KOMPAS.com - Beberapa jenis tisu basah bisa terurai menjadi mikroplastik yang bisa membahayakan kehidupan di perairan, menurut studi terbaru di jurnal ACS ES&T Water.
"Tisu basah plastik merupakan sumber polusi makro dan mikroplastik di perairan kita," ujar pemimpin studi tersebut, Simran Hansra, dilansir dari Phys.org, Sabtu (14/3/2026).
Baca juga:
Tisu basah memang praktis untuk membersihkan permukaan atau kulit yang kotor. Namun, kepraktisan tersebut terkadang tidak didukung dengan beberapa merek yang tidak menunjukkan bagaimana konsumen harus membuangnya secara jelas.
Imbasnya, tisu basah sering dibuang ke toilet atau dibuang sembarangan, serta dilepaskan oleh instalasi pengolahan limbah ke perairan.
Sebagai informasi, tisu basah diciptakan pada 1950-an, awalnya untuk membersihkan kosmetik.
Selama bertahun-tahun, perusahaan memperluas pengaplikasian tisu basah. Bahkan, tisu basah menjadi kebutuhan pokok di restoran yang menyajikan makanan tertentu, seperti barbeku, hingga mengantikan tisu toilet tradisional.
Setelah dibuang ke toilet, biasanya tisu basah berakhir di instalasi pengolahan air limbah, yang mana berpotensi menyumbat pipa dan memerlukan perbaikan yang mahal.
Tisu basah juga dapat masuk ke saluran air ketika luapan air limbah gabungan melepaskan isinya setelah badai.
Beberapa tisu terbuat dari selulosa, yang cepat terurai di lingkungan. Namun, jenis tisu basah lainnya terbuat dari plastik yang bisa terurai menjadi serat mikroplastik lebih stabil dan membahayakan satwa liar di perairan.
Baca juga:
Semua tisu basah melepaskan serat mikroskopis selama percobaan, yang menunjukkan bahwa produk itu menghasilkan mikroplastik.Para peneliti mengambil sampel Sungai Don di Toronto, Kanada, untuk mengetahui adanya polusi plastik pada tahun 2022 dan membandingkannya dengan studi mereka sebelumnya.
Hasilnya, saat ini tisu basah menjadi jenis sampah buatan yang paling banyak kedua setelah kantong plastik dalam sampel sungai. Jumlah tisu basah sekitar seperempat dari sampah yang dikumpulkan.
Dari tisu basah yang dianalisis, 99 persen plastik, 51 persen polipropilen, 48 persen poliester, dan sisany polimer lain, termasuk kapas.
Para peneliti memperkirakan bahwa sekitar 620 pon tisu basah mengapung di sungai pada saat mereka mengambil sampel.
Untuk memahami mengapa tisu basah dibuang ke toilet, para peneliti memeriksa label pada kotak tisu basa yang tersedia secara komersial dari toko-toko populer di Toronto dan pengecer daring populer.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya