pengujian laboratorium diperlukan untuk mengetahui konsentrasi pestisida di air sungai. Data tersebut nantinya menjadi dasar perhitungan kerugian lingkungan yang harus dibayar oleh perusahaan.

Baca juga: Tisu Basah Lepaskan Mikroplastik ke Sungai, Bahaya untuk Lingkungan

Menurut Hanif, perhitungan kerugian lingkungan dilakukan secara ilmiah dengan metode tertentu yang mengacu pada konsentrasi pencemar yang ditemukan lalu dikalikan tarif kerugian lingkungan.

"Setiap yang kami lakukan semuanya ada dasar saintifiknya. Sehingga perhitungannya tidak bisa dikurangi," tutur dia.

Kini, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) masih memantau kemungkinan adanya endapan pestisida di dasar sungai.

Pengambilan sampel lanjutan dijadwalkan dilakukan pada awal bulan depan di enam titik lokasi yang sama untuk memastikan kondisi sedimentasi pencemar.

Baca juga: Belajar dari Pencemaran Sungai Cisadane, Reproduksi Ikan Bisa Terancam

Selain itu, petugas bakal menmantau endapan secara berkala setiap bulannya agar bisa melihat apakah masih terdapat residu pestisida yang tertahan di sedimen sungai. Hanif lantas meminta masyarakat sekitar untun tidak mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane.

"Kalau saran saya lebih baik cari ikan di tempat lain," ucap Hanif.

Sebelumnya, KLH telah menuangkan 10.000 liter ecoenzym (eco enzyme) ke aliran Sungai Jeletreng, anak Sungai Cisadane, Minggu (8/3/2026). Hanif menyampaikan, senyawa organofosfat yang masuk ke sungai bersifat toksik bagi biota perairan, memicu kematian ikan massal sepanjang 41 kilometer hingga Teluk Naga.

Sejauh ini, KLH telah mengamankan sisa bahan kimia dari pabrik, memasang garis pengawasan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH), dan menggugat pabrik secara pidana dan perdata.

Kemudian, KLH juga menyiapkan bioremediasi atau metode pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan organisme bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) jika kandungan pestisida di sungai masih tinggi.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat, 2,5 ton pestisida tumpah ke Sungai Cisadane dengan luasan area pencemaran mencapai radius 22,5 kilometer.

Peneliti Ahli Utama Bidang Teknik Lingkungan dari Pusat Riset Limnologi dan Sumberdaya Air BRIN, Ignasius D A Sutapa, menjelaskan, Sungai Cisadane merupakan arteri vital yang menyuplai kebutuhan air baku, irigasi, serta menopang ekosistem perairan di wilayah padat penduduk dan industri.

“Selama ini, sungai tersebut memang disinyalir menghadapi persoalan pencemaran kronis dari limbah domestik, industri, dan pertanian. Namun, insiden kali ini bersifat akut karena melibatkan volume besar zat beracun yang masuk secara tiba-tiba ke badan air,” kata Ignasius, Jumat (13/2/2026).

Ia menjelaskan, penyebaran pestisida hingga 22,5 kilometer terjadi akibat mekanisme hidrodinamika sungai.

Jika pestisida memiliki kelarutan tinggi dalam air dan relatif stabil dalam lingkungan perairan, konsentrasinya bisa bertahan cukup lama untuk menyebar secara homogen sepanjang koridor sungai yang memungkinkan wilayah hilir, termasuk lokasi pengambilan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) ikut terdampak.

Konsentrasi pestisida yang tinggi dapat menyebabkan kematian massal biota air seperti ikan, zooplankton, dan fitoplankton. Insiden ikan mati mendadak kerap menjadi indikator paling jelas adanya pencemaran toksik di perairan.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau