Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tisu Basah Lepaskan Mikroplastik ke Sungai, Bahaya untuk Lingkungan

Kompas.com, 15 Maret 2026, 18:38 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Beberapa jenis tisu basah bisa terurai menjadi mikroplastik yang bisa membahayakan kehidupan di perairan, menurut studi terbaru di jurnal ACS ES&T Water.

"Tisu basah plastik merupakan sumber polusi makro dan mikroplastik di perairan kita," ujar pemimpin studi tersebut, Simran Hansra, dilansir dari Phys.org, Sabtu (14/3/2026).

Baca juga:

Tisu basah memang praktis untuk membersihkan permukaan atau kulit yang kotor. Namun, kepraktisan tersebut terkadang tidak didukung dengan beberapa merek yang tidak menunjukkan bagaimana konsumen harus membuangnya secara jelas.

Imbasnya, tisu basah sering dibuang ke toilet atau dibuang sembarangan, serta dilepaskan oleh instalasi pengolahan limbah ke perairan.

Tisu basah bisa melepaskan mikroplastik yang berbahaya

Sebagai informasi, tisu basah diciptakan pada 1950-an, awalnya untuk membersihkan kosmetik.

Selama bertahun-tahun, perusahaan memperluas pengaplikasian tisu basah. Bahkan, tisu basah menjadi kebutuhan pokok di restoran yang menyajikan makanan tertentu, seperti barbeku, hingga mengantikan tisu toilet tradisional.

Setelah dibuang ke toilet, biasanya tisu basah berakhir di instalasi pengolahan air limbah, yang mana berpotensi menyumbat pipa dan memerlukan perbaikan yang mahal.

Tisu basah juga dapat masuk ke saluran air ketika luapan air limbah gabungan melepaskan isinya setelah badai.

Beberapa tisu terbuat dari selulosa, yang cepat terurai di lingkungan. Namun, jenis tisu basah lainnya terbuat dari plastik yang bisa terurai menjadi serat mikroplastik lebih stabil dan membahayakan satwa liar di perairan.

Baca juga:

Pentingnya label tisu basah

Semua tisu basah melepaskan serat mikroskopis selama percobaan, yang menunjukkan bahwa produk itu menghasilkan mikroplastik.Unsplash/Towfiqu barbhuiya Semua tisu basah melepaskan serat mikroskopis selama percobaan, yang menunjukkan bahwa produk itu menghasilkan mikroplastik.

Para peneliti mengambil sampel Sungai Don di Toronto, Kanada, untuk mengetahui adanya polusi plastik pada tahun 2022 dan membandingkannya dengan studi mereka sebelumnya.

Hasilnya, saat ini tisu basah menjadi jenis sampah buatan yang paling banyak kedua setelah kantong plastik dalam sampel sungai. Jumlah tisu basah sekitar seperempat dari sampah yang dikumpulkan.

Dari tisu basah yang dianalisis, 99 persen plastik, 51 persen polipropilen, 48 persen poliester, dan sisany polimer lain, termasuk kapas.

Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 620 pon tisu basah mengapung di sungai pada saat mereka mengambil sampel.

Untuk memahami mengapa tisu basah dibuang ke toilet, para peneliti memeriksa label pada kotak tisu basa yang tersedia secara komersial dari toko-toko populer di Toronto dan pengecer daring populer.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
Nelayan Soroti Dampak Krisis Iklim hingga Akses Wilayah Tangkap
LSM/Figur
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
ITDC Olah 22 Ton Sampah organik Per Hari
BUMN
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Dunia Terancam Kekurangan Beras Akibat Perang Timur Tengah dan El Niño
Pemerintah
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Ini Alasan Pemprov Jakarta Belum Menindak Penjual Siomai-Bakso dari Daging Ikan Sapu-Sapu
Pemerintah
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
BPS Sebut Angka Pengangguran Turun 0,08 Persen dibanding Tahun Lalu
Pemerintah
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
Pendidikan Berkualitas untuk Semua, GNI Perkuat PAUD Inklusi di Kulon Progo
LSM/Figur
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
Mengandung Logam Berat, Efek Konsumsi Ikan Sapu-Sapu Muncul Jangka Panjang
LSM/Figur
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
IMO Pertahankan Target Net-Zero Sektor Pelayaran Meski Hadapi Penolakan
Pemerintah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
Terdeteksi Sejak 1910, Ikan Sapu-Sapu Berevolusi Akibat Sungai Ciliwung Jadi Tempat Sampah
LSM/Figur
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Studi Jelaskan Mikroplastik Bisa Perparah Pemanasan Global
Pemerintah
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Taiwan akan Perketat Aturan Polusi Udara, Pabrik Bisa Terancam Berhenti Beroperasi
Pemerintah
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z yang Baru Bekerja, Ini Alasannya
LSM/Figur
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
Memanfaatkan Limbah Kulit Kayu Eucalyptus untuk Filter Penangkap CO2
LSM/Figur
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
IUCN Puji Indonesia Berkat Konservasi Gajah dan Badak
Pemerintah
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
Teknologi Berubah, Penggunaan Nikel untuk EV Diprediksi Kurang dari 1 Persen pada 2035
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau