Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
PERANG selalu meninggalkan duka. Namun kali ini, di tengah asap dan puing-puing di Timur Tengah, tersimpan lapisan tragedi lain yang lebih senyap, tapi tak kalah mengancam: luka ekologis yang akan diwariskan lintas generasi.
Dalam dua pekan konflik Iran, jejak karbon yang terlepas ke atmosfer disebut setara dengan emisi tahunan 84 negara. Ini bukan sekadar perang antarmanusia, melainkan perang terhadap masa depan bumi itu sendiri.
Perang Iran, meski terasa lama dalam liputan media, baru mulai memperlihatkan dampak nyatanya.
Namun bagi Asia, situasi di Teluk telah terasa lebih kritis sejak awal. Sekitar 84 persen minyak yang melintasi Selat Hormuz—jalur pelayaran paling vital dunia—berlabuh ke pelabuhan-pelabuhan Asia.
Di kawasan yang selama ini bergantung pada energi Timur Tengah, konflik ini menjadi ujian berat bagi ketahanan energi sekaligus stabilitas geopolitik.
Dampaknya nyata dan berlapis. Di Asia Selatan, India, Pakistan, hingga Bangladesh menghadapi penghematan bahan bakar hingga kelangkaan gas minyak cair (LPG).
Kiriman uang dari jutaan pekerja migran di Teluk yang mencapai miliaran dolar AS pun terancam.
Baca juga: Jika Perang Timur Tengah Berakhir, Apakah Ekonomi Indonesia Otomatis Pulih?
Di Asia Tenggara, dari Kamboja hingga Filipina, dampak terasa dari penutupan sementara ribuan SPBU hingga kebijakan kerja dari rumah untuk menghemat energi.
Krisis ini tak hanya menguji ketahanan infrastruktur energi, tetapi juga solidaritas sosial dan ketangguhan ekonomi rumah tangga.
Bagi negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, situasi ini menghadirkan dilema politik yang rumit. Keduanya sangat bergantung pada minyak Teluk, tapi di sisi lain memiliki hubungan sekutu erat dengan Amerika Serikat yang meminta keterlibatan di Selat Hormuz.
Jepang, misalnya, harus berhati-hati. Meskipun menjanjikan dukungan, konstitusi pascaperang yang disusun Amerika Serikat membatasi pengerahan pasukan ke luar negeri.
Dilema ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan energi sering kali merambat menjadi kompleksitas politik yang tak mudah diurai.
Di tengah semua itu, China hadir dengan strategi berbeda. Beijing memanfaatkan kelengahan AS untuk menawarkan “keamanan energi” kepada sejumlah negara di kawasan, sembari memperluas pengaruh politik.
Ada pula spekulasi bahwa konflik ini secara tidak langsung menjadi upaya menekan pasokan energi China, meski hal itu masih diperdebatkan.
Yang jelas, perang ini telah mengubah peta kepentingan di Asia, dan ketidakpastian menjadi satu-satunya hal yang pasti.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya