Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pemanasan Global Bikin Masyarakat Kurang Bergerak, Risiko Penyakit Kronis Naik

Kompas.com, 17 Maret 2026, 12:21 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru menemukan risiko penyakit kronis akan meningkat secara global pada 2050, seiring dengan berkurangnya aktivitas fisik masyarakat karena pemanasan global.

Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Lancet Global Health, tim peneliti menganalisis data 156 negara antara tahun 2000 hingga 2022.

Mereka membuat model untuk mengetahui bagaimana kenaikan suhu dapat memengaruhi aktivitas fisik dalam kurun 20 tahun yang akan datang. Hasilnya menunjukkan, setiap berganti bulan dengan suhu rata-rata di atas 27,8 derajat celsius akan meningkatkan kurangnya aktivitas fisik sebesar 1,5 poin.

Baca juga: Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon

Angka yang lebih tinggi mencapai 1,85 poin di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

"Kurangnya aktivitas fisik meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker tertentu, dan gangguan kesehatan mental, yang semuanya memperpendek harapan hidup," ungkap penulis utama studi, Christian García-Witulski dilansir dari The Guardian, Selasa (17/3/2026).

Peningkatan terbesar dalam kurangnya aktivitas fisik diproyeksikan terjadi di wilayah yang lebih panas mencakup Amerika Tengah, Karibia, Afrika sub-Sahara bagian timur, dan Asia Tenggara khatulistiwa.

Garcia Witulski menyebut, negara-negara yang terdampak perubahan iklim seringkali merupakan tempat dengan sumber daya lebih sedikit untuk beradaptasi.

“Di lingkungan di mana orang memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pendingin ruangan, lebih sedikit alternatif tempat berlindung yang aman di dalam ruangan, dan kurangnya fleksibilitas dalam jadwal harian mereka, panas tampaknya lebih mungkin menyebabkan penurunan aktivitas fisik,"ucap dia.

Baca juga: Panas Ekstrem di Indonesia, Suhu Tertinggi Capai 37 Derajat

Picu Lonjakan Kematian 

Dia menambahkan, minimnya aktivitas fisik menjadi masalah kesehatan global. Setidaknya, 5 persen kematian orang dewasa di dunia diakibatkan faktor tersebut.

Studi turut memperkirakan melonjaknya masyarakat yang kurang berolahraga menyebabkan setengah juta kematian dini tambahan setiap tahunnya, ditambah kerugian produktivitas sebesar 2,4 miliar-3,68 miliar dollar AS (Rp40,7 triliun-Rp62,5 triliun) di tahun 2050.

Para peneliti memprediksi peningkatan minimnya olahraga di kalangan wanita, yang dapat mencerminkan perbedaan fisiologis serta faktor sosial, seperti kurangnya waktu dan akses ke tempat-tempat sejuk untuk berolahraga.

Temuan ini merupakan proyeksi hasil pemodelan berdasarkan survei aktivitas yang dilaporkan sendiri dan tidak memperhitungkan dampak iklim lainnya seperti curah hujan ekstrem, banjir, dan siklon tropis.

Para peneliti mengatakan bahwa hasil penelitian mengungkap aktivitas fisik harus diperlakukan sebagai isu kesehatan masyarakat yang peka terhadap iklim, bukan hanya pilihan gaya hidup individu.

Baca juga: DLH DKI Jakarta: Polusi Udara Jakarta 2019–2025 Lampaui Baku Mutu

“Tetap aktif di dunia yang memanas tidak hanya bergantung pada motivasi pribadi, tetapi juga pada desain perkotaan, infrastruktur, dan akses ke informasi yang andal. Secara praktis, kebijakan aktivitas fisik yang tahan terhadap perubahan iklim adalah kebijakan yang membantu orang tetap aktif dengan aman bahkan dalam kondisi yang lebih panas,” tutur García-Witulski.

Hal itu mencakup merancang kota yang lebih sejuk dengan memperluas tutupan pohon dan jaringan peneduh di jalan-jalan dan taman, dan menyediakan tempat ber-AC yang terjangkau untuk berolahraga. 

Selain itu, diperkukan pemberian saran yang jelas tentang cara tetap aman dalam cuaca panas ekstrem, serta pengurangan emisi gas rumah kaca yang ambisius.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Jelang Kemarau, Kemendagri Peringatkan Risiko Terulangnya Krisis Polusi Udara 2023 di Jabodetabek
Jelang Kemarau, Kemendagri Peringatkan Risiko Terulangnya Krisis Polusi Udara 2023 di Jabodetabek
Pemerintah
Pemanasan Global Bikin Masyarakat Kurang Bergerak, Risiko Penyakit Kronis Naik
Pemanasan Global Bikin Masyarakat Kurang Bergerak, Risiko Penyakit Kronis Naik
LSM/Figur
DLH DKI Jakarta: Polusi Udara Jakarta 2019–2025 Lampaui Baku Mutu
DLH DKI Jakarta: Polusi Udara Jakarta 2019–2025 Lampaui Baku Mutu
Pemerintah
Cerita Pekerja IT di Indonesia Hadapi AI, Aktif Kejar Sertifikasi
Cerita Pekerja IT di Indonesia Hadapi AI, Aktif Kejar Sertifikasi
LSM/Figur
KLH Belum Ungkap Pemeriksaan Air Sungai Cisadane Tercemar Pestisida
KLH Belum Ungkap Pemeriksaan Air Sungai Cisadane Tercemar Pestisida
Pemerintah
Waspada Musim Kemarau di Indonesia, Ahli Ingatkan Peternak Siapkan Stok Pakan
Waspada Musim Kemarau di Indonesia, Ahli Ingatkan Peternak Siapkan Stok Pakan
LSM/Figur
Babak Baru Kasus Banjir Sumatera, KLH Izinkan PT Agincourt Beroperasi Lagi
Babak Baru Kasus Banjir Sumatera, KLH Izinkan PT Agincourt Beroperasi Lagi
Pemerintah
Waktu Sehari di Bumi Ternyata Makin Lama akibat Krisis Iklim
Waktu Sehari di Bumi Ternyata Makin Lama akibat Krisis Iklim
LSM/Figur
Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon
Cara Perusahaan Hadapi Panas Ekstrem, Pentingnya Investasi Mitigasi dan Kredit Karbon
Swasta
Dorong Swasembada Energi, Tsingshan Group Hibahkan 2 PLTS ke Masyarakat Madura
Dorong Swasembada Energi, Tsingshan Group Hibahkan 2 PLTS ke Masyarakat Madura
Swasta
Kantong Teh Celup Lepaskan Miliaran Partikel Plastik Selama Diseduh
Kantong Teh Celup Lepaskan Miliaran Partikel Plastik Selama Diseduh
LSM/Figur
Konsep Daun, Cara Masyarakat NTT Paham Daerah Aliran Sungai
Konsep Daun, Cara Masyarakat NTT Paham Daerah Aliran Sungai
Pemerintah
Nilam, Harapan, dan Mimpi Besar Aceh Jadi Kota Parfum Kedua setelah Grasse Prancis
Nilam, Harapan, dan Mimpi Besar Aceh Jadi Kota Parfum Kedua setelah Grasse Prancis
LSM/Figur
Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah
Inpres Baru Presiden Prabowo Akan Wajibkan Perusahaan Jaga Habitat Gajah
Pemerintah
Astra Financial Jalankan Inisiatif Program Kesehatan, Jangkau 13.000 Penerima Manfaat
Astra Financial Jalankan Inisiatif Program Kesehatan, Jangkau 13.000 Penerima Manfaat
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau