Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gen Z Kini Turut Awasi Janji Keberlanjutan Perusahaan

Kompas.com, 17 Maret 2026, 17:02 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber Earth com

KOMPAS.com - Sebuah studi internasional yang dipublikasikan dalam jurnal Young Consumers Insight and Ideas for Responsible Marketers mengungkapkan Generasi Z dengan cermat mengamati perilaku perusahaan terkait isu lingkungan.

Mereka, melansir Earth, Senin (16/3/2026) memperhatikan ketika perusahaan menindaklanjuti janji mereka yang terkait dengan lingkungan. Gen Z juga memperhatikan ketika pesan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.

Perusahaan dulunya memperlakukan keberlanjutan sebagai catatan sampingan dalam komunikasi perusahaan. Tapi itu telah berubah.

Kekhawatiran lingkungan, kampanye global seperti Agenda 2030 PBB, peraturan baru, dan lonjakan konsumen yang sadar iklim telah mendorong keberlanjutan ke pusat reputasi perusahaan.

Selain itu juga, kaum muda adalah alasan utama perubahan tersebut.

Baca juga: Gen Z Paling Khawatir Dampak AI, Baby Boomer Justru Percaya Diri

Gen Z yang lahir antara tahun 1995 hingga 2009, tumbuh besar dengan mendengar tentang perubahan iklim. Generasi ini sudah terbiasa melihat kebakaran hutan, cuaca ekstrem, dan debat iklim global sepanjang hidup mereka.

Itu mengapa bagi mereka, peduli lingkungan bukan lagi nilai tambah, melainkan syarat utama yang wajib dipenuhi. Hal yang dilakukan misalnya saja, bukan hanya membeli produk ramah lingkungan melainkan juga menilai perusahaan di baliknya.

Untuk mengetahui lebih lanjut, tim peneliti yang dipimpin oleh Elisenda Estanyol dari Universitat Oberta de Catalunya di Spanyol menganalisis opini 8.980 orang di enam negara. Partisipan berasal dari Spanyol, Italia, Portugal, Chili, Kolombia, dan Meksiko.

Temuan mereka menunjukkan bahwa generasi ini mengawasi perilaku perusahaan dengan saksama dan mampu membentuk opini dengan cepat.

"Hal yang paling mencolok adalah Gen Z tidaklah cuek atau masa bodoh: mereka aktif mengamati, mengukur, dan menilai perilaku perusahaan dalam hal lingkungan," ujar Estanyol.

Mereka tidak sekadar konsumsi melainkan ikut membangun reputasi sebuah merek berdasarkan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan perusahaan tersebut untuk lingkungan.

"Studi ini menunjukkan sebuah generasi yang sangat sensitif terhadap greenwashing dan siap menuntut pertanggungjawaban perusahaan ketika apa yang mereka katakan tidak sesuai dengan apa yang mereka lakukan," papar Estanyol.

Perbedaan Geografi Berpengaruh

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa geografi berpengaruh. Orang Eropa cenderung menilai perusahaan lebih keras dalam hal komitmen lingkungan.

Spanyol menonjol sebagai negara yang paling menuntut di antara negara-negara yang diteliti. Menurut Estanyol, ini disebabkan oleh beberapa faktor.

“Pertama, ada kesadaran sosial dan media yang lebih besar tentang krisis iklim. Kedua, ada tradisi ketidakpercayaan terhadap lembaga dan perusahaan besar, yang menyebabkan kaum muda mengadopsi perspektif yang lebih skeptis dan menuntut,” katanya.

Baca juga: Survei di 44 Negara: Milenial dan Gen Z Tak Cuma Peduli Gaji, tetapi Juga Sustainability

Gen Z di Spanyol tidak menganggap komitmen lingkungan sebagai hal yang biasa. Mereka menuntut bukti, transparansi dan hasil yang nyata.

Di Amerika Latin, gambaran yang berbeda terlihat. Meksiko dan Kolombia mencatat peringkat paling positif untuk upaya lingkungan perusahaan. Itu tidak serta merta berarti bisnis di sana lebih ramah lingkungan.

“Di negara-negara di mana regulasi lingkungan kurang ketat atau tekanan institusional lebih rendah, setiap upaya yang terlihat dianggap sebagai kemajuan yang signifikan,” kata Estanyol.

Estanyol mencatat bahwa keberlanjutan bukan lagi sekadar nilai tambah. Ini telah menjadi standar minimal yang diharapkan, yang menjelaskan mengapa sikap publik kini lebih kritis dan kurang pemaaf terhadap perilaku perusahaan.

Stigma Sosial Perusahaan

Ada pola lain yang terlihat jelas: beberapa industri memang sudah punya citra buruk sejak awal. Perusahaan yang bergerak di bidang rokok, judi, bahan bakar fosil, atau minuman manis biasanya langsung dapat nilai rendah dalam hal tanggung jawab lingkungan.

Sektor-sektor ini sudah punya cap negatif di mata masyarakat, dan itu memengaruhi cara orang menilai pesan lingkungan mereka.

Bukan berarti mereka tidak bisa berubah, tapi perusahaan di bidang ini memang menghadapi konsumen yang lebih kritis sejak awal.

Gender juga berpengaruh. Di setiap negara dan generasi dalam studi ini, perempuan cenderung memberikan nilai yang lebih tinggi untuk komitmen lingkungan dan reputasi perusahaan dibandingkan laki-laki.

Perbedaan ini terlihat sangat mencolok pada Generasi X dan Milenial, namun tetap terlihat jelas pada Generasi Z.

Konsumen muda itu sangat menuntut. Mereka ingin transparansi dan aksi nyata yang terukur. Namun, mereka juga bisa menghargai usaha yang tulus jika mereka melihatnya.

“Pesan untuk perusahaan jelas: Generasi Z sedang mengamati dan tidak akan memaafkan inkonsistensi,” kata Estanyol.

Ekspektasi Keberlanjutan Gen Z

Komunikasi soal lingkungan kini punya peran besar dalam cara orang menilai sebuah merek. Namun, studi ini menunjukkan bahwa sekadar kata-kata saja tidak akan mempan.

Baca juga: Gen Z Bisa Bergerak Lawan Krisis Iklim, Jangan Sampai Jadi Lost Generation

Perusahaan butuh data jelas yang menunjukkan kemajuan nyata. Klaim yang samar-samar atau sekadar slogan pemasaran justru malah membuat orang curiga.

Pesan yang disampaikan juga harus sesuai dengan audiens yang berbeda-beda. Harapan soal keberlanjutan lingkungan itu bervariasi di tiap negara dan kelompok sosial. Cara komunikasi yang berhasil di satu wilayah, bisa jadi tidak mempan di wilayah lain.

Gen Z juga mengharapkan adanya interaksi. Platform digital memberi ruang bagi konsumen muda untuk bertanya pada perusahaan, meragukan klaim mereka, dan menuntut penjelasan.

Perusahaan yang cuma sekadar bicara tanpa mau mendengarkan berisiko kehilangan kepercayaan. Yang terpenting, tindakan harus sejalan dengan ucapan.

"Bagi Gen Z, melakukan hal yang benar akan membuahkan reputasi yang baik, tapi melakukan hal buruk akan langsung terasa dampaknya," tambah Estanyol.

Merek kini berhadapan dengan logika hadiah atau hukuman, di mana keselarasan dalam isu lingkungan berpengaruh langsung pada kepercayaan, reputasi, dan pengakuan sosial. Tidak cukup hanya bicara soal keberlanjutan, itu harus dibuktikan terus-menerus.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau