Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agus Supangat
Ilmuwan Senior di Pusat Perubahan Iklim, ITB

Sebagai penulis yang juga dikenal lewat SEGORO 21 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/segoro-21 (OKE) ANOS 2070 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/oke-anos-2070 BUMI MERDEKA : ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/bumi-merdeka-antartika JALAN JALAN KE ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/jalan-jalan-ke-antartika Namun saya tetap menulis, tanpa lelah, dengan keyakinan sederhana: kata² dapat membuka jalan alternatif—cara lain memandang dunia, bukan sebagai sumber daya mati, melainkan sebagai entitas hidup yang penuh misteri.

Ketika Perang Memanaskan Bumi

Kompas.com, 26 Maret 2026, 13:27 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERANG selalu meninggalkan duka. Namun kali ini, di tengah asap dan puing-puing di Timur Tengah, tersimpan lapisan tragedi lain yang lebih senyap, tapi tak kalah mengancam: luka ekologis yang akan diwariskan lintas generasi.

Dalam dua pekan konflik Iran, jejak karbon yang terlepas ke atmosfer disebut setara dengan emisi tahunan 84 negara. Ini bukan sekadar perang antarmanusia, melainkan perang terhadap masa depan bumi itu sendiri.

Perang Iran, meski terasa lama dalam liputan media, baru mulai memperlihatkan dampak nyatanya.

Namun bagi Asia, situasi di Teluk telah terasa lebih kritis sejak awal. Sekitar 84 persen minyak yang melintasi Selat Hormuz—jalur pelayaran paling vital dunia—berlabuh ke pelabuhan-pelabuhan Asia.

Di kawasan yang selama ini bergantung pada energi Timur Tengah, konflik ini menjadi ujian berat bagi ketahanan energi sekaligus stabilitas geopolitik.

Dampaknya nyata dan berlapis. Di Asia Selatan, India, Pakistan, hingga Bangladesh menghadapi penghematan bahan bakar hingga kelangkaan gas minyak cair (LPG).

Kiriman uang dari jutaan pekerja migran di Teluk yang mencapai miliaran dolar AS pun terancam.

Baca juga: Jika Perang Timur Tengah Berakhir, Apakah Ekonomi Indonesia Otomatis Pulih?

Di Asia Tenggara, dari Kamboja hingga Filipina, dampak terasa dari penutupan sementara ribuan SPBU hingga kebijakan kerja dari rumah untuk menghemat energi.

Krisis ini tak hanya menguji ketahanan infrastruktur energi, tetapi juga solidaritas sosial dan ketangguhan ekonomi rumah tangga.

Bagi negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, situasi ini menghadirkan dilema politik yang rumit. Keduanya sangat bergantung pada minyak Teluk, tapi di sisi lain memiliki hubungan sekutu erat dengan Amerika Serikat yang meminta keterlibatan di Selat Hormuz.

Jepang, misalnya, harus berhati-hati. Meskipun menjanjikan dukungan, konstitusi pascaperang yang disusun Amerika Serikat membatasi pengerahan pasukan ke luar negeri.

Dilema ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan energi sering kali merambat menjadi kompleksitas politik yang tak mudah diurai.

Di tengah semua itu, China hadir dengan strategi berbeda. Beijing memanfaatkan kelengahan AS untuk menawarkan “keamanan energi” kepada sejumlah negara di kawasan, sembari memperluas pengaruh politik.

Ada pula spekulasi bahwa konflik ini secara tidak langsung menjadi upaya menekan pasokan energi China, meski hal itu masih diperdebatkan.

Yang jelas, perang ini telah mengubah peta kepentingan di Asia, dan ketidakpastian menjadi satu-satunya hal yang pasti.

Namun, di balik goncangan pasokan dan harga energi, ada dimensi lain yang tak kalah penting dan sering luput dari sorotan: konflik bersenjata adalah mesin perusak iklim yang luar biasa dahsyat.

Amerika Serikat dan Israel mengklaim aksi militernya sebagai langkah menjaga keamanan kawasan.

Namun dalam 14 hari pertama konflik, perang ini melepaskan sekitar 5 juta ton karbon dioksida—setara emisi tahunan 84 negara kecil.

Baca juga: Mengais Klaim Kemenangan Perang di Atas Reruntuhan

Ironi besar terjadi: bahan bakar fosil yang menjadi sumber konflik justru menjadi bahan bakar perang itu sendiri.

Pesawat tempur AS terbang ribuan kilometer, membakar ratusan juta liter bahan bakar, untuk menyerang infrastruktur minyak. Ini lingkaran setan geopolitik yang tak berkesudahan.

Yang lebih mencemaskan, ketika bom menghancurkan bangunan, membakar kilang minyak, dan meluluhlantakkan alutsista, karbon yang terlepas akan bertahan di atmosfer selama berabad-abad.

Korban perang ini bukan hanya mereka yang gugur di medan tempur, tetapi juga setiap anak di dunia yang mewarisi atmosfer yang lebih panas.

Seperti diingatkan peneliti Fred Otu-Larbi, “Membakar emisi tahunan Islandia dalam dua minggu adalah sesuatu yang sungguh tidak mampu kita tanggung.” Perang bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga bunuh diri ekologis.

Secara historis, setiap guncangan energi yang dipicu Amerika Serikat kerap diikuti lonjakan pengeboran minyak baru, terminal LNG baru, dan ekspansi infrastruktur fosil.

Alih-alih menjadi momentum peralihan ke energi terbarukan, krisis justru memperkuat kecanduan lama.

Patrick Bigger, peneliti kebijakan iklim, mengingatkan bahwa pola ini menunjukkan bagaimana kepentingan fosil masih begitu dalam membelenggu logika keamanan global.

Refleksi terbesar dari perang ini adalah bahwa keamanan nasional tak bisa dipisahkan dari keamanan iklim.

Baca juga: Krisis Hormuz dan Geoekonomi Helium Qatar

Bagi Indonesia, pesan ini bukan sekadar abstraksi geopolitik. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, ketahanan energi dan stabilitas iklim adalah dua sisi dari mata uang yang sama.

Ketergantungan pada impor bahan bakar fosil, ditambah kerentanan terhadap kenaikan permukaan air laut dan cuaca ekstrem, menempatkan Indonesia dalam posisi yang tak kalah rapuh dari negara-negara Asia Selatan maupun Timur.

Ketika konflik di Teluk mengguncang harga minyak dunia, guncangan itu langsung beresonansi ke anggaran negara, daya beli masyarakat, hingga subsidi energi yang membebani fiskal.

Namun yang lebih mendasar, pengalaman ini mengingatkan bahwa keamanan nasional tak akan pernah kokoh jika dibangun di atas fondasi sumber daya yang tak hanya terbatas, tetapi juga menjadi pangkal konflik itu sendiri.

Maka, mempercepat transisi energi bukan lagi sekadar komitmen moral terhadap perjanjian iklim global, melainkan langkah strategis untuk membebaskan diri dari jeratan geopolitik yang tak pernah ramah bagi negara berkembang.

Selama kebijakan luar negeri masih didikte oleh kepentingan bahan bakar fosil, selama itu pula perang dan krisis iklim akan terus saling memakan.

Asia, yang paling rentan terhadap guncangan energi, memiliki kepentingan besar untuk mendorong perubahan.

Ketergantungan pada satu kawasan dan satu jalur pelayaran sempit adalah risiko yang tak boleh dibiarkan berlarut.

Perang AS-Israel terhadap Iran bukan sekadar konflik regional. Ia adalah cermin buram peradaban: kita membakar bumi untuk menguasai sumber daya yang membakar bumi, sambil membiarkan korban jiwa dan iklim bertumpuk tanpa keadilan.

Jika krisis iklim adalah medan perang terbesar umat manusia, maka setiap rudal yang diluncurkan adalah peluru yang ditembakkan ke kaki kita sendiri.

Maka, sudah saatnya kita menuntut ulang makna “keamanan”. Bukan yang diperoleh dari pangkalan militer di negeri orang, tetapi yang lahir dari komitmen bersama untuk menjaga planet yang layak huni.

Bagi Asia, ini bukan sekadar pilihan moral, tetapi keniscayaan strategis.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Indonesia Perkuat Pasar Karbon Berintegritas Tinggi
Pemerintah
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
Bahaya Kabut Asap, Risiko Tinggi Menanti Indonesia dan Negara Tetangga
LSM/Figur
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Investasi Swasta untuk Kelestarian Alam Naik Lima Kali Lipat dalam 10 Tahun
Pemerintah
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Atasi Dampak Buruk Pusat Data, Kota-kota di Dunia Sepakati Perjanjian Global
Pemerintah
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
Pemadaman Listrik Berulang di Sumatera, IESR Waspadai Risiko El Nino
LSM/Figur
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Inisiatif Bupati Morowali Hadapi Tantangan Industri Nikel
Pemerintah
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Anggaran Lingkungan Daerah Terbukti Tekan Polusi Udara, Ini Risetnya
Pemerintah
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Kemhut Revisi Aturan, Peran Kesatuan Pengelolaan Hutan Bakal Diperkuat
Pemerintah
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Sektor ESG dan Ekosistem Karbon Jadi Magnet Baru Investasi Strategis
Swasta
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Tak Lagi Bebas Flu Burung H5, Australia Kini Darurat Satwa Liar
Pemerintah
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau