KOMPAS.com - Studi terbaru menemukan risiko penyakit kronis akan meningkat secara global pada 2050, seiring dengan berkurangnya aktivitas fisik masyarakat karena pemanasan global.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Lancet Global Health, tim peneliti menganalisis data 156 negara antara tahun 2000 hingga 2022.
Mereka membuat model untuk mengetahui bagaimana kenaikan suhu dapat memengaruhi aktivitas fisik dalam kurun 20 tahun yang akan datang. Hasilnya menunjukkan, setiap berganti bulan dengan suhu rata-rata di atas 27,8 derajat celsius akan meningkatkan kurangnya aktivitas fisik sebesar 1,5 poin.
Baca juga: Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon
Angka yang lebih tinggi mencapai 1,85 poin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.
"Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker tertentu, dan gangguan kesehatan mental, yang semuanya memperpendek harapan hidup," ungkap penulis utama studi, Christian García-Witulski dilansir dari The Guardian, Selasa (17/3/2026).
Peningkatan terbesar dalam kurangnya aktivitas fisik diproyeksikan terjadi di wilayah yang lebih panas mencakup Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara khatulistiwa.
Garcia Witulski menyebut, negara-negara yang terdampak perubahan iklim seringkali merupakan tempat dengan sumber daya lebih sedikit untuk beradaptasi.
“Di lingkungan di mana orang memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pendingin ruangan, lebih sedikit alternatif tempat berlindung yang aman di dalam ruangan, dan kurangnya fleksibilitas dalam jadwal harian mereka, panas tampaknya lebih mungkin menyebabkan penurunan aktivitas fisik,"ucap dia.
Baca juga: Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat
Dia menambahkan, minimnya aktivitas fisik menjadi masalah kesehatan global. Setidaknya, 5 persen kematian orang dewasa di dunia diakibatkan faktor tersebut.
Studi turut memperkirakan melonjaknya masyarakat yang kurang berolahraga menyebabkan setengah juta kematian dini tambahan setiap tahunnya, ditambah kerugian produktivitas sebesar 2,4 miliar-3,68 miliar dollar AS (Rp40,7 triliun-Rp62,5 triliun) di tahun 2050.
Para peneliti memprediksi peningkatan minimnya olahraga di kalangan wanita, yang dapat mencerminkan perbedaan fisiologis serta faktor sosial, seperti kurangnya waktu dan akses ke tempat-tempat sejuk untuk berolahraga.
Temuan ini merupakan proyeksi hasil pemodelan berdasarkan survei aktivitas yang dilaporkan sendiri dan tidak memperhitungkan dampak iklim lainnya seperti curah hujan ekstrem, banjir, dan siklon tropis.
Para peneliti mengatakan bahwa hasil penelitian mengungkap aktivitas fisik harus diperlakukan sebagai isu kesehatan masyarakat yang peka terhadap iklim, bukan hanya pilihan gaya hidup individu.
Baca juga: DLH DKI Jakarta: Polusi Udara Jakarta 2019–2025 Lampaui Baku Mutu
“Tetap aktif di dunia yang memanas tidak hanya bergantung pada motivasi pribadi, tetapi juga pada desain perkotaan, infrastruktur, dan akses ke informasi yang andal. Secara praktis, kebijakan aktivitas fisik yang tahan terhadap perubahan iklim adalah kebijakan yang membantu orang tetap aktif dengan aman bahkan dalam kondisi yang lebih panas,” tutur García-Witulski.
Hal itu mencakup merancang kota yang lebih sejuk dengan memperluas tutupan pohon dan jaringan peneduh di jalan-jalan dan taman, dan menyediakan tempat ber-AC yang terjangkau untuk berolahraga.
Selain itu, diperkukan pemberian saran yang jelas tentang cara tetap aman dalam cuaca panas ekstrem, serta pengurangan emisi gas rumah kaca yang ambisius.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya